Home / DWIDJO / Suk Nek Ono Rejaning Zaman

Suk Nek Ono Rejaning Zaman

Api Cinta di Kaki Menoreh (5)
Oleh: Kangtomo Surosetiko

Madsani mengikuti saja apa kehendak leluhurnya, menghilangkan predikat sebagai kerabat kerajaan. Masalahnya hanya satu untuk tidak menjadi beban di kemudian hari.  Agar anak cucunya dapat menjalani kehidupan secara normal sebagaimana masyarakat kebanyakan.  Prakiraan para leluhurnya predikat yang melekat hanya akan memberatkan sepak terjang dalam kehidupan sehari-hari di alam nyata. 

“Wis tekan sak mene wae,” Madsani menirukan kakek buyutnya yang konon melarikan diri dari kraton untuk dapat hidup layak sebagaimana rakyat kebanyakan. Hidup sebagai rakyat biasa merupakan harapan leluhur Matsani, bercocok tanam dan makan dari hasil ladang sendiri. Terasa kenikmatan yang luar biasa.

Madsani menjadi kelangan obor, kehilangan pintu masuk ke kraton. Sebab nenek buyutnya mengambil kesimpulan segera untuk menjadi keluarga biasa saja. Tidak menjadi keluarga kerajaan, tidak menjadi sentono ndalem. Kakek buyutnya sudah memperhitungkan akan perkembangan yang terjadi di sekitar kraton dan masyarakatnya.

“Suk nek ono rejaning zaman,” Madsani menirukan biyungnya yang mendapat cerita kakek buyutnya. Zaman akan berubah, berkembang dan mengikuti dinamika masyarakatnya. Suatu saat nanti masyarakat akan menemukan kehidupan yang lebih baik. Masyarakat akan mendapatkan tatanan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin.

Sesekali terpikir dalam benaknya, kenapa kakek buyutnya meninggalkan kraton. Apa sesungguhnya yang melatarbelakangi sehingga keputusan diambil melarikan diri dan menjadi rakyat kebanyakan. Ada penyesalan mengapa kakek buyut dan leluhurnya meninggalkan kraton. Meski akhirnya dipahami betapa kehidupan kraton tidak seluruhnya indah seperti tampak terlihat dari luar tembok tinggi.

Dalam benak membenarkan keputusan para leluhurnya. Ketika zaman berubah, masyarakat juga membutuhkan sejumlah perubahan. Demikian halnya dengan perubahan masyarakat aristokrat menjadi masyarakat egeliter.

Masyarakat memahami kehidupan yang berubah. Masyarakat menghendaki adanya perubahan mendasar, termasuk struktur masyarakat. Bangunan yang tersekat-sekat budaya dihilangkan, termasuk bangunan aristokrasi di masyarakat borjuis.  Manusia hakikatnya sama, semua manusia dari leluhur yang sama. Nenek moyang manusia sesungguhnya satu dan beranak pinak menjadi banyak. Sangat banyak seiring perjalanan waktu.

“Negoro lagi kontrang-kantringan,” Madsani mengulangi pikirannya yang menerawang jauh di masa silam ketika mbah buyutnya masih tinggal sebagai sentono dalem. Tentu kehidupan tidak akan sesusah seperti sekarang. Akan banyak cita-cita yang dapat dicapai meski harus hidup di tengah-tengah masyarakat kraton.

Kini ketika kehidupan masyarakat menjadi termarjinalkan. Semua menjadi susah. Masyarakat tempat tinggal Madsani dan keluarga baru yang dibangun Matsani mengalami susah yang sama. Kurang sandang, kurang pangan menjadi pemandangan lumrah.

Makan nasi dengan lauk menjadi hal istimewa. Sering kali bahkan makan sayur dengan lauk nasi. Saking banyaknya sayur dan terlalu sedikit nasi yang harus dimakan. Makan dua kali sehari juga menjadi luar biasa, karena sering kali hanya makan sekali dalam sehari. Selebihnya makan makanan yang berasal dari ladang. Kadang ketemu ubi, sering makan ganyong, garut atau bahkan suweg. (BERSAMBUNG)

About redaksi

Check Also

Merapi Mulai Batuk, Warga Siaga Ngungsi

Klaten, Koranpelita.com Status erupsi gunung Merapi yang berubah menjadi status siaga membuat warga sekitar gunung  …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *