Home / KANGBARNO / Sejak jadi Camat Kokap, Najan Prei, Pak W tetap Blusukan

Sejak jadi Camat Kokap, Najan Prei, Pak W tetap Blusukan

Sejak dilantik menjadi Camat Kokap, 9 April 2018, Warsidi sudah langsung blusukan ke tengah masyarakat di Kecamatan Kokap. Ia memang bukan tipe pemimpin yang banyak duduk di kantor.

Hari ini misalnya, Pak Camat blusukan mulai dari bekas tambang Mangaan di Kliripan hingga desa wisata Lembah Kedung Luweng. Di tambang Mangaan, Warsidi bertemu dengan Pak Widodo, tokoh masyarakat setempat yang berharap bisa menjadikan bekas tambang sebagai destinasi wisata sejarah.

Pemimpin murah senyum dan merakyat ini juga tidak pernah membedabeda-bedakan dengan  siapapun dalam bergaul. Ia dengan mudah, membaur dengan semua kalangan, sehingga memiliki banyak relasi dan jaringan. Keramahannya, juga membuat pria yang kini tinggal di Dusun Bujidan Desa Tawangsari Kecamatan Pengasih ini, selalu ingin dipanggil dengan sebutan Pak W.

Keramahan, kerja keras, serta dekat dengan masyarakat, sepertinya sudah menjadi ciri pejabat yang merintis karir dari bawah ini. Perjalanan Warsidi seorang abdi negeri dan abdi masyarakat, juga dilandasi ciri kesederhanaan. Sebuah sikap hidup yang diterapkan dalam sehari-hari.

Bapak berputra dua dan bercucu tiga (salah satunya kembar) itu, sudah membiasakan hidup sederhana sejak kecil, selain melatih diri mandiri. Padahal, orang tuanya termasuk berada di lingkungan masyarakatnya.

Kesederhanaan dan kemandirian itu, menurutnya, sudah dibangun sejak masih kanak-kanak. Misalnya saja, semenjak duduk di kelas 1 SD, berangkat dan pulang sekolah cukup jalan kaki dengan jarak tempuh 7 km.

Kemudian, saat Warsidi masuk SMP,  setiap hari libur jual koran dan majalah di Stasiun Wates. Itu dijalani dari kelas 1 sampai kelas 2 di tahun 1974 sampai tahun 1976. Tujuannya, guna mencukupi kebutuhan alat-alat sekolah.

Setelah mulai dewasa, ketika sudah sekolah di tingkat SLTA, Warsidi semakin rajin bekerja. Setiap pulang sekolah, ia menjadi pengangkut atau loper kelapa. Mengangkut kelapa dengan sepeda ontel, ia ikut membesarakan usaha dagang orangtuanya itu.

 

Tidak hanya bekerja sebagai loper kelapa di tempat usaha orangtuanya, karena jika waktunya ngeloper selesai, Warsidi masih sempat menjadi tukang ojek. Motornyaadalah yamaha l2 tahun 1975.

“Hidup memang harus sederhana, terus saling membantu sesama. Kalau sudah begitu, hidup akan terasa lebih enak dan bermanfaat,” jelas Pak W yang setiap hari berangkat ke kantor kecamatan  naik Yamaha autolobe alias Yamaha bebek 75.

Motor tua itulah saksi hidup perjalanan karir Warsidi, sejak kuliah hingga sekarang  menjadi  Camat Kokap.(pjs/mg)

About redaksi

Check Also

4 Ketua Paguyuban di DIY akan Hadiri Wayangan Sahabat Ngopi & KPDJ  

Tokoh-tokoh perantau dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memastikan menjadi bagian dari 20 orang undangana khusus, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *