Home / KANGBARNO / Sabtu 18 Juni 2022 Ojo Lali Nonton Konser nang Kopi Thiwul

Sabtu 18 Juni 2022 Ojo Lali Nonton Konser nang Kopi Thiwul

Patanutra band, kelompok musik yang personilnya para difabel, siap menghibur masyarakat Kulon Progo, Sabtu dua minggu lagi, 18 Juni 2022. Event menarik ini, akan digelar di Kopi Thiwul 87 di Kalimenur, Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo.

“Monggo wangsul Kulon Progo sareng poro kadhang perantau  saking Sahabat Ngopi Kulon Progo (SNKP) soho Sedulur NKS,  mirsani konser,” demikian ajakan Mbah Yatno Alimonsa, salah seorang penggagas Sahabat Ngopi Kulon Progo (SNKP).

Kembali, komunitas peraantau Kulon Progo yang tergabung dalam Sahabat Ngopi Kulon Progo (SNKP) bekerjasama dengan forum diskusi Sedulur NKS, menggelar acara menarik. Bertajuk Nonton Kiprah Seniman, acara akan digelar di dua tempat, Kopi Thiwul 87 Kalimenur, Sukoreno, Sentolo dan Sanggar Seni Sripanglaras, Pripih, Kokap Kulon Progo.

Harinya pas hari libur, Sabtu malam Minggu, 18 Juni 2022 dan Minggu pagi, 19 Juni 2022. “Hari Sabtu malam, kita menggelar konser di Kopi Thiwul 87. Menampilkan musisi-musisi muda yang sangat berbakat. Mereka adalah seniman difabel Kulon Progo yang memiliki potensi bagus,” jelas Mbah Yatno.

Setelah menggelar live musik pada malam Minggu, acara akan berlanjut pagi hari dengan mementaskan seni Kuda Lumping Sripanglaras. Tempatnya di sanggar yang berada di kawasan Pripih, Kapenewon Kokap.

Untuk live musik di Kopi Thiwul 87, acara dimulai pukul 19.00 WIB. Konser ini, dipastikan menjadi sajian yang menyenangkan. Sebab, meski pemusik dan penyanyinya anak-anak muda berkebutuhan khusus, tapi kualitas bermusiknya sangat kuat. Mereka juga bukan tidak punya pengalaman, karena setiap akhir pekan, selalu tapil di Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) yang berada di Temon, Kulon Progo.

Para seniman ini, bukan hanya memiliki kemapuan memainkan alat musik modern, karena mereka juga dikenal sebagai seniman tradisi yang tergabung dalam Sanggar Sripanglaras. Bagi pecinta seni, sanggar ini juga sudah kondang. Salah satunya karena menghimpun seniman berkebutuhan khusus berkreasi lewat seni Angguk dan Encling.

“Khusus yang akan konser di Kopi Thiwul 87 nanti, memilik pengalaman yang lebih luas. Sebab, setiap minggu mereka, tampil menyambut para tamu yang baru turun dari pesawat. Jadi, kemampuan musik mereka sudah teruji, sebab, tidak  mudah bisa tampil di bandara kelas internasional. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga buat teman-teman difabel,” tambah Mbah Yatno yang alumni SMAN 2 Bendungan, Wates.

Tempat konser malam Minggu nanti, menurut Mbah Yatno, juga sangat representatif. Kopi Thiwul 87 bukan hanya menyediakan menu ramah kantong, tapi juga area yang luas. “Tempat makannya luas, tempat parkirnya juga luas. Sudah gitu, suasananya juga sangat adem,” ungkapnya.

Bagi masyarakat perantau Kulon Progo di Jabodetabek, komunitas Sahabat Ngopi Kulon Progo memang sudah dikenal eksis. Banyak kegiatan digelar, nyaris setiap bulan. Mulai dari kegiatan sosial, budaya, hingga literasi yang dibungkus silaturahmi.

Komitmen itu, menjadi nyambung dengan forum diskusi Sedulur NKS. Ini merupakan komunitas pecinta buku yang didirikan oleh Sumarjono, seorang tokoh perantau Kulon Progo kelahiran Dusun Anjir, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap. NKS adalah judul buku biografi dan perjalanan hidup Sumarjono sejak dari Anjir hingga sukses tampil sebagai pejabat di tingkat nasional.

“NKS adalah singkatan dari buku Pak Jono, Nami Kulo Sumarjono. Jadi Sedulur NKS adalah kerabat NSK yang senang berdiskusi, membaca buku, serta berkreativitas. Pak Jono bukan hanya tokoh biasa bagi masyarakat Kulon Progo di Jabodetabek, sebab kepeduliannya pada masyarakat di Kulon Progo juga sangat besar,” kata Ki Bawang, salah seorang penggagas SNKP.

Dari tangan Pak Jono juga, tambahnya, selain lahir biografi berjudul Nami Kulo Sumarjono, telah terbit buku yang jauh lebih tebal, berisi kisah perjalanan Sumarjono dari berbagai kota. Judulnya Njih Meniko Sewu Kutho.

“Buku ini, aslinya memang serba seribu. Kalau diterbitkan sekaligus, bisa menjadi seribu halaman. Tapi dibagi beberapa jilid. Kemudian, kota yang ditulis juga ada kalau seribu, mulai dari kota-kota di Indonesia, desa-desa di seluruh pelosok negeri, hingga berbagai negara yang melahirkan seribu cerita,” tutur Ki Bawang, yang menjadi editor bukut tersebut.(kib)

About redaksi

Check Also

Kolaborasi Kopi Thiwul 87 & Tempat Wisata Gunung Pecok

Dua ibu di balik sukses Jalan Sehat ini, sangat bungah, setelah peserta jalan sehat dilepas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *