Tempaan memang dijalani Ki Setyo Budi, bahkan sejak masih kanak-kanak, saat digembleng oleh orangtuanya dengan laku batin. Perjalanan hidupnya juga penuh dengan suka duka, manis pahit, lengkap dengan kisah naik-turunnya pencapaian.
Setyo Budi mengakui, perjalanan hidupnya tidak selamanya mulus. Masa masa kritis juga pernah dialami. Namun dengan kesabaran dan keteguhan hati serta keyakinannya bahwa Allah tidak akan menguji mahluknya di luar kemampuan, maka semua dapat diatasi dan dilalui atas ijin Allah SWT Tuhan Seru Sekalian Alam.
Kegagalan dipahami sebagai rabuk bagi kesuburan pengalaman hidup. Apalagi, ia memiliki banyak kegiatan yang mengharuskan berinteraksi dengan masyarakat luas. Disini Ki Setyo harus pandai membawa diri dan bijak dalam bersikap.
Dalam soal bergaul, tidak ada yang dibedakan. Semua dirangkul, disrawungi dengan segenap ketulusan hati. Ibarat air, Ki Setyo mampu masuk dan diterima di lingkungan masyarakat dengan latar belakang apapun. Tidak terkecuali dengan masyarakat “abangan” atau “ijoan” yang memang banyak ada di wilayah Kebumen.
Sebutan masyarakat abangan, selama ini ditujukan kepada mereka yang masih kuat mempertahankan tradisi, adat istiadat budaya leluhur. Sementara masyarakat ijon adalah mereka yang banyak menyelami kehidupan religius.
Dan, di antara dua dikotomi masyarakat itu, Ki Setyo berusaha selalu ada di antara mereka. Berjalan beriringan. Semua itu dilakukan karena Ki Setyo paham betul masyarakat Kebumen adalah masyarakat relijius dengan tetap menjunjung tinggi nilai nilai keluhuran budaya.
Sikap hidup itulah yang membuat Ki Setyo mudah diterima di semua lingkungan masyarakat. Termasuk di antara banyak tokoh dan budayawan Kebumen. Demikian pula, tidak sedikit tokoh alim ulama Kebumen yang di kenalnya.
Selama ini, Ki Setyo juga dikenal berguru pada tokoh-tokoh santri sekelas Kiai Muhtar ( Jombang ), Habib Zain ( Magelang ) dan Ustad KH Ahmad Fauzi ( Jakarta ). Pergaulan Ki Setyo dengan tokoh budaya juga tak berjarak. Umpamanya saja dengan Ki Dalang Basuki Hendro Prayitno, Mbah R Soman Sri Husodo, atau dokter Bambang Gunawan.
Ki Setyo sadar betul bahwa untuk menjadi pemimpin tidak hanya diperlukan kemampuan manajerial namun juga perlu memiliki landasan kemampuan spiritual kerohanian yang memadai.”Beruntung, saya memiliki bekal itu,” ungkapnya.
Hal ini juga yang melandasi pemikirannya bahwa Kabupaten Kebumen akan mampu bangkit menjadi kota yang maju bila dua landasan besar yang ada yaitu agama (mayoritas Islam ) dan budaya diberikan perhatian penuh. Dijaga, dilestarikan, dikembangkan dan dimajukan. Bukan dicampur adukan namun berjalan beriringan. (bersambung)
