Home / KEMAT / Perang Tanding Sepanjang Hari

Perang Tanding Sepanjang Hari

Sudah berjalan beberapa waktu semenjak diumumkan nya sayembara penangkapan terhadap brandal Gamawidjaya. Namun demikian belum juga ada yang mau mengikuti sayembara tersebut walau dengan iming iming hadiah uang yang banyak dan jabatan yang tinggi.

Hingga munculah seorang kesatria yang sanggup membinasakan Brandal Gamawidjaya ia adalah Raden Ngabei Mangunpawiro.

Den Bei mendapatkan petunjuk bahwa Gamawidjaya adalah saudara seperguruan dengan Demang Si Djeroek yang bernama Ki Wargantaka ketika berguru pada Ki Gamawikangka. Setelah itu, Raden Ngabei menemui Demang Si Djeroek dengan harapan dapat mengetahui wadi atau pengapesan dari Gamawidjaya.

Setelah terjadi pertemuan maka disepakati Wargantaka akan membantu Raden Ngabei menumpas Gamawidjaya. Karena Wargantaka sudah berusia lanjut maka disraya ( diutus ) lah putranya yang nomor tiga yang bernama Andaga.

Namun demikian Demang Si Djeroek berpesan walau yg menghadapi Gamawidjaya adalah Andaga bila dapat mengalahkan tetap yang mendapat kamulyan sang Ngabei. Ki Wargantaka dan putranya Andaga hanya akan turut mulya.

Pesan kedua sebelum Andaga kalah dalam pertarungan Raden Ngabei tidak boleh membantu Andaga. Raden Ngabei hanya akan bertempur melawan Gamawidjaya ketika Andaga sudah benar benar dalam posisi terpojok.

Dikisahkan pertempuran antara Gamawidjaya dan Andaga terjadi sangat seru dan menegangkan.  Diawali dengan saling tantang tantangan. Gamawidjaya merasa di atas angin  hingga meremehkan Andaga.

Gamawidjaya menghina Andaga sebagai anak kemarin sore yang masih bau kencur. Tidak hanya itu Gamawidjaya juga sesumbar untuk berhadapan dengan Ki Wargantaka, jangan dengan anak kecil kmarin sore.

Andaga merasa tersinggung dan pertempuran tidak dapat dielakkan. Masing masing mengeluarkan jurus andalannya dalam menyerang dan membela Diri. Pertempuran tangan kosong berlanjut dengan menggunakan pusaka. Pusaka dari Gamawidjaya yang terkenal berbentuk bendo (sejenis golok namun lebih pendek dan lebar). Sedangkan Andaga menggunakan tombak.

Pertempuran juga diwarnai sorak-sorai para masyarakat  dan para lurah dan pendukung dari kedua belah pihak. Tidak tertinggal juga perwakilan dari Gupermen. Mereka bersorak..modar..mati…horee modar…

Pertempuran sudah berjalan hampir setengah hari namun belum terlihat siapa yang menang dan yang kalah. Hingga Radeng Ngabei menyampaikan hal ini pada Demang Si Djeroek. Merasa kasihan dengan putranya,  sang demang mendekati arena pertempuran dengan membawa tombak pendek (tlempak).

Berbarengan dengan itu posisi Andaga mulai dapat angin mengatasi Gamawidjaya. Tombak ditujukan pas mengenai leher Gamawidjays. Namun bukan Gamawidjaya yang sakti bila dengan luka dileher roboh. Namun sepak terjangnya lebih mengerikan hingga yang melihat lebih riuh rendah dalam bersorak dan membuat ciut nyali lawan.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-16: Ki Basuki Hendro Prayitno, Dalang Senior yang Merakyat

Ini, Ki Basuki Hendro Prayitno. Dalang senior, ternama, dan menjadi rujukan dalang muda di Kabupaten …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *