Nek Wes Ngene, Njuk Olehe Opo?

oleh -26 Dilihat

Lama mbah Amat Aji tidak dolan ke tempat Ki Bawang. Ya, maklumlah banyaknya kesibukan yang selama ini menyita perhatian mbah Amat.

Dari sekedar cari makan, buruh serabutan, atau sekedar berkebun di sekitar rumah. Namun kegiatan tersebut terus menyita waktu mbah amat untuk tidak sekedar “say Hallo” kepada ki Bawang, atau bersilaturahmi sekedar ngrusuhi makan dan minumannya ki Bawang.

Dan ketika mbah Amat datang ke rumah ki Bawang, terkejut melihat kegiatan sohibnya itu. Hobby barunya adalan ngelus-elus keris, ngisik-isik batu akik, atau malah ngelus-elus janggut panjangnya.

“Weh, sampeyan ki piye to ki?”,  Sapa mbah Amat dengan bahasa yang khas maido-nya.

Lha, gimana to mbah?.

“Lha wong orang orang pada sibuk bekerja, cari duit, cari nafkah, berkebun, bercocok tanam, buruh, lha kok sampeyan malah enak-enak dirumah ngelus-elus keris, ngisik isik akik, itu kan gak ada gunanya, kan walaupun barang itu mahal garganya tapi tidak bisa digunakan untuk kegiatan sehari hari.

“Contohnya mbah?”

“Lha iya, coba kalau sampeyan ngisik-isik pacul bisa untuk macul, ngisik-isik pisau dapur kan bisa untuk ngiris-iris bawang, ngasah arit, bisa untuk ngarit. Njur Olehe apa?”, tanya mbah Amat

Lho ini banyak manfaatnya lo mbah, ini soal ketenangan hati ketentraman jiwa. Kadang kita tidak paham apa yang seharusnya menentramkan jiwa, kepuasan hati. Dan kepuasan hati itu tidak bisa dinilai dengan uang, tidak bisa dinilai dengan hasil, tidak bisa dihitung dengan laba, bahkan untuk memperoleh kepuasan hati itu kadang harus merogoh kantong yang tidak sedikit, berburu keris, mencari batu akik. Atau orang-orang sudah kaya dan mapan tapi masih juga mau bersusah payah mencalonkan diri untuk dipilih dari sekedar ketua RT lurah atau lebih tinggi lagi.

Pertanyaan sampeyan yang selalu menanyakan olehe apa?, untunge piro?, bathine piro? Gunane opo? itu sudah merupakan kalimat yang di untungkan dengan materi. Padahal kita sudah tahu bahwa ada hal hal yang tak bisa dinilai, ada ruang kosong yang harus kita isi…

Haiyo…  njur sampeyan menjelaskan panjang lebar itu yo kembali lagi ke pertanyaan saya tadi njur olehe apa?

Haiyo.. dan keduanya terdiam, karena memang tidak ada manfaatnya melanjutkan pembicaraan***(stmj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.