Home / DWIDJO / Memandangi Merapi dari Bok Siji

Memandangi Merapi dari Bok Siji

                 Api Cinta di Kaki Menoreh (1)
                   Oleh: Kangtomo Surosetiko

Merapi berdiri dalam gagah di langit timur. Dipandangi dari sisi barat, di Bok Siji, Mbah Merapi kokoh tegak menantang. Tampak serupa manggala bregada Wirabraja  yang setia mengawal sejarah. Merapi sesekali menampakkan keangkuhan, kesombongan dan kedigdayaannya. Batuk-batuk mengeluarkan lahar, kadang bersama wedus gembel. Batuk kronis tertahan diantara leher Merapi yang penuh beban, mendidih di permukaan.

Lahar berpijaran leleh memerah……..bak neraka membakar. Asap hitam tebal bergulung di angkasa mengerikan. Satwa, manusia, ladang raya terjilat amarahnya. Siapa dan apapun tak kan mampu menahan petaka. Bah membobol tebing di sekeliling, menggulung, menghempas, menerjang pohon, rumah, ladang, sawah, ternak, dan segala bangunan di sekitarnya. Hancur, luluh lantak tak tersisa.

Merapi memang memiliki sebagian keagungan. Sebagaimana ditunjukkan kepada alam dan sekitarnya. Namun di balik semuanya itu Merapi tetap setia sebagai pakuning tanah Jawa. Amanat yang diemban sejak awal hingga akhir zaman. Merapi akan setia dalam tugas dan peran dari Sang Maha Pencipta. Peran sebagai kran pengatur mengalirnya rejeki untuk berlangsungnya kehidupan di bawahnya. Kemurahannya sebagai sumber adalah harapan hidup satwa, manusia dan sawah-ladang persemaian. Supplay air, udara yg sejuk pegunungan, kesuburan tanah, keteduhan menjanjikan rutinitas dan kontinyuitas tetap berjalan.

Fenomena Merapi sebagai sosok paradoksal. Ambivalensi jiwa terkurung dalam satu raga. Merapi merupakan sosok angker, kuat, penuh semangat, ego, kuasa, dan ”sopo wani aku”.  Akan tetapi tiada ada yang hendak memungkirinya. Selepas kekejamannya, bergantilah dengan watak keagungan yang tanpa paksa. Diantara keangkuhannya ada percik lembut kemurahannya. Mengalirkan seisi perutnya demi berlangsungnya kehidupan alam raya. Diantara kepongahannya dia tiupkan kelembutan dan kesegaran melalui desiran gemulai angin nan lembut merata……membahana ke penjuru wilayahnya.

Sementara Merbabu berdiri anggun di sebelahnya. Setia menemani Merapi yang sering berkobar-kobar. Meletup dan meledak bahkan menghancurkan. Merbabu tampak membawa keteduhan. Sebagaimana peran yang dimainkan. Merbabu sebagai pendamping dari sosok yang bernama Merapi. Ketemaramannya menjadikan Merbabu lebih sempurna, peredam gelegak Merapi. Derap Merapi yang berisik dan gegap gempita,  dibarengi gemulai sentuhan angin Merbabu lembut mendayu. Jadilah derap langkah teratur dalam kendali kebersamaan dan harmoni.

Merapi dan Merbabu bagai sejoli yang tidak hendak dipisahkan. Merapi dan Merbabu hadir seperti seorang anak manusia. Bersanding, berdampingan. Satu sama lainnya saling memberi dan melengkapi. Keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda. Masing-masing memiliki kharakteristik. Mereka bahkan memiliki kehidupannya sendiri yang berbeda-beda.

Ketika Merapi menampakkan taring kekuasaannya. Merbabu memberikan kesejukan. Merapi tengah marah. Merbabu akan memberikan senyum simpul, manis dan manja. Keramahan, sikap luwes dan bersahabat yang selalu dimunculkan Merbabu. Seringkali Merbabu tetap bernyanyi, meski Merapi menampakkan amarahnya.

Lengkaplah kehidupan seperti adanya siang dan malam. Pagi dan petang, pahit dan manis. Menangis dan tertawa. Semua menjadi berpasang-pasangan saling memberi dan menerima. Sebagaimana kehadiran segala rupa di muka peradaban jagad raya. Itulah apa yang tergelar dengan segala nuansanya. Selalu terpencar dengan segala cita rasa, tetapi itulah yang membentuk pelangi dunia. Indah…..segar dalam komposisi yang paling sempurna.

Merapi dan Merbabu tidak sendiri. Seperti dikelilingi prajurit pengawal yang setia menemani. Menoreh terhampar di kanan kiri dan perbukitan seribu pun ikut menyertai. Keberadaannya  seperti menunggu titah dan siap mengemban dengan sepenuh daya upaya. Di sebelah timur terdapat Lawu. Lebih ke timur lagi ada Kelud. Ada Semeru, Bromo, Arjuno bahkan Agung. Tegak berjajar, terpencar seolah menjadi pagar bagi kehidupan di dalamnya. Gunung gemunung tegak menjulang, siap menghadang hulubalang dari tanah seberang. Siap melindungi kawasan sekelilingnya dari segala petaka lawan. (BERSAMBUNG)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

One comment

  1. No coment saja, soalnya memang indah dipandang dan menyejahterakan di rasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *