Home / KANGBARNO / Komunitas Lima Gunung-3: Ketika Hidup menjadi Berseni

Komunitas Lima Gunung-3: Ketika Hidup menjadi Berseni

Liputan oleh              : djoutomo
Ditulis ulang oleh        : djoutomo

Ini tentang kesenian dan olah budaya yang berasal dari lima gunung. Terdiri dari berbagai macam kesenian, seperti wayang orang, tarian, dagelan, soreng dan masih banyak lagi. Yang menarik dari Komunitas Lima Gunung ini adalah mereka sudah melepaskan diri dari lingkup kesenian masing-masing.

Kalau orang masih berkutat dengan keseniannya, dia belum mampu menjadikan kesenian itu bagian dari kehidupan. Lakon atau pemeran utama dalam kehidupan KLG ini bukanlah keseniannya, namun, kebudayaannya. Ketika lakonnya bukan lagi kesenian, melainkan kebudayaan maka lakonnya menjadi hidup dan hidup menjadi berseni.

Ketua masing-masing dari KLG yaitu Sitras Anjilin dari kawasan Gunung Merapi, Supadi Haryanto dari kawasan Gunung Andong, Ipang dari Gunung Sumbing, Sujono dan Riyadi dari Merbabu, Adi Wicaksono seorang sastrawan yang juga tergabung dalam KLG dan Sutanto Mendut dari kawasan pegunungan Menoreh yang merangkap sebagai Presiden Lima Gunung.

Sitras Anjilin adalah seorang anak petani di sebuah desa Tutup Ngisor yang melahirkan sebuah kesenian. Ayahnya membuat suatu padepokan seni yaitu Seni Tirta Budaya yang dibangun pada tahun 1937. Ayahnya mengajarkan tari beladiri dan moco papan. Hingga saat ini yang masih terjaga kelestariannya adalah seni wayang orang.

Desa Tutup Ngisor adalah desa yang sangat terpelosok hingga tidak banyak orang yang singgah ke desa tersebut. Atas dasar itulah ayahnya membuat Padepokan Seni Tirta Budaya itu untuk berkumpul sehingga banyak orang yang datang untuk melakukan kegiatan kesenian.

Sampai sekarang, keluarga Sitras Anjilin secara turun temurun masih menjaga kebudayaan tersebut. Biasanya mereka melakukan pertunjukan empat kali dalam satu tahun seperti di Bulan Suro, Maulid Nabi, Iedul Fitri, dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain padepokan tersebut dibangun karena dijadikan untuk tempat berkumpul, rupanya Ayah Sitras Anjilin tersebut membangunnya karena adanya faktor lingkungan yaitu berupa air yang melimpah di daerah tersebut.

Supadi Haryanto dari Gunung Andong. Supadi Haryanto adalah salah satu warga dari sebelah tenggara Gunung Andong. Berangkat dari apa yang sudah dilakukan oleh para sesepuh terdahulu yaitu dengan mengadakan tradisi Saparan yang diadakan setiap satu tahun sekali untuk acara Sonten Dusun.

Untuk memeriahkan acara tersebut maka mereka membuat sebuah pentas kesenian yang akhirnya menjadi tradisi tahunan. Untuk membentuk suatu organisasi yang mewadahi kesenian tersebut memerlukan waktu. Maka pada tahun 1993, Supadi membuat suatu kesenian Kuda Lumping.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Hasil Turnamen Sahabat Ngopi Cup, Ini Bibit Bulutangkis Kulon Progo dari Perantauan

Gelaran Turnamen Bulutangkis Sahabat Ngopi II selesai digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu kemarin. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *