Ki Hadi Sugito Kawentar hingga Tlatah Kebumen

oleh -13 Dilihat
oleh

Di kalangan pecinta seni pakeliran di seantero dunia, siapa yang tidak mengenal almarhum Ki Hadi Sugito, dalang kondang dari wilayah Toyan, Kulonprogo, DI Yogyakarta.

Namanya begitu membekas di hati para penggemar nya, baik yang ada di dalam dan luar negeri. Suara sulukan, Gunem, dan canda banyolan nya selalu menggema di radio radio regional bahkan ketika kita memutar radio dari Suriname.

Dalang yang sangat terkenal dengan suaranya yang khas ketika memainkan tokoh pandito durno, dan sangat kocak ketika memerankan tokoh ponokawan Bagong, seakan tidak pernah meninggalkan kita semua. Semua masih terasa begitu lekat dan dekat.

Konsistensinya membawakan gagrak Mataram klasik menjadikan beliau seorang maestro pedalangan. Walau jaman terus berubah, tehnologi semakin maju, ragam seni budaya semakin bervariasi, tapi sedikitpun beliau tidak terpengaruh dengan itu semua.

Ketika dalang lain menjual gebyar dalam tampilan nya dengan menyertakan campur sari dan penyanyi berdiri di panggung, Ki Hadi Sugito tetap tidak bergeming untuk meniru. Beliau tetap menjual pakem dan sanggit yang sempurna.

Ki Hadi Sugito tidak pernah kwatir ditinggalkan penonton, kepiawaiannya memainkan semua karakter tokoh wayang menjadikan penonton akan betah berlama lama menikmati pementasannya bahkan tidak akan beranjak ketika pertunjukan belum usai.

Canda dan banyolan segar tidak hanya pada adegan limbuk cangik atau Goro Goro namun bisa dimunculkan di semua adegan, bahkan ketika sedang jejer di sebuah kerajaan sekalipun penonton bisa dibuat tertawa karena gunemnya. Ki Hadi Sugito juga yang mempopulerkan tokoh wayang alusan seperti prabu Puntadewa dapat tertawa saat pasewakan.

Dalam setiap pementasan Ki Hadi Sugito selalu interaktif dengan penonton dan pendukung pagelaran seperti Waranggono dan Wiyogo. Jadi sepanjang pementasan terkesan hidup dan rame. Juga akan terkesan sangat sedih dan pilu ketika diadegan kingkin (sedih ).

Dalang yang digemari tidak hanya oleh para sepuh tapi juga oleh kaum generasi muda ini, selalu menekankan pesan moral yang sangat dalam bahwa wayang tidak hanya tontonan tapi harus mampu menjadi tuntunan, sehingga banyak sekali nasehat nasehat dalam pementasan yang dapat di petik oleh banyak kalangan.

Ki Hadi Sugito sadar bahwa pada saatnya akan meninggalkan dunia, maka beliau menyiapkan generasi penerus untuk mampu melanjutkan perjuangannya melalui seni pedalangan, terbukti putra putranya, Ki Kelik (alm), Ki Wisnu, semua menjadi dalang juga. Bahkan begitu banyak dalang yang meniru cengkok, sabet, Gunem, sanggit, persis mirip dengan Ki Hadi Sugito kita ambil contoh dalang Rusmadi, dalang Seno Nugroho dll.

Ki Hadi Sugito memang sudah berpulang ke Rahmatullah, tapi nama dan hasil karyanya tetap membahana. Bahkan sebagian dari penggemar memiliki fanatik positif yang tinggi “wayang ya hadi Sugito”.

Dan, di hari kelahirannya ini, kami selalu berdoa untuk Romo Hadisugito, semoga selalu  mendapatkan kedamaian dalam rengkuh Gusti kang Moho Asih di dalam swargoluko kang Endah lan edi Peni.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.