Home / KANGBARNO / Kembali ke Jogja, Kembali Nguri-uri Kabudayan

Kembali ke Jogja, Kembali Nguri-uri Kabudayan

Matahari hampir tenggelam saat tiba di Jogja. Hem…rasanya tak pernah bosan untuk selalu kembali mengunjungi kota ini. Meskipun badan kurang fit namun saya sudah janji akan hadir pada acara wayang kulit di sanggar Mahening Budhi Kebonharjo Samigaluh.

Malam setelah sampai di Jogja, saya mencari jamu di sekitar Gondomanan. Jamu asli yang langsung diramu oleh ibu penjualnya. Saya dan Dita memesan jamu untuk masuk angin, sedangkan Heroe memesan jamu untuk batuk dan capek.

Terlihat banyak pelanggan yang antre untuk membeli jamu. Sayang ibu penjual jamunya tidak mau difoto. Setelahnya kami berencana ke Pendopo Lawas di alun-alun kidul. Namun melihat tempatnya yang penuh sesak dan tidak ada tempat parkir, akhirnya pilihan beralih ke mie godog ngisor waru di Panembahan dekat Ndalem Gamelan.

Lagi-lagi karena badan kurang sehat, nafsu makan berkurang sehingga hanya makan mie godog sedikit. Paginya saya sengaja berjalan kaki ke pasar di dekat Ndalem Gamelan untuk membeli Carang Gesing dan beberapa makanan buat sarapan. Saat malas makan, cemilan seperti carang gesing dan segelas teh panas sudah nikmat sekali.

BACA JUGA http://www.kabarno.com/singgah-ke-samigaluh-didapuk-main-ketoprak/ 

Sebelum ke Samigaluh, Dita mengajak mampir ke Batik Rumah di daerah Suryowijayan. Dan seperti biasanya saya yang tujuan semula hanya mengantar, justru membeli lebih banyak. Beberapa hem, baju batik untuk cucu, kain batik dan selendang akhirnya masuk dalam tas belanjaan.

Dalam perjalanan ke Samigaluh, kami sempatkan makan Soto Kadipiro dan mampir ke Geblek Pari di daerah Nanggulan. Menu yang disajikan di Geblek Pari merupakan masakan sehari hari seperti nila goreng, telur dadar, terong balado, brongkos, oseng tahu, oseng jipang yang dipilih langsung di dapurnya.

Semuanya menarik untuk disantap sambil melihat persawahan yang asri. Namun karena masih kenyang dengan soto Kadipiro, kami membeli beberapa lauk untuk dibawa ke Samigaluh. Ternyata mereka tidak menyediakan plastik sehingga hanya bisa membeli masakan yang tanpa kuah. Bagus sekali untuk menjaga lingkungan dengan tidak menyediakan tempat plastik.

Dari Nanggulan, saya dan Dita mampir ke rumah Balong lebih dahulu sambil melihat-lihat kebun pepaya karena rumah sanggar sedang ditata untuk pentas.

Tepat jam 19.30 malam alunan gamelan telah berkumandang. Terdengar menentramkan dari sanggar Mahening Budhi. Segera saya dan Dita bergabung dengan anak-anak menyaksikan pertunjukkan yang diawali dengan tembang dolanan seperti Sluku sluku batok, Jamuran, yang diiringi karawitan dari anak SD Muhammadiyah Jeringan dan SD Balong.

BACA JUGA http://www.kabarno.com/kembali-ke-samigaluh-saatnya-wisata-kampung-halaman/

Setelah pentas tembang dolanan, saatnya pertunjukkan Wayang Kulit dengan lakon Wahyu Purbojati yang diawali oleh dalang bocah Subiyantoro. Dengan suaranya yang khas, Subiyantoro murid kelas 6 SD Balong 2 Samigaluh, memainkan suluk dan wayang kulit dengan gayanya yang meyakinkan.

Ada dua dalang bocah yang tampil yaitu Subiyantoro saat pembukaan dan Farel saat goro-goro di tengah malam menjelang pagi. Ada kebanggaan yang luar biasa saat menyaksikan penampilan dua dalang bocah itu. Subiyantoro dan Farel yang sama-sama baru   kelas 6 SD Balong 2, adalah produk Sanggar Mahening Budhi.

Dua bocah pewaris wayang di masa depan ini, dilatih rutin oleh pak Suroto yang juga seorang dalang. Dulu,  Pak Suroto merupakan dalang yang potensial, namun karena mengalami kecelakaan pada tangannya maka tidak bisa mendalang lagi.

Pertunjukan wayang kulit dilanjutkan oleh Dalang Ki Sudarman yang merupakan Kepala Sekolah Dasar di Balong.

Saya sengaja menahan kantuk dan hawa dingin karena ingin melihat aksi Farel saat goro-goro di tengah malam menjelang perpindahan hari. Dan, ya memang lumayan penampilannya. Lucu juga. Tapi yang tidak lucu adalah badan saya. Badan nenek-nenek yang kurang sehat ini tak tahan angin dingin musim hujan yang menerpa Samigaluh sehingga esok harinya demam.

Tapi ya sudah. Dengan jaket tebal, saya kembali ke Jakarta. Saat menuju bandara, kami masih sempatkan makan durian enak di pinggir jalan yang katanya dari Kaligesing. Sore hari tiba di Jakarta sudah terasa kurang sehat dan rupanya demam yang dirasakan sejak di Samigaluh bukan karena angin dingin saat menonton wayang kulit, namun karena gejala demam berdarah. Waduh…

Apa boleh buat, saya harus menjalani rawat inap beberapa hari di rumah sakit. Tak ingin berlama-lama dirawat karena tangan bengkak oleh infus, begitu trombocit mulai naik, langsung meminta rawat jalan. (*)

About redaksi

Check Also

Haryanta, SH: Calon Lurah Banaran yang Berpengalaman & Didukung Trah Berpengaruh

Pemilihan Lurah Banaran, segera digelar. Akan berlangsung pada Minggu, 24 Oktober 2021, Pemilihan Lurah (Pilur) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *