Home / KANGBARNO / Ke Kintamani, sebelum Chan Pergi

Ke Kintamani, sebelum Chan Pergi

Tinggal di Bali, memang menjadikan setiap hari adalah liburan tanpa henti. Tapi ini berbeda. Karena liburan yang sebenar-benarnya liburan. Kami bertujuh meninggalkan Bukit Jimbaran, tempat selama ini tinggal, menuju ke utara. Ke arah Gunung Batur.

Tidak usah diceritakan perjalanan hampir dua jam memanjat bukit di Kawasan pegunungan purba itu. Tidak perlu pula, diceritakan keindahan gunung Batur yang dari kejauhan seperti arca super raksasa. Diam, kukuh, setia menjaga alam.

Perjalanan ini, sebenarnya bukan yang pertama. Aku dan beberapa kawan, sudah sering naik gunung Batur. Tapi kali ini, agak berbeda, karena ada Chan yang agak susah diajak jalan-jalan. Ia tipe pembaca buku yang sulit digoda dengan jalan-jalan.

Tapi hari itu, Chan mau ikut, karena akan segera meninggalkan kami semua. Ini semacam perpisahan, karena ia akan pindah ke Jogja. Dalam hati aku membatin, wah senangnya, dari Bali pindah ke Jogja.

Tapi sebelum naik Batur, kita santai-santai di Kintamani. Lalu sempat menyentuhkan ujung jari ke air danau Batur. Rasanya senang, karena momentum seperti itu, barangkali akan sulit dilakukan lagi. Sebab, satu demi satu, kami bubar. Sekarang, giliran Chan yang meninggalkan Bali.

Tidak terasa, lima tahun bersama-sama di Bali, banyak yang sudah kami lalui. Sebentar lagi, aku juga pulang ke Jakarta, kota yang sebenarnya sudah lama aku rindukan. Tapi sengaja aku tahan sampai lima tahun, agar puas menikmati setiap sudut pulau Dewata.

Mengapa aku dulu meninggalkan Jakarta, nanti aku ceritakan dalam tulisan lain. Tapi Bali memang impian sejak lama. Dan, lima tahun tinggal di Bali, rasa-rasanya, masih belum cukup puas, meski semua tempat wisata pernah dikunjungi. Mulai dari wisata yang sudah popular, hingga yang sangat tersembunyi.

Semua, kami kunjungi beramai-ramai. Kadan bersepuluh, tapi tidak jarang hanya berdua atau bertiga saja. Tapi lama-lama, semakin sedikit saja yang memiliki waktu untuk bersama-sama menikmati Bali. Dan, sekarang, akan semakin sedikit, setelah semua pergi membawa mimpi-mimpinya.

Tapi okelah. Mumpung masih lengkap, mumpung sedang ada di Kintamani, mumpung gunung Batur masih bisa diukur, mari kita nikmati pelancongan kali ini. Lupakan sejenak soal skripsi yang tidak jadi-jadi. Tinggalkan sebentar kesibukan menata masa depan, karena yang paling menyenangkan adalah memandangi Kintamani yang terasa adem.

“Kita tidak tahu lagi, kapan bisa ngumpul-ngumpul kayak gini,” kata Chan, sangat tiba-tiba membuat kami menoleh, untuk kemudian merasakan ada kesedihan yang tersembunyi. Chan benar, kapa nada waktu berkumpul lagi, menikmati Kintamani. Kami, sebentar lagi, akan menyebar, mencari peruntungan sendiri-sendiri.

Aku mendekati Chan yang menunduk,duduk di atas batu. Lalu, aku menyentuh pundaknya. “Akan selalu ada waktu untuk bersama,” kataku, pura-pura menguatkan hatinya, meski aku juga tidak tahu, kapa nada waktu bersama-sama lagi.(ardhanareswari)

About redaksi

Check Also

Ngayahi Kepedulian Sosial: Semogalah, Ini Lelah yang Membawa Berkah

Sepanjang hari kemarin, saya harus berkendara dalam satu hari penuh, plus setengah malam. Jadi, berangkat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *