Home / DWIDJO / Jamsaren Tempat Gladen Bregodo Sinengker

Jamsaren Tempat Gladen Bregodo Sinengker

Api Cinta di Kaki Menoreh (3)
Oleh: Kangtomo Surosetiko

Jamsari sebuah desa di selatan Menoreh tempat Madsani tinggal bersama keluarga dan masyarakatnya. Pedesaan yang terkenal ramah. Masyarakatnya bersahaja. Lingkungannya teduh, bersahabat.  Sebagaimana perkampungan di masyarakat agraris, sawah ladang membentang dengan padi dan palawija yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Meski mengandalkan sawah tadah hujan, namun masyarakatnya tidak kekurangan akal untuk melipatgandakan hasil pertanian.

Ketika musim kering, persawahan tidak mendapat pasokan irigasi, namun justru masyarakat memberdayakan berbagai tanaman palawija. Berbagai hasil palawija justru memberikan penghasilan cukup. Demikian halnya dengan tanaman untuk memenuhi  kebutuhan harian. Sebagaimana  buah-buahan di musim kemarau.

Bawang merah, cabai keriting dan kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah serta kacang hitam. Semua itu menjadi tanaman sela di waktu-waktu masyarakat tidak memanam padi.  Semangka, melon dan mentimun menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat.

Meski sesekali banjir menggenangi perkampungan Jamsaren, namun tidak menjadikan mereka meninggalkan kampung halaman. Masyarakat tetap mencintai dusunnya yang teduh, sederhana namun memberikan ketenteraman. Banjir bandang yang datang  tidak menjadikan masyarakat berkeluh kesah. Mereka memaknai sebagai upaya dangir,  memberikan pupuk kepada tanaman yang sedang tumbuh.

Sebagaimana ketika Merapi memuntahkan laharnya, masyarakat memahami sebagai bagian dari upaya memberikan kesuburan kepada tanah dan lingkungannya. Masyarakat memaknai banjir yang datang sebagai upaya menyuburkan tanah ladang dan sawah. Masyarakat meyakininya masa panen mendatang akan membuahkan hasil lebih banyak. Masyarakat akan rejo sehingga terwujud toto titi tentrem kerto raharjo. Sawah dan ladang gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwo tinandur.

Madsani dan masyarakat Jamsari akan selalu mengingat. Perkampungan mereka dikenal sebagai tanah leluhur. Tempat gladen para prajurit kraton. Tempat pendadaran prajurit yang siap maju ke medan pertempuran. Sejak zaman yang lampau, Jamsaren demikian masyarakat menamakan perkampungan tempat sumarenya para leluhur dan perdahulu Jamsari. Masyarakat sering mengambil nama para leluhurnya sebagai pengingat untuk kampung halaman mereka.

Tidak lekang di makan zaman. Madsani yang hidup di tengah modernitas. Tetap mengakui keberadaan Jamsaren dan masyarakatnya. Percaya akan adanya kehidupan yang lebih baik di Jamsaren. Tempat pendadaran para prajurit kraton. Jamsaren diyakini akan melahirkan wijining para ratu tanah Jawa. Hanya satu yang tetap menjadi misteri, kapan akan muncul ratu-ratu tanah Jawa yang memberikan kesejahteraan seperti diharapkan.

“Ratu adil itu satriyo piningit,” kata Madsani menirukan apa-apa yang disampaikan simbah melalui simbok. Saat itu masyarakat akan menemukan kesejahteraan, ketenteraman dan keadilan yang didamba-dambakan.  Sosok ratu adil itu seperti apa, simbah dan simbok tidak pernah menceritakan. Apalagi kapan sang ratu adil itu muncul, simbah dan simbok sama sekali tidak pernah berani memprediksikan.

“Ora ilok, suk mben wae,” begitu ketika simbok mendesak simbah untuk menceritakan. Hal yang sama dilakukan simbok ketika didesak menceritakan sang ratu yang didamba-dambakan. Tinggallah anak-anak dan cucu yang mendengarkan termangu dengan pikrannya sendiri-sendiri.

“Pokoke le,” simbok menirukan simbah bercerita bagaimana keadaan ketika ratu adil itu datang. Gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem kerto raharjo. Subur kang sarwo tinandur, bebek, ayam, mendo, lembu bali ono kandhange dhewe-dhewe. (bersambung)

About redaksi

Check Also

LKS Lansia Suko Manunggal Sukoharjo Studi Banding di Berbah

Ngaglik, Kabarno.com Bertempat di Gedung Kantor Lembaga Kesejahteraan Sosial Lansia Tirto Wening Kapanewon Berbah menerima …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *