Home / KANGBARNO / Hari Ini, Mari Mengenang Sastrawan Jawa Suparto Brata

Hari Ini, Mari Mengenang Sastrawan Jawa Suparto Brata

Hari ini, 27 Februari 2018. Saya ingin mengenang sastrawan Jawa yang sangat besar, produktif, dan memiliki karakter kepenulisan yang berbeda. Dia, juga tokoh perjuangan Surabaya meski tidak banyak dicacat sejarah.

Namanya Suparto Brata. Hari ini, andai masih sugeng, usianya 86 tahun. Pada 17 September 2015 lalu, penulis banyak novel dengan latar perjuangan itu, kondur ing ayunaning Gusti dalam usia sepuh, 83 tahun.

Saya termasuk pengagum Pak Suparto Brata. Nyaris semua buku, terutama novel-novelnya, saya koleksi. Hanya saja, keinginan saya untuk menemuinya, selalu gagal. Juga pada kesempatan beliau diundang komunitas sastra di Jakarta.

Lahir 13 tahun sebelum kemerdekaan, Suparto adalah bangsawan kecil dengan gelar Raden Mas. Ayahnya Raden Soeratman Bratatenaja. Sedang sang ibu, Raden Ayu Djembawati, adalah ningrat dari Solo. Kehidupan keluarga Raden Soeratman cukup mapan dengan posisi sebagai mantri kewan antara tahun 1920-1924.

Tapi kehidupan yang serba nyaman itu, runtuh setelah Soeratman dipecat dari jabatannya, jauh sebelum Suparto lahir. Sebab, pada 1932 saat Suparto lahir, sang ayah sedang dalam masa paling sulit kehidupannya: tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan.

Suparto bayi terpaksa harus dibawa ibundanya kembali ke Solo, karena melihat kondisi ayahnya yang menyedihkan di Surabaya. Sejak itulah, kehidupan bangsawan dirasakan pada masa kanak-kanaknya. Tapi hidupnya seperti tidak pernah benar-benar menyenangkan, karena terus bergolak mengikuti irama hidup ibunya yang pasang-surut. Termasuk pernah menjadi batur keluarga Bupati Sragen.

Memasuki usia remaja, kehidupan Suparto tak kunjung membaik. Hidup masih terus berpindah-pindah. Setelah dari Solo, Sragen, kemudian kembali ke Surabaya. Tapi sejak tahun 50an, Suparto memutuskan menetap di Surabaya, bekerja di sejumlah tempat, sebelum akhirnya masuk menjadi pegawai negeri di Pemkot Surabaya pada 1969.

Setelah melewati cakra manggilingan hidup yang rumit, kemudian hidup mapan sebagai PNS, Suparto mulai menulis. Dan, tahun 1967, buku pertamanya terbit. Sejak itulah, ia produktif menulis banyak buku. Juga novel-novel dengan latar pergolakan hidudpnya.(kib)

About redaksi

Check Also

KPDJ Ikut Pelatihan & Pemberdayaan UMKM Banhubda DIY

Sebanyak 100an warga Jogja di Jabodetabek, dari pagi hingga siang ini, dikumpulkan di Anjungan Daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *