Home / KANGBARNO / Catetan Kulojono: Pamit Pensiun dari BPJamsostek

Catetan Kulojono: Pamit Pensiun dari BPJamsostek

Hari Senin kemarin, menjadi hari yang mendebarkan bagi saya. Setidaknya, karena akhirnya, berhasil mengemban amanah selama lima tahun sebagai salah satu direksi BPJS Ketenagakerjaan. Alhamdulillah.

Persis lima tahun. Saya ingat, lima tahun lalu, hati berdebar ketika menginjakkan kaki di istana negara yang begitu sakral. Tak pernah terbayang, wong Nganjir bisa mlebu istana negara.

Anak dan istri ikut menemani. Tapi itu lima tahun silam. Saat ini, kondisi sudah pasti tidak sama. Pandemi membuat suasana menjadi berbeda, karena keluarga direksi yang dilantik harus rela menunggu pelantikan sambil menyaksikan lewat youtube.

Saya juga ikut nonton pelantikan yang mendebarkan itu. Paling tidak, saya masih ingat, hati saya berdebaran saat dilantik seperti itu, lima tahun kepungkur. Saya sangat bahagia menyaksikan secara daring detik demi detik pelantikan kemarin itu.

Setelah selesai acara pelantikan, saya bergegas menuju ke Jalan Gatot Subroto No 79 Jakarta Selatan. Janjian dengan Pak Agus Susanto, Direktur Utama periode 2016-2021, untuk pamitan dengan seluruh rekan yang tidak pindah ke gedung baru.

Dari gedung lama, saya dan Pak Agus berencana untuk melanjutkan pamitan ke seluruh unit di Plaza BPJAMSOSTEK. Sayangnya, waktu agak mepet dengan acara serah terima jabatan sehingga saya tak sempat pamitan.

Serah terima jabatan dilakukan secara luring dan disiarkan secara daring ke seluruh insan BPJAMSOSTEK pada hari Senin, 22 Februari 2021 kemarin. Ada pesan positif baik dari direksi dan dewas lama maupun dari direksi dan dewas yang baru dilantik siang harinya. Termasuk pesan Pak Agus Susanto agar kiranya seluruh insan BPJAMSOSTEK di seluruh Indonesia mendukung penuh manajemen baru.

Lagi-lagi rasa haru menyeruak di dalam kalbu saat bersalaman dengan pimpinan baru BPJAMSOSTEK. Entahlah, agak susah saya mengungkapkannya. Dari awal diamanati menjadi salah satu direksi, dari awal saya ingin melihat pimpinan di institusi besar ini dipilih dari internal.

Walau saat itu, saya senang menduduki kursi pimpinan, namun ada rasa yang kurang hanya ada satu dari tujuh direksi dari internal.

Dari quote populer saya tahu bahwa pemimpin itu tidak sekadar menciptakan banyak pengikut, namun juga harus dapat menciptakan banyak pemimpin.

Rasa-rasanya untuk menciptakan follower saya sudah cukup modal dengan penerbitan Buku Nami Kulo Sumarjono (NKS) ataupun Buku Sewu Kuto. Bahkan pengikut setia ini lantas saya beri nama Sedulur NKS. Tapi untuk menciptakan atau menyiapkan pemimpin masa depan, itu yang berat.

Tapi saya yakin bukan hanya saya yang berfikiran yang sama. Mungkin hanya caranya saja yang berbeda-beda untuk bisa benar-benar menciptakan pemimpin baru. Minimal ada empat hal yang saya coba terapkan. Pertama, saya ingin seluruh karyawan senang bertemu dan berdiskusi dengan saya.

Sesuatu yang pernah saya alami atau ide di tempat lain, biasanya saya ceritakan untuk memancing ide-ide dari rekan karyawan. Dengan seperti itu, saya berharap kehadiran saya bermanfaat, atau malah dinantikan untuk bisa berbagi.

Kedua, ini yang selalu saya sampaikan dalam berbagai kesempatan bahwa kita haruslah menjadi bagian dari solusi. Jangan sampai semua masalah kita serahkan kepada waktu untuk menyelesaikannya.

Saya biasanya pancing agar karyawan memberikan alternatif solusi atas masalah yang ada, lengkap dengan pros dan cons (kelebihan dan kekurangan) dari alternatif solusi tersebut. Mungkin saat itu saya sudah punya beberapa ide penyelesaian masalah, namun tidak serta merta saya sampaikan dengan harapan karyawan memiliki ide solusi yang sama.

Ketiga, mungkin ini mirip dengan cara kedua. Selaku pemimpin kita perlu mengurangi instruksi. Ini dilakukan agar karyawan dapat menjalankan tugas dengan rasa tanggung jawab dan memiliki inisiatif mengerjakan atau menyelesaikan masalah.

Keempat, mengajari untuk tidak takut mengambil tindakan. Soal risiko, bukankah memang selalu ada risiko yang mesti dipanggul pimpinan. Tidak mengambil tindakan sekalipun itu memiliki risiko. Untuk itu, perlu mengukur risiko dari tindakan yang akan diambil, memitigasi risiko tersebut, dan menentukan langkah-langkah mengurangi risiko yang ada.

Dan, tak disangka tiga dari tujuh direksi terpilih periode 2021-2026 adalah putera-putera terbaik BPJAMSOSTEK. Sebuah kebanggakan bagi BPJAMSOSTEK dan khususnya saya pribadi.

Saya tidak mengatakan ini prestasi pemimpin sebelumnya karena saya yakin memang banyak talenta BPJAMSOSTEK yang hebat-hebat. Saya berharap institusi lain seperti BUMN mulai melirik potensi yang ada di BPJAMSOSTEK. Sekali lagi selamat untuk Dewan Pengawas dan Direksi BPJAMSOSTEK yang baru. Selamat bekerja.

Salam KULOJONO

About redaksi

Check Also

Daleme Mbah Sar, Dadi Prioritas Bedah Rumah

Rumah milik Mbah Sar  ambruk karena lapuk. Simbah berusia 80 tahun ini, tinggal di Bangeran, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *