Home / DWIDJO / Api Cinta (94): Ikan tidak pernah Menjadi Asin Meski Hidup di Samudera

Api Cinta (94): Ikan tidak pernah Menjadi Asin Meski Hidup di Samudera

Menyelesaikan sekolah tinggi sesegera mungkin, itu artinya tidak boleh ada gangguan, hambatan dan rintangan. Mirah Delima yang selama ini menggelayuti  pikiran dan memberatkan batinnya harus segera selesai. Semua harus dapat diatasi sebelum menjadi penyakit kronis yang membelanggu jiwa.

Dalam hati Paidi bertekad untuk tidak ada lagi Mirah Mirah lain yang dapat nyrimpung perjalananya mencapai harapan dan cita-cita sangat tinggi yang ditambatkan kedua orangtuanya.  Meskipun belum dapat membiayai sendiri kehidupannya, paling sedikit tidak membebani terlalu banyak bapak-biyungnya.

Paidi mulai beradaptasi dengan lingkungan, gaya kehidupan dan cara berpikir. Kampus tempat menimba ilmu memang tidak kesohor, namun tetap akan memberikan banyak pengalaman untuk menjalani kehidupannya di masa depan. Kampus akan memberi warna kehidupannya, sedikit atau banyak akan menggerus bocah kampung menjadi berwarna metropolis.

Gaya bicara dan cara berpikir,  polah tingkah bahkan semuanya bisa saja berubah. Paidi bulat, keyakinannya tidak berubah. Paidi tidak akan pernah larut dalam gaya kehidupan orang kota. Betapapun kehidupan di kampung halaman sudah memberi bekal, memberi landasan untuk tidak bergeming dengan hingar-bingar kehidupan di luar kebiasaannya.

“Ikan tidak pernah menjadi asin meskipun hidup di tengah samudera,” Paidi berkeyakinan. Termasuk bagaimana jurus-jurus menghadapi lawan yang siap menghadang. Mirah-mirah yang bergentayangan siap menerkam, menghancurkan cita-cita dan masa depannya.  Semua harus dihadapi dengan caranya tersendiri agar menemukan wujudnya masing-masing.

Pengalaman pertama merantau, Paidi hidup sendiri. Melakukan semua kegiatan sendiri, menentukan sendiri, termasuk memenej semua kebutuhan secara mandiri.  Mencukupkan bekal sebelum datang kiriman yang baru.  Berapapun uang yang diterima harus cukup untuk satu bulan, tidak bisa menambah karena memang tidak ada lagi yang dapat ditambahkan. Uang makan, kost dan keperluan kampus, harus cukup.

“Kalau perlu puasa, atau makan satu kali saja,” Paidi berkeyakinan untuk mampu mengatur semua kebutuhannya selama belajar.  Pagi cukup sarapan nasi yang dijajakan di sepanjang  jalan, siang kalau tidak ada kegiatan di kampus masak untuk sekaligus makan malam. Kalau sedang banyak kegiatan, cukup sarapan, makan siang dan malam di warung, sesekali dapat juga bon yang dibayarkan setelah beberapa kali makan.

“Sego kucing,”. Paidi merasa cukup untuk menjalani kehidupan. Padahal biyungnya membekali kompor dan beras untuk dapat makan selama sebulan.  Sekali waktu ketika persediaan sudah sangat mepet, pagi masak untuk makan seharian, tinggal sayurnya membeli sesuai selera dan isi dompet.

Mangkang,….. Mangkang,…… Mangkang. Suara sebelah memekak kelinga, kondektur bis kota meneriakkan tujuan bis yang tengah melaju dari Karang Ayu menuju batas kota sebelum Kalibanteng.

Paidi berjelalan bersama penumpang lain. Simbok bakul duduk terkantuk-kantuk, pelajar dan sebagian pegawai kantoran berdiri. Paidi berada di pojok paling belakang, sampai ke pintu beberapa orang berdiri sambil memegang barang  yang dibawa. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *