Home / DWIDJO / Api Cinta (93): Akhirnya Paidi Meninggalkan Kampung Halaman

Api Cinta (93): Akhirnya Paidi Meninggalkan Kampung Halaman

Paidi meninggalkan kampung halaman untuk mengubur semua kenangan bersama Mirah yang hilang seperti ditelan bumi. Perpisahan yang membuat kehidupan Paidi kalang kabut, lemah lunglai bagai hilang seluruh semangat hidupnya.

Madsani dan Madanom harus mencari cara untuk mengembalikan semangat juang anaknya. Bukankah Paidi si anak fajar yang lahir Ahad Paing, memiliki perjuangan dan semangat baja seperti para leluhurnya.  Tanah kelahirannya tempat pendadaran para prajurit Mataram harus menjadi penyemangat.

Kebo bule dan jago kate yang menjadi prajurit  tanah sabrang dapat dikalahkan di medan peperangan sampai tunggang langgang. Begitu juga dengan Paidi harus memiliki semangat juang para leluhurnya yang gagah berani di medan tempur.

“Paidi harus kembali sebagai prajurit Mataram. Gagah berani menantang setiap medan perang,” Madsani membisikan kalimat di telinga Madanom istrinya  yang hanya menatap empyak tanpa sepatah katapun pertanda tengah memikirkan banyak hal.

“Sudahlah.” Paidi melanjutkan. Semua akan baik-baik saja. Setelah menjalani kehidupannya yang baru di sekolah tinggi nanti. Akan banyak berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai kalangan di pergaulannya yang luas.

Madsani dan Madanom memutuskan untuk mengirim Paidi ke sekolah tinggi. Meski berat biaya yang harus ditanggung, mudah-mudahan Yang Maha Kuasa membantu berapapun beratnya beban yang harus dipikulkan di pundak mereka berdua. Tuhan tidak akan membebani yang tidak sanggup dipikul. Tuhan sudah menjanjikan akan memberikan kemudahan sesudah kesulitan.

“Thole cah bagus, kamu menjadi cucuking ajurit,” Madsani berpesan kepada anaknya sebelum keberangkatan ke kota untuk belajar. Menyelesaikan studi di sekolah tinggi untuk belajar ilmu, belajar pengalaman dan belajar hidup serta kehidupan.  Pendidikan yang sesungguhnya ada di tengah masyarakat, pendidikan tentang kehidupan dan hari esok yang membentang luas di hadapan setiap generasi mendatang.

Paidi hanya menganggukkan kepala, tidak membantah juga tidak bertanya. Lamat-lamat Paidi teringat Ramak-Biyungnya pernah menceritakan, Paidi sebagai penerus perjuangan para prajurit di medan peperangan yang paling dahsyat.

“Cucuking ajurit,” Paidi teringat kalimat itu. Ketika itu moyangnya menceritakan bagaimana para prajurit Mataram nglurug sagelar sak papan, menggelar pasukan penuh menghadapi kumpeni yang mencoba ngraman, njungking kawibanan dalem.

Dalam perjalanan ke kota Paidi lebih banyak diam, memikirkan bagaimana menjalani kehidupan baru. Berinteraksi dengan dunia yang baru,  teman bau dan lingkungan yang masih asing. Dalam hati Paidi berkeyakinan, dalam setiap kesulitan akan ada kemudahan.

Tugas utama Paidi sekarang bagaimana sesegera menyelesaikan sekolah  tinggi, mengurangi beban yang menggelayut  di pundak kedua orangtunya. Bukankan masih banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan kedua bapak biyungnya.(bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *