Home / DWIDJO / Api Cinta (90): Saatnya yang Serba Susah dan Nelangsa Ditinggalkan

Api Cinta (90): Saatnya yang Serba Susah dan Nelangsa Ditinggalkan

Hijrah, menempuh perjalanan panjang. Melakukan perjalanan mencapai tanah harapan. Satu harapannya yakni untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang diidam-idamkan semua orang yakni kemakmuran, kesejahteraan lahir dan batin.  

Bukan kehidupan seperti sekarang, serba susah dan nelangsa. Menjalani kehidupan yang layak saja sangat susah didapatkan.  Padahal anak-anak harus bersekolah, mendapat kehidupan yang wajar, sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. Namun semua itu hanya angan-angan belaka, untuk mewujudkannya saja seperti menggantang asap, hanya di awang-awang.

Madsani dan Madanom sering berbicara, bagaimana menjalani kehidupan yang layak. Kehidupan seperti kebanyakan orang, sandang pangan dan papan  cukup. Tidak berlebihan memang, memenuhi kebutuhan makan tiga kali sehari, syukur kalau dapat lauk pauk atau buah sekaligus.

Syukur dapat memenuhi kebutuhan sandang secara wajar, juga tidak berlebihan kalau dapat mengganti pakaian anak-anak setahun sekali. Syukur kalau lebih dari itu, mengganti pakaian dan telesan untuk sekali dalam setengah tahun. Syukur kalau dapat lebih baik dari itu semua.

Papan, rumah tinggal yang nyaman bukan menjadi cita-cita. Kalau tidak kehujanan dan kepanasan saja sudah cukup. Syukur dapat melakukan pengecetan setahun sekali, ada halaman yang luas dan tanaman yang menyejukkan.

Selama ini semua hanya angan-angan belaka. Masih dalam batas cita-cita, tergambar dalam benak memang kehidupan yang lebih baik. Dapat memberikan makanan secara layak kepada anak-anak, syukur kalau memenuhi kebutuhan gizi mereka, makan yang memenuhi standar empat sehat lima sempurna.

Angan-angan memberikan pakaian layak setahun sekali, terkadang lebih. Sepanjang tahun pakaian anak-anak yang dari itu ke itu lagi. Warna pakaian yang semua bersih bersinar, lama kelamaan menjadi redup bahkan hingga gambarnya hilang sama sekali. Namun semua itu masih sebatas khayalan belaka.

Rumah sebagai konsep budaya masih dalam angan-angan belaka. Konsep budaya rumah sebagai baiti janati masih sebatas di alam khayal belaka. Belum dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata, selain karena memang rumah idamannya belum ada. Untuk mengisi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat masih jauh panggang dari api.

Madsani dan Madanom masih berangan-angan, lebih banyak mengkhayalkan kehidupan yang sehat sejahtera sebagaimana diidamkan banyak orang. Namun untuk memperjuangkan membutuhkan waktu lama, tidak cukup satu generasi bahkan umurnya terlalu pendek untuk dapat mewujudkan cita-cita besar yang diidamkan sejak sangat lama.

Atau terlalu banyak pekerjaan yang masih harus disaelesaikan untuk mewujudkan cita-cita besar bagi keduanya, meski bagi kebanyakan orang bukan pekerjaan besar, namun bagi keduanya hal itu merupakan pekerjaan besar yang melelahkan, membutuhkan waktu lama dan banyak pengorbanan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *