Home / DWIDJO / Api Cinta (87): Memisahkan sama sekali Keduanya juga akan Berisiko

Api Cinta (87): Memisahkan sama sekali Keduanya juga akan Berisiko

Madanom terus mendesak suaminya   agar melakukan sesuatu, melakukan sesuatu secara benar untuk menyelamatkan masa depan anaknya.

“Sekarang,” kata Madanom.

“Sekarang dan tidak boleh ditunda lagi,”

“Sekarang waktunya, tidak dapat dimundurkan,”

“Sekarang atau kita akan terlambat  dan menyesal selamanya,”

“Sekarang kita harus melakukan sesuatu yang benar agar tidak terjadi kesalahan,” kata Madanom mendesak.

Sesungguhnyalah menyelamatkan masa depan keluarga besar Madsani yang hari ini tengah menghadapi problema besar bagaimana membuat jalan lurus untuk anak-anak dan keturunannya.

Banyak jalan yang harus ditempuh, banyak juga rintangan yang bakal dihadapi. Sebanyak itu juga permasalahan yang menghadang untuk diselesaikan. Padahal perjalanan masih sangat panjang, ibarat sebuat lomba lari, mereka tengah menghadapi lari marathon sehingga membutuhkan stamina yang luar biasa untuk dapat mencapai garis finish.

Madasni tidak dapat berbuat lain, ketika Madanom istrinya mendesak dengan nada sangat. Satu yang dilakukan Madsani, mengiyakan semua keinginan istrinya. Kalau tidak bisa berabe, karena permasalahan akan bertambah rumit, panjang dan semakin sulit diselesaikan. Selagi permasalahan tidak bertumpuk, tidak tumpang tindih segera saja sehingga akan lebih mudah, cepat dan tidak berlarut-larut menghabiskan energi.

Pertama yang harus dilakukan Madsani menyepakati dengan sikap dan pendapat Madanom istrinya. Bagaimana menyelesaikan secepatnya masalah anaknya Paidi dan Sri Lanji, bagaimana menyatukan keduanya yang sudah terpisah. Hal itu sangat mustahil, mendatangkan Lanji dalam suasana demikian juga sama saja dengan bunuh diri.

Memisahkan sama sekali keduanya juga akan berisiko, terpisah dalam keadaan terpaksa saja Paidi anaknya sudah kelimpungan. Bagaimana kalau terpisah dalam waktu yang sangat lama, tanpa kepastian dan tanpa keputusan. Membiarkan saja permasalahan berlalu sambil menunggu datangnya nasib baik untuk turut menyelesaikan, terbukti membuat Madanom istrinya, bersungut-sungut sepanjang hari.

 

Satu hal yang masih mungkin dilakukan bermusyawarah, mencari jalan keluar terbaik bagaimana pendapat satu sama yang lain disatukan untuk memperoleh jalan keluar terbaik. Apapun keputusan yang diambil, sudah dimusyawarahkan sehingga kalaupun muncul risiko menjadi tanggung jawab bersama di antara sesama warga dan anggota keluarga. Hasil bersama akan jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil pemikiran seorang diri.

“Cah bagus anakku,” kata Madsani kepada Paidi yang duduk termenung seperti tidak bergairah, tidak ada harapan dan tidak ada cita-cita. Paidi masih terdiam, tidak tahu apa rencana yang bakal dibicarakan bersama. Pikirannya masih kalut membayangkan hari-harinya yang terasa sangat panjang, menjemukan dan melelahkan bagi dirinya.

Paidi tidak seperti biasanya, tidak langsung menyahut panggilan yang jelas ditujukan kepadanya. Kali ini Paidi tampak bermalas-malas menghadapi kenyataan yang tidak diinginkan. Meski kedua bapak biyungnya berada di depan, Paidi seperti tidak bergairah lagi menjalani kehidupan di hari-harinya yang sendiri. Dalam benaknya hanya satu bagaimana menyatukan diri, bersama-sama lagi dengan teman dekat yang terasa sangat dekatnya.

Keinginannya hanya satu bagaimana menjalani kehidupan bersama, bermain seperti tahun-tahun yang lalu ketika masih sekolah di kampungnya. Atau hari-hari terakhir sebelum kepergian Sri Lanji yang entah kemana, seperti ditelan bumi saja. Tidak  ada kabar tidak ada berita, tahu-tahu sang teman sudah tidak ada di hadapannya, menghilang begitu saja tanpa pesan dan kesan.(bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *