Home / DWIDJO / Api Cinta (74): Kekhawatiran Paidi tidak Terjadi…

Api Cinta (74): Kekhawatiran Paidi tidak Terjadi…

Paidi-Mirah seperti kembali bersama. Semua kejadian bersama terulang kembali. Sangat dekat, seperti baru kemarin saja. Semua terpampang di depan mata.

Tidak satupun yang terlewatkan. Malam itu terasa sangat indah. Lebih indah bahkan dibandingkan dengan ketika bersama-sama dengan Mirah dulu. Paidi mimpi indah. Entah bagaimana jalan ceritanya, tiba-tiba saja samuanya basah seperti ngompol. Tapi Paidi tidak menyesal, namun segera bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri, membereskan semuanya. Semua itu dilakukan agar tidak ada yang tahu. Malu bukan kepalang kalau ketahuan Paidi ngompol, meski merasakan kenikmatan luar biasa.

Kamar mandi yang dibatasi getepe, anyaman daun kelapa masih transparan. Kalau tidak pagi-pagi sekali, tetap saja akan ketahuan siapa yang tengah mandi dan beraktivitas di sana. Paidi sengaja pagi-pagi sebelum matahari terbit sudah mandi. Tidak seperti biasanya memang sehingga dapat mengundang tanda tanya orang seisi rumah untuk menanyakan apa gerangan yang sedang terjadi.

Namun kekhawatiran Paidi tidak terjadi. Semua orang di rumah seperti tidak memperdulikan. Bapak-biyungnya sudah sibuk mengurus berbagai keperluan untuk hari itu. Adik-adiknya masih asyik dengan bantal dan sarung yang melingkar. Pagi itu memang cerah, namun sedikit bedhidhing hawa udara pagi kemarau memang menusuk tulang.

Pagi itu Paidi langsung mempersiapkan diri. Menata keperluan sekolah, memeriksa keadaan sepeda pancal yang setia mengantarkan kemana saja pergi. Sesudah membantu biyung seperlunya. Sarapan pagi sedapatnya, sego wadhang nasi yang ditanak sore hari dapat menjadi ganjel sampai siang ketika pulang dari tempat pembelajaran di sekolah.

Setelah berpamitan sambil mancal sepeda Paidi ngabur bagitu saja. Mengayuh sepedanya kencang, ingin segera sampai di sekolah. Semangatnya muncul kembali untuk belajar agar cepat selesai sekolah untuk kemudian merantau ke metropolitan yang entah seperti apa. Rasanya tidak sabar segera selesai sekolah, mencari Mirah syukur dapat kerja lumayan sehingga dapat menghidupi diri, menabung dan sedikit mengirimkan ke biyung.

Paidi bersiul-siul kecil ketika memasuki halaman sekolah. Hal itu menandakan hatinya tengah berbunga-bunga. Berpapasan dengan Sri Wibowo dan Sri Wiwoho yang baru saja meletakkan sepeda di bagian belakang sekolah. Sambil menunggu jam pelajaran pertama, mereka duduk-duduk di kelas. Sambil merapikan buku pelajaran, membaca dan kegiatan ringan yang tidak menguras tenaga dan fikiran.

“Bahagia sekali,”. Tiba-tiba saja Sri Wibowo dan Sri Wiwoho menghampiri Paidi yang duduk di pojok kelas. Tidak ada jawaban dari yang ditanya, hanya tersenyum kecil sambil menengadahkan wajah. Membayangkan malam yang indah, mimpi bersama Mirah. Indah benar-benar sebuah karunia, Mirah yang tampak lebih dewasa dalam mimpi. Mengenakan baju yang pas dengan penampilannya, terusan panjang warna putih kesukaannya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

LKS Lansia Suko Manunggal Sukoharjo Studi Banding di Berbah

Ngaglik, Kabarno.com Bertempat di Gedung Kantor Lembaga Kesejahteraan Sosial Lansia Tirto Wening Kapanewon Berbah menerima …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *