Home / DWIDJO / Api Cinta (71): Paidi Asik Repek, Mencari Kayu Bakar

Api Cinta (71): Paidi Asik Repek, Mencari Kayu Bakar

Niatnya sudah bulat, untuk tidak pindah ke lain hati.  Kalaupun Sri Wibowo dan Sri Wiwoho mengajak bergabung dalam kelompoknya.

Bersama dengan tiga dara, namun tidak boleh mengalihkan perhatian. Perhatian dan pengertiannya hanya tertuju kepada Mirah. Meski nun jauh di luar jangkauan mata memandang, meski Mirah jauh dari jangkauan akal dan pikirannya. Selama masih ada mimpi-mimpi bersamanya, sudahlah cukup.

Studi klub yang dibangun bersama-sama, agaknya bukan satu alasan untuk memberikan perhatian kepada anggota studi klub. Belajar bersama hanya menjadi alasan untuk saling bertemu, bercengkerama dan membahas masalah-masalah sekitar sekolah.

Pelajaran sekolah dan pekerjaan rumah yang diselesaikan bersama hanyalah satu alasan. Meski kelihatan hasilnya, namun bukan satu-satunya cara untuk melakukan peningkatan kesempatan belajar. Apalagi bagi Paidi selain pekerjaan rumah berupa tugas sekolah, membantu orang tua, mengasuh adik-adik lebih banyak menyita perhatian.

Masih banyak pekerjaan rumah lain yang harus dituntaskan. Banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian, menguras tenaga dan pikiran. Tawaran untuk bergabung dalam studi klub tidak menarik perhatian Paidi. Baginya lebih banyak perhatian yang harus diberikan kepada adik-adik, menyelesaikan pekerjaan rumah sendiri dan membantu orang tua. Semuanya akan lebih bermakna, dibandingkan dengan kumpul bersama dan membahas masalah-masalah keseharian.

Paidi menyadari, banyak manfaat bergabung dalam kelompok belajar. Namun belajar sendiri juga dapat dilakukan, dapat dimaksimalkan. Selain kesempatan yang tidak banyak. Pekerjaan lain sudah menunggu untuk diselesaikan. Repek, mencari kayu bakar. Ngarit, mencari makanan ternak dan sejumlah pekerjaan tambahan yang sudah menunggu.

Sebagai lanang mbareb lebih dibutuhkan menjaga keluarga. Mengasuh adik-adik yang masih kecil. Menggantikan peran orangtua ketika mereka sedang tidak di rumah. Sebagai wakil dari orang tua akan banyak membutuhkan kesungguhan. Bagaimana menjelaskan kepada tamu-tamu yang datang menanyakan orang tuanya. Atau mbagekke, menyapa tetangga yang sekedar lewat sebagai bentuk ubosito, sopan santun kepada tetangga.

Pelajaran yang hanya ada di masyarakat, tidak di bangku sekolah. Semua itu harus dipelajari sebagai bagian dari pendidikan secara keseluruhan. Pelajaran di kelas sangat banyak, guru tidak sempat lagi memberikan bimbingan teknis. Apalagi menyangkut tata kehidupan dan pergaulan di masyarakatnya.  Paidi merasa perlu mendalami masalah-masalah hidup keseharian sehingga dapat menjadi bekal kelak di kemudian hari. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *