Home / DWIDJO / Api Cinta (62): Baru Kali Ini Hatinya Terasa Komplang

Api Cinta (62): Baru Kali Ini Hatinya Terasa Komplang

Sebulan dua bulan berlangsung, Paidi menjalani apa adanya. Setiap pagi dengan kesetiaan tinggi menyusuri jalan-jalan berlubang, terkadang becek dan menyisakan bau anyir.

Dengan sepeda jengki kesayangannya, ibarat sejoli yang saling setia dengan peran dan fungsi masing-masing. Setiap pagi dan petang si jengki setia mengantarkan kemana Paidi mengayuh. Di kesempatan lain Paidilah yang harus bergantian mencurahkan kasih sayangnya kepada si jengki.

Komplang. Terasa lengang. Biasanya Mirah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika si jengki dan Paidi. Entah mengapa semuanya bagai tiga serangkai  yang saling mengisi dan memberi. Seolah tidak satupun di antara mereka dapat dipisahkan. Kemanapun mereka bertiga. Susah dan sedih, senang dan gembira selalu bersama-sama. Entah mengapa baru kali ini terasa komplang.

Padahal selama sebulan, dua bulan belakangan ini tiga serangkai tinggal menjadi dua sejoli. Kepergian Mirah yang begitu mendadak meninggalkan kesan mendalam. Ada rasa sedih, galau namun di sisi lain ada pemahaman. Kepergian yang dimaksudkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Untuk meraih harapan dan cita-cita yang tergantung tinggi di angkasa.

Kepergian Mirah untuk mencapai harapan dan cita-cita. Sementara Paidi belajar untuk menggapai harapan dan cita-cita yang sama. Hanya jalannya yang berbeda, jalan yang ditempuh berlainan. Namun semuanya sama untuk mencapai harapan, menggapai cita-cita. Kepergian merantau dan semangat belajar memiliki kesamaan pandangan. Ada kemiripan berupa semangat juang yang membara. Bentuknya saja yang tidak sama persis, namun hakikatnya satu.

Paidi sampai kepada satu kesimpulan untuk tidak mengenal pacar dan pacaran. Kesimpulan diambil atas berbagai dasar dan pertimbangan. Bagaimanapun menyatukan dua dunia akan menghadapi banyak kendala. Satu ingin pergi ke barat, sedang yang lain bermaksud ke timur. Akan sering terjadi perselisihan, terjadi cek-cok. Banyak kesempatan  terbuang untuk menyamakan pandangan mengenai satu permasalahan yang terkadang sangat sepele.

Kesimpulan yang diambil sudah bulat. Tidak ada tawar-menawar. Sebelum menyelesaikan seluruh permasalahan menyangkut pendidikan dan pengajaran sampai sukses akan setia dengan kesendiriannya. Sudah menjadi ketetapan hatinya untuk hanya bermesraan dengan si jengki. Teman setia yang akan mengantar kemana saja dikehendaki. Kesetiaannya tidak ada bandingan, bahkan ketika hujan lebat dan terik menyengat si jengki akan selalu sendhiko dhawuh, tanpa reserve.

Sebelum dalam mewujudkan cita-cita dan harapan bapak-biyungnya, Paidi akan setia dengan semangat yang mendasari kesendiriannya. Resi Bismo menyemangati sebagai satrio pinandhito. Dunia pakeliran meski hanya sebatas khayalan, namun memberi semangat untuk setia dengan cita-cita dan harapan yang dipancangkan sebelumnya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *