Home / DWIDJO / Api Cinta (60): Benarkah Pacar dan Pacaran akan Mendukung Semangat Belajar

Api Cinta (60): Benarkah Pacar dan Pacaran akan Mendukung Semangat Belajar

Ke depan Paidi harus dapat membantu orang tua untuk ukuran yang lebih besar lagi. Adik-adiknya mulai dapat membantu menggantikan peran yang dilakukan.  Saatnya sekarang Paidi memberikan bantuan dalam bentuk yang lebih bermakna.

Bagaimana misalnya membantu mencari tambahan penghasilan untuk keperluan sekolah. Bagaimana caranya, ini yang masih harus dipikirkan agar usaha membantu justru tidak menganggu kesempatannya belajar.

“Pacar.”

“Pacar-pacaran.”

“Yang-yangan dan sejenisnya.”

“Tidak ada dalam kamus apapun nama dan bentuknya.”

“Bagaimana kalau pacar justru memberi semangat belajar.”

“Belajar bersama toh dapat meningkatkan kebersamaan dalam belajar.”

“Alasan, alasan saja yang dapat dibuat-buat.”

“Berbagai alasan dapat dicari-cari.”

“Hanya alasan belaka.”

Paidi berdialog dengan dirinya sendiri. Mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh atau tidak ditempuh. Semua diperhitungkan secara matang. Semua harus menjadi bagian dari perhitungan. Mempertimbangkan masak-masak sebelum melangkah, agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Tidak salah dalam bertindak. Satu kesalahan saja akan menjadi penyesalan di kemudian hari yang tidak ada habis-habisnya.

Penyesalan yang tidak datang di awal kejadian. Penyesalan yang selalu datang terlambat. Tidak ada penyesalan kalau datangnya lebih awal. Justru karena datang terlambat, penyesalan menjadi sebuah penyesalan. Coba saja kalau penyesalan datang di awal kejadian. Hal itu akan menyalahi kodrat alam, ndisiki sak durunge winarah. Tidak boleh terjadi dan tidak akan terjadi.

Paidi tidak mau terjadi. Tidak mau menyesali di kemudian hari. Untuk itu harus memperhitungkan segala tindakan. Apapun yang akan diperbuat, mutlak membutuhkan perhitungan. Setiap langkah harus diperhitungkan. Setiap tindakan harus menjadi bagian dari sikap. Setiap sikap harus mencerminkan semangat dan cita-cita. Semangat dan cita-cita harus diwujudkan dengan perjuangan. Kalau perlu dengan perjuangan yang sangat keras.

“Pacar,”

“Pacaran,”

Benarkah pacar dan pacaran akan mendukung semangat belajar. Benarkah pacar dan pacaran justru melemahkan semangat belajar. Sebaliknya benarkah pacar dan pacaran dapat mengangu semangat belajar. Atau apakah pacar dan pacaran dapat mengakibatkan semangat belajar menjadi terganggu.

Menjadikan bahan pertimbangan  sebelum memutuskan untuk memiliki pacar dan melakukan aktivitas pacaran sebagaimana layaknya anak-anak remaja.

Paidi masih mempertimbangkan sebelum nantinya mengambil keputusan untuk berpacaran atau tidak berpacaran. Banyak pertimbangan yang harus di ambil, sebanyak perhitungan yang harus dipakai.

Paidi rajin bertanya kepada teman yang satu angkatan di atas kelasnya. Selain mencari bahan pertimbangan juga menggali segala kemungkinan yang dapat menjadi landasan sebelum mengambil keputusan sehingga tidak salah dalam melangkah.

Mendasarkan kepada kata hatinya saja tidak akan pernah cukup. Pengalaman dan asam garam kehidupan sangat diperlukan. Akan sangat berbeda antara teori dan prakteknya. Sering kali teori kehidupan jauh berlainan dengan praktek di lapangan. Kelihatannya gampang, namun ketika dipraktekkan sulit luar biasa. Sangat mungkin terjadi sebaliknya, tampak sulit dijalankan tapi ketika dilaksanakan tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya.

“Ojo cedhak-cedhak cah wedok,”

“Suk mben wae, nek wis rampung sekolah,”

“Suk mben nek wis iso nggolek penggaotan dhewe,”

“Wong wedok ki okeh, nek wis wektune tekan bakal teko,”

“Rasah ndadak digoleki, yen titi wancine wis teko bakal diparingi,”

Biyung selalu mengatakan demikian. Wanti-wanti kepada semua anaknya. Agar tidak salah dalam melangkah. Tidak salah dalam bersikap. Tidak salam dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan penting menyangkut masa depan, hidup dan kehidupan. Hidup bersama dalam wadah yang namanya keluarga. Ambangun bale griyo itu, gampang tapi susah.

Sebaliknya kalau dibuat susah akan menjadi susah yang sebenarnya. Untuk itu harus belajar menjalani kehidupan ini dengan kesungguhan guna mencapai kemudahan.

Pertanggungjawabannya tidak hanya sekarang, melainkan akan dibawa sampai mati. Sebuah pertanggungjawaban yang tidak ringan karena semua harus dapat dipertanggungjawabkan.

Bukan main-main, karena memang bukan barang mainan yang untuk dipermainkan. Kehidupan ini memang bukan sembarangan, meski hanya sebatas senda gurau saja namun hakikatnya tetap membutuhkan perjuangan. Sebab kehidupan ini membutuhkan pertanggungjawaban yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Harus dijalani dengan kesungguhan, secara sungguh-sungguh.(bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *