Home / DWIDJO / Api Cinta (59): Paling Mirah Sudah Kawin di Sana

Api Cinta (59): Paling Mirah Sudah Kawin di Sana

Paidi justru tengah memikirkan bagaimana menyelesaikan pendidikan tiga tahun ke depan. Bagaimana adik-adiknya juga menyelesaikan pendidikan, minimal sama dengan dirinya.

Demikian halnya dengan mbakyunya yang juga membutuhkan pendidikan. Meski lahir sebagai perempuan, dalam hal pendidikan tidak boleh ada perbedaan.  Pendidikan setinggi-tingginya harus diselesaikan, meski harus membanting tulang untuk mengumpulkan biaya.

“Sudahlah, biarlah,”

“Tak usah terlalu dipikirkan,”

“Paling Mirah sudah kawin di sana,”

“Kalau tidak segera kawin, paling juga digondol orang,”

“Sudah cari gantinya, banyak teman dulu yang kini bergabung di sekolah ini,”

Sri Widodo dan Sri Wiwoho masih terus memborbardir dengan berbagai pertanyaan menggoda. Paidi tetap dengan pendiriannya. Tetap dengan alam pikirannya. Tidak bergeming sedikit juga. Perhatian dan pikirannya tertuju kepada bagaimana menyelesaikan pendidikan tiga tahun mendatang. Selain sejumlah biaya yang harus ditanggung orangtuanya, bagaimana menyelesaikan tepat waktu. Keduanya harus berjalan seiring dan sejalan. Tidak boleh ada yang terpisahkan di antara keduanya.

Hal itu berarti tidak boleh ada kesempatan yang dapat memperpanjang masa belajarnya di sekolah yang sama. Tidak boleh tinggal kelas, meski hanya sekali saja. Berarti juga akan menyebabkan permasalahan makin berlarut. Biaya yang harus dikeluarkan akan bertambah panjang saja. Setahun tertinggal kelas berarti biaya harus tambah setahun.

Apapun alasannya tiga tahun masa belajar harus selesai tepat waktu. Hambatan, halangan dan berbagai bentuk kendala harus disingkirkan. Sekecil apapun harus dibuang jauh-jauh. Potensi gangguan yang muncul harus dienyahkan. Jangan sampai mendekat. Apalagi benar-benar menjadi gangguan yang dapat membuyarkan seluruh harapan dan keinginan bersama.

Paidi sampai kepada satu kesimpulan. Belajar dan belajar dan hanya belajar. Dengan begitu pelajaran di kelas dapat diikuti. Pendidikan dapat diselesaikan. Tidak ada kesempatan membuang-buang waktu. Semua yang tidak efisien harus dipangkas, dibabat habis. Hanya satu yang ada dalam benaknya, bagaimana menyelesaikan sekolah dengan sangat cepat. Kalau perlu tidak usah sampai tiga tahun, waktu tiga tahun terlalu lama hanya untuk mempelajari bagaimana orang dapat bekerja guna mendapatkan penghasilan bagi keluarganya.

Terbayang bagaimana Paidi harus membantu orangtua mereka menyelesaikan urusan rumah. Ketika bapaknya tidak di rumah, Paidilah yang menjadi pengganti sementara. Bukan hanya mengurus adik-adiknya, tidak ketinggalan mengurus ternak dan keperluan dapur. Kalau perlu bahkan memanjat genting yang mlorot tertiup angin agar ketika hujan tidak bocor. Semua itu harus dapat dilakukan, setelah dirinya berangkat remaja.

Kalau ketika di sekolah kampung, Paidi membantu ibunya mencari kayu bakar untuk memasak di dapur. Ngangsu, mengangkat air dari sumur tetangga yang airnya jauh lebih jernih. Atau berbelanja keperluan dapur ke pasar, untuk keperluan memasak keesokan harinya. Sekarang bantuan kepada biyungnya harus lebih bermakna. Bantuan yang tidak sekedar mencari kayu bakar untuk keperluan dapur. Juga bukan lagi ngangsu, menimba air di sumur tetangga.(bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *