Home / DWIDJO / Api Cinta (55): Teringat Mirah, Perasaan Paidi tidak Nyaman

Api Cinta (55): Teringat Mirah, Perasaan Paidi tidak Nyaman

Tiba-tiba saja Mirah yang selama ini bersama-sama hilang. Seperti ditelan bumi, tidak memberi kabar. Tidak memberi peringatan dan tiba-tiba saja menghilang. Ada ganjalan di dada Paidi.

Ada perasaan entah mengapa, Paidi tidak dapat mengungkapkan. Hanya kalau teringat Mirah, perasaannya menjadi tidak nyaman. Sering khawatir dan seperti meninggalkan anak kecil di tengah sawah sendirian. Selama beberapa pekan Paidi masih memikirkan, terkadang membayangkan bagaimana menjalani kehidupan di luar kampung halaman.

Paidi mulai menyibukkan diri dengan kegiatan barunya di sekolah. Meski ketika sendiri di rumah, sepulang sekolah ada rasa nglangut. Kosong dan tidak ada gairah untuk menjalani malam hingga menjelang pagi. Malam terasa sangat panjangnya. Ketika tertidur sering terjaga. Terkadang malam-malam terbangun, sendiri dan susah tidur hingga pagi menjelang.

Lama Paidi dapat menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Di sekolah sering menyendiri, duduk berlama-lama di perpustakaan. Sering mencari-cari buku yang sebenarnya tidak dicari. Sering juga hanya membolak-balik halaman. Tidak membacanya. Juga tidak sedang mencari bahan-bahan belajar untuk keperluan tugas sekolah. Buku-buku agama juga tidak menarik perhatiannya, bahkan buku cerita, cerpen dan novel yang selama ini menjadi kegemaran diacuhkan begitu saja.

Sampai akhirnya buku kecil yang sudah lusuh, jatuh dari rak buku. Judulnya sederhana, Sabar. Bagaimana mencapai derajat kesabaran. Paidi membawanya ke meja untuk meminjam beberapa hari agar dapat dibaca di sela-sela belajar. Di rumah kecil kemungkinan dapat meluangkan waktu untuk membaca. Banyak pekerjaan kecil di rumah yang membutuhkan tangan-tangan kecilnya untuk diselesaikan.

Sabar. Sebuah kata yang sederhana. Namun bagaimana mendapatkan makna kesabaran. Sabar, mudah dikatakan tapi sulit untuk menjadi bagian dari kehidupan. Apalagi ketika masih sangat muda, remaja tanggung. Masih membutuhkan semangat dan dukungan. Bagaimana mungkin menjalani kesabaran kalau kegemaran yang selama bertahun-tahun hilang begitu saja. Teman yang selama ini menjadi tempat berbagi pergi meninggalkan tanpa pesan dan kesan.

Belum selesai perasaannya dengan Mirah. Paidi harus memikirkan kelanjutan belajarnya. Paidi masih galau memikirkan sekolahnya. Kalau terus belajar, bagaimana dengan adik-adiknya yang juga membutuhkan pendidikan. Mbakyunya juga butuh biaya yang sama untuk menyelesaikan pendidikan. Bukan hanya Paidi dan adik-adiknya saja, Ngadiati mbakyu satu-satunya juga memerlukan biaya untuk menyelesaikan pendidikan yang tinggal beberapa lama lagi. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *