Home / DWIDJO / Api Cinta (54): Mirah Pergi Kata Perpisahan

Api Cinta (54): Mirah Pergi Kata Perpisahan

Semburat warna merah itu justru menjadi pertanda bagi Paidi akan munculnya banyak permasalahan di kemudian hari. Banyak permasalahan yang membutuhkan penyelesaian segera.

Semua bermuara kepada satu permasalahan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk keperluan hidup sehari-hari bersama kakak dan adiknya, orangtua Paidi membutuhkan kesungguhan dalam berusaha agar hari ini benar-benar menjelang malam.

Paidi akhirnya menjalani kehidupannya seperti dikehendaki alam. Apapun yang terjadi biarlah terjadi. Semua sudah ada jalannya sendiri-sendiri. Tinggal bagaimana menjalani arah alur perjalanan yang sudah terbentang di hadapan. Jalan membentang  yang luas memang sudah terhampar. Sekali-sekali bukan tanpa onak dan duri, sangat mungkin gelombang pasang siap menghadang. Badai yang datang seketika dapat memporak-porandakan apa saja yang terbentang.

Paidi akhirnya meneruskan pendidikan. Meski galau sempat menggelayuti pikiran. Namun kenyataan yang harus dihadapi sering berbeda dengan anganan.  Pendidikan lebih tinggi harus ditempuh meski harus tertatih-tatih memikirkan berbagai hal. Konsekuensinya konsentrasi belajar menjadi tidak maksimal. Padahal seluruh kemampuan untuk mengumpulkan biaya dikerahkan orangtua Paidi yang bekerja siang malam tanpa kenal lelah.

Mirah yang hari-hari terakhir acara perpisahan menghiasi alam dan pikirannya. Sejenak hilang dari pandangan mata. Padahal rumah Mirah tidak lebih dari sepandangan mata. Sebelum hari ini seperti baru kemarin saja acara perpisahan berlangsung, wajah Mirah masih menari-nari di benak. Kekalutan masih menggelayuti seluruh sanubari. Perhatiannya menjadi abai terhadap berbagai permasalahan, termasuk Mirah yang selama ini mengharu-biru.

Sayup-sayup terdengar Mirah tidak meneruskan  sekolah. Banyak pertimbangan yang diajukan, sebanyak permasalahan dan hanya mereka  yang mengetahui. Pernah ketika seperjalanan pulang, Mirah mengemukakan bagaimana kalau suatu saat harus berpisah. Mirah tidak hendak ada perpisahan itu, namun terkadang orang tuanya menentukan lain. Pindah tempat tinggal untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Kemungkinan lain Mirah akan menyertai kakaknya hidup di kota. Menjalani kehidupan baru sebagai warga metropolitan. Atau mungkin mengikuti kakak tertuanya yang hijrah di pulau seberang, transmigrasi. Konon kehidupan di rantau lebih menjanjikan dibandingkan dengan kehidupan di kampong halaman. Terbukti kerabat yang pulang dari transmigrasi tampak mentereng.

Paidi-Mirah kemungkinan tidak dapat bertemu setiap hari. Mereka tidak dapat bersama-sama berangkat ke sekolah. Mereka tidak dapat terus berboncengan sepeda seperti selama tiga tahun belakangan ini. Berangkat dan pulang sekolah bersama-sama, bercengkerama dan bercanda. Namun semua itu tidak akan terulang kembali.  Paidi-Mirah akan menjalani kehidupannya sendiri-sendiri. Paidi meneruskan kelangsungan pendidikannya. Sedangkan Mirah entah apa yang akan mengisi hari-harinya.

Tidak ada upacara perpisahan, juga tidak ada kata perpisahan. Semua berjalan apa adanya. Semua yang terjadi biarlah terjadi, semua yang berlalu biarlah menjadi catatan saja. Satu hal yang pasti, hari-hari akan terus berjalan, bergulir matahari terbit dan tenggelam. Terkadang rembulan menggantikan ketika purnama datang menyapa malam-malam temaram.(bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *