Home / DWIDJO / Api Cinta (53): Pokoke Le, untuk Keperluan Sekolah Jangan Khawatir

Api Cinta (53): Pokoke Le, untuk Keperluan Sekolah Jangan Khawatir

Paidi masih memikirkan bagaimana meneruskan pendidikan ke tingkat atas. Sudah barang tentu akan banyak tambahan biaya. Kalau sekolah dasar dan menengah pertama membutuhkan dana Rp10 ribu.  Sekolah menengah atas biayanya akan lebih tinggi lagi. Bisa Rp20 ribu atau Rp30 ribu  bahkan dapat melonjak sampai Rp50 ribu.

Belum lagi biaya lain, keperluan di luar jam sekolah. Atau biaya tidak terduga yang dapat muncul secara tiba-tiba. Paidi memang menyadari perlunya bersungguh-sungguh. Paidi juga memahami orang tuanya akan bersungguh-sungguh mengusahakan segala biaya yang diperlukan untuk sekolah.

Selama masih mampu akan terus diusahakan, meskipun harus menjual seluruh harta yang dimiliki misalnya. Orang tua Paidi akan menepati janjinya. Mereka yakin benar untuk keperluan pendidikan, akan selalu ditemukan jalan keluar yang paling baik.

Madsani juga sudah menjanjikan akan mencarikan segala keperluan, termasuk biaya yang harus ditanggung untuk keperluan belajar. Pendidikan setinggi-tingginya harus dapat diraih, meski harus membanting tulang. Bekerja siang dan malam, semuanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anak. Apalagi Paidi anak lanang pertama yang diharapkan menjadi pengganti dari orang tua yang cepat atau lambat akan lengser keprabon.

“Pokoke le, kalau untuk keperluan sekolah jangan khawatir bapak akan mengusahakan,” Madsani menegaskan suatu kali ketika tengah berkumpul di antara anak-anak dan istri di senthong tengen. Tidak banyak kesempatan berkumpul di antara mereka, masing-masing memiliki kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan. Madsani harus bekerja membanting tulang, siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang diidamkan.

Paidi sebagai anak yang lahir lanang pertama, diharapkan menjadi cucuing ajurit bagi adik-adiknya di kemudian hari. dalam banyak hal Paidi harus tampil memberikan jalan sebagai pemimpin. Kepemimpinan yang harus diambil bukan saja dalam rumah, melainkan ketika adik-adik yang dipimpinnya membutuhkan dukungan, perhatian dan keberpihakan.

Madsani yang lebih banyak di luar rumah, seperti memberikan tongkat komando kepada Paidi. Dalam banyak hal Paidilah yang harus tampil sebagai sosok di depan. Bukan saja ketika mereka membutuhkan sosok kebapakan. Sebagai wali yang harus tampil di depan, tidak boleh tidak harus mrantasi. Paidi memanggul beban berat di pundaknya. Bergelayut padi sepocong, masih mikul damen dan ngindit untuk keperluan lain.

Meskipun Madsani tegas memberikan jaminan kepada Paidi tentang biaya berbagai keperluan sekolah. Namn tidak demikian halnya dengan Paidi yang harus menjalani kehidupan sehari-hari. ada semburat warna merah di ufuk sebelah barat, menggantung seperti pelangi senja yang menampakkan keindahan. Sebaliknya bagi Paidi warna itu menyiratkan suasana nelangsa berkepanjangan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

LKS Lansia Suko Manunggal Sukoharjo Studi Banding di Berbah

Ngaglik, Kabarno.com Bertempat di Gedung Kantor Lembaga Kesejahteraan Sosial Lansia Tirto Wening Kapanewon Berbah menerima …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *