Home / DWIDJO / Api Cinta (39): Kesempatan Bersama Mirah mulai Hilang

Api Cinta (39): Kesempatan Bersama Mirah mulai Hilang

Selepas sekolah  Paidi mulai banyak kegiatan, terutama membantu orangtuanya. Bermain bersama Mirah yang menjadi kebiasaan mulai berkurang. Hanya sesekali saja Paidi bermain dengan Mirah. Adiknya mulai membutuhkan perhatian. Terlebih ketika Madanom mulai menyiapkan berbagai keperluan di dapur. Paidi harus membantu orangtua mengasuh adik-adiknya. Hal itu harus  agar adik-adiknya yang masih kecil selamat dari berbagai kemungkinan datangnya bahaya.

Menjaga adik merupakan pekerjaan yang membutuhkan keseriusan. Bukan karena beratnya beban yang harus dipikul, melainkan waktu yang banyak tersita untuk memperhatikan tingkah polah bayi yang mulai beranjak balita. Merangkak kesana kemari, sesekali harus menjaga dari bahaya yang mengancam. Semuanya tengah dalam proses belajar, si kecil tengah mencoba memahami lingkungan. Sedangkan Paidi lebih banyak belajar mengenal adiknya sebagai anak kecil yang membutuhkan perhatian.

Dalam hati Paidi mengeluh. Kesempatan bermain, bersama Mirah mulai hilang. Hanya sesekali saja dapat bertemu, bersenda gurau dan bercerita kecil tentang masalah keseharian. Semua itu sudah melegakan bagi Paidi, menyejukkan bahkan memberikan kesan mendalam. Namun akhir-akhir ini kesempatan itu tersita untuk membantu orangtua. Paidi merasa harus membantu, sekedar mengambilkan air, mengambil kayu bakar atau membeli barang-barang di warung tetangga.

Terlebih ketika adik Paidi bertambah. Hampir setiap tahun Madanom mengandung anak buah perkawinannya dengan Madsani. Paidi harus lebih banyak menyisihkan waktu untuk membantu orangtuanya. Dalam banyak hal Paidi sebagai anak yang lahir lebih dulu, membantu mengasuh adik-adiknya. Menjaga dari segala kemungkinan yang dapat membahayakan keselamatan anak balita. Namun tetap memberi kesempatan kepada anak-anak kecil itu untuk terus bermain, merangsang pertumbuhan fisiknya.

Dalam hati Paidi ingin menyatakan protes. Waktu dan kesempatan bermainnya menjadi hilang. Mambantu orangtua memang sebuah keharusan. Namun kesempatan bermain juga harus mendapat tempat. Menjaga adik-adik sambil bermain. Namun kewaspadaan tetap diperlukan agar tugas yang dibebankan kepadanya dapat berjalan dengan baik. Keduanya dapat berjalan seiring, tetap membantu orangtua namun juga dapat terus bermain.

Bukan Paidi kalau menyerah dengan keadaan yang dihadapinya. Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk bertemu dengan Mirah. Bagaimanapun sibuknya membantu orangtua, pertemuan dengan Mirah sebuah keharusan. Bertemu dengan Mirah meski hanya sebentar dapat memberikan suasana hangat. Meski hanya bertemu saja, tidak sempat berbincang dan bercengkerama sudah lebih dari cukup bagi Paidi. Selintas melihat sosok Mirah bagi Paidi merupakan kebanggaan tersendiri.

Ketika meneruskan pendidikan sekolah menengah, Paidi dan Mirah juga bersama-sama. Mereka mendapatkan sekolah yang sama. Hanya kelasnya yang berlainan. Berangkat ke sekolah masih bersama-sama. Pulang dari sekolah juga bersama-sama. Hanya kesempatan bermain-main saja yang mulai berkurang. Paidi banyak membantu orangtuanya. Sementara Mirah melakukan rutinitas kesehariannya. Hanya sesekali saja Paidi-Mirah berkumpul dalam satu kesempatan, bersama-sama. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *