Home / DWIDJO / Api Cinta (38): Terbayang Kehidupan Bersama Mirah

Api Cinta (38): Terbayang Kehidupan Bersama Mirah

Suatu kesempatan ketika Paidi dan Mirah bermain berdua. Tidak ada teman lain yang ikut bermain. Mereka benar-benar berdua. Orangtua mereka belum kembali dari sawah dan ladang. Umumnya orangtua di desanya menggarap sawah dan ladang. Selebihnya buruh tani, atau nderep, ndaut, tandur dan matun. Sepanjang masa pekerjaan semacam itu yang dilakukan orangtua di desa. Kalaupun bekerja selain di sawah dan ladang, hanya sebagian kecil yang berdagang. Lebih kecil lagi orangtua yang bekerja kantoran.

Paidi dan Mirah benar-benar berdua seperti Pak Lurah dan Ibu Lurah. Keduanya tengah mempersiapkan diri membangun rumah. Mereka mengambil tempat di pojok ruangan yang temaram. Selain karena tempaan cahaya dari luar ruangan melalui bilik-bilik gedheg, mereka tidak perlu mengambil banyak peralatan untuk mendirikan rumah idaman mereka. Bangku dan kursi dijadikan bahan penyekat. Ada juga pintu dan jendela yang dibuat dari jarik dan selendang orangtua mereka.

Paidi mempersiapkan rumah. Sedangkan Mirah mempersiapkan kamarnya. Di sini ada senthong, di sini pawon dan bale-bale bambu tempat njagong. Senthong kiwo dan senthong tengen. Pak Lurah nang senthong kiwo, Ibu Lurah nang senthong tengen. Njagong bareng  setelah seharian mengurus berbagai keperluan. Lelah dan penat badan sehingga waktunya untuk istirahat dan tidur sebelum esok hari harus melakukan banyak aktivitas lain.

Tanpa disadari mereka benar-benar tidur. Paidi tidur tengkurap, sedangkan Mirah tidur terlentang. Keduanya benar-benar kelelahan. Sampai kedua orangtua mereka kembali dari sawah dan ladang. Mereka belum terbangun juga. Menjelang mentari kembali ke peraduan, mereka baru terjaga.  Menyadari dirinya tertidur bersama, sebagai Pak Lurah dan Ibu Lurah dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Tidak ada apa-apa. Juga tidak terjadi apa-apa. Semua berjalan seperti apa adanya. Hanya perasaan Paidi yang berubah. Terasa seperti benar-benar orangtua. Paidi merasa benar-benar sebagai Pak Lurah. Hidup bersama Ibu Lurah yang hidup dalam kenikmatan. Memiliki jabatan, banyak anak, banyak sawah dan ladang, juga banyak harapan yang dapat dilakukan dalam kehidupan di masa depan.

Dalam hati Paidi merasa senang. Terbayang kehidupan bersama Mirah. Meski hanya dalam kayalan mereka yang masih kanak-kanak. Paidi dan Mirah seperti tidak dapat dipisahkan lagi. Keduanya makin akrab. Keduanya benar-benar seperti sejoli yang tidak hendak dipisahkan sampai kapanpun. Dalam hati kecil Paidi yang masih hijau terpikir kelak di kemudian hari mereka berjodoh di kehidupan yang sebenar-benarnya.

Runtang-runtung, begitu masyarakat memberikan predikat keduanya. Meski orangtua mereka bersaudara jauh, namun keakraban dua tetangga juga terjalin sangat baik. Keduanya bahkan sering bertukar makanan. Saling mengirimkan kalau sedang mendapat tambahan penghasilan. Paidi dan Mirah selalu menjadi pengantar yang baik. Keduanya tidak keberatan, sebaliknya justru semakin gembira ketika mendapatkan kesempatan berkunjung ke masing-masing rumah mereka. Setiap kali keduanya disuruh orangtua mereka menyampaikan hantaran keduanya makan bersama.

Paidi dan Mirah selalu bersama-sama. Semakin hari bertambah akrab saja. Ke sekolah bersama, bermain di rumah bersama. Ketika bepergian juga berdua. Hingga menamatkan sekolah dasar di kampung halamannya. Keduanya masih tampak kekanak-kanakan, mereka masih sering mandi bersama di sungai. Terkadang mereka bermain di bawah hujan dengan telanjang dada, berlarian, berlompatan dan berguling-guling di tanah. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *