Home / DWIDJO / Api Cinta (35): Paidi Dibopong, Ditidurkan di Bawah Pohon Sawo

Api Cinta (35): Paidi Dibopong, Ditidurkan di Bawah Pohon Sawo

Paidi mengharapkan teman-teman sepermainannya berlaku sama dengan para orangtua mereka. Bercengkerama, bersama-sama tertawa dan tersenyum simpul bersama. Namun Paidi tidak mengerti harus memperbicangkan apa yang dapat membuat teman-temannya tersenyum, tertawa, bahkan terpingkal-pingkal.

Ketika bulan purnama tiba. Usai panen padi di kampung sebelah. Suasana menjadi meriah. Orangtua tidak segera tidur, anak-anak berlarian, bermain petak umpet. Anak laki-laki umumnya memilih permainan keras. Ada jethungan, barongan, gobak sodor sampai gobyog, perang memainkan irama kenthongan.

Ada juga anak-anak putri yang bermain dakon, congklak dan jamuran. Suasana malam purnama menjadi benar-benar meriah. Sampai menjelang tengah malam, ketika orangtua mereka mulai mengantuk karena seharian bekerja di sawah anak-anak digiring ke rumah. Keadaan itu berlangsung selama lebih sepekan.

Setelah purnama pertama. Diikuti dengan purnama mulai surut. Makin malam purnama menampakkan diri, makin banyak anak muda yang bercengkerama malam. Ketika musim libur, tidak ada kegiatan lagi di sawah para orangtua juga banyak bercengkerama hingga larut malam. Hanya sedikit anak-anak yang mampu bertahan hingga tengah malam. Sebagian besar sudah pulas tertidur.

Paidi termasuk yang tidak dapat lama-lama di tengah malam. Apalagi kalau malam telah larut. Kantuk tidak dapat ditolak. Tertidur dan pulas di pangkuan simbahnya. Karena badannya masih kecil, kekuatan matanya belum cukup untuk terjaga hingga larut.

Paidi dibopong, ditidurkan di bawah pohon sawo.  Ketika orangtua mulai masuk ke pembaringan, Paidi dibawa serta. Tidak banyak tingkah, tidak banyak polah. Paidi tinggal diam, terlelap dan mendengkur. Paidi hanya tahu ketika terbangun di pagi hari sudah di amben seperti biasanya.(bersambung)

About redaksi

Check Also

KPDJ Membesar di tengah Perantau Kulon Progo

Bagi masyarakat Kulon Progo, eksistensi KPDJ sudah diakui. Tidak hanya di tengah masyarakat perantau, tapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *