Home / DWIDJO / Api Cinta (21): Paidi Terseret Arus Deras

Api Cinta (21): Paidi Terseret Arus Deras

Paidi yang belum beranjak remaja menyertai orang tuanya hijrah ke kampung Madanom, ibunya yang berjarak tidak lebih dari 50 kilometer. Perkampungan yang tidak kurang sejuknya, di lereng Sindoro-Sumbing yang mirip sejoli Merapi-Merbabu yang mentereng di ufuk timur.

Persiapan dilakukan. Pertama yang dilakukan memindahkan sekolah Paidi yang mulai memasuki kelas tiga. Hari selanjutnya Paidi mulai menyesuaian dengan lingkungan. Terutama teman-teman sepermainannya.

Menggembala dan memandikan kerbau yang terasa asing, namun tetap menyenangkan. Mencari rerumputan untuk gondhek. Si kecil kerbau yang baru saja lahir. Paling asyik bagi Paidi kesempatan memandikan kerbau, termasuk gondheknya. Saat hari mulai menjelang sore. Sesaat lagi pulang bersama kembalinya kerbau  ke kandang.

Saat itulah Paidi bersama kerbau dan gondeknya mandi di sungai yang cukup lebar dalam. Kalau banjir datang menerjang, semua apa yang ada di sekitarnya akan dibawa serta. Tidak terkecuali kerbau baik yang kecil ataupun besar.

Paidi harus sangat hati-hati. Terlebih ketika suasana mendung di hilir. Banjir bandang dapat datang secara tiba-tiba saja. Air meninggi dan arus mulai deras. Itu pertanda kerbau-kerbau harus segera dientaskan dari air sebelum terbawa arus yang sangat keras.

Selepas mengurus kerbau dan si gondhek Paidi masih harus mengandangkan itik-itiknya. Bebek yang jumlahnya tidak seberapa itu harus tetap memberikan telor untuk berbagai keperluan sehari-hari. Kalau pas kebutuhan dapur terpenuhi, beruntung Paidi dapat lauk telor bebek digoreng. Namun sering Paidi harus menukarkan telor bebeknya dengan kebutuhan dapur sang nenek.

Kesempatan yang ditunggu-tunggu datang juga, selesai menggembalakan kerbau. Sejurus kemudian kerbau dibawa ke pinggir sungai. Mereka menceburkan diri bersama-sama. Paidi nunggang gondhek yang mulai lincah. Sesampainya di air keduanya bersenda gurau. Paidi menggosok-gosok badan si gondhek sampai benar-benar bersih.

Kotoran yang melekat di sekujur tubuhnya dibersihkan. Air yang tidak terlalu bersih sekaligus dipakai mandi. Saat badan kerbau bersih. Paidi juga membersihkan badannya sendiri. Sepuas-puasanya Paidi menceburkan diri di sungai. Sesekali jungkir balik dari punggung kerbau. Menyelam dan berenang, mbathang dan ngintir. Mengikuti saja ke mana air mengalir.

“Cah angon kok nggak bisa berenang,” terngiang di telinga Paidi ketika teman sepermainannya mengejek. Setiap anak yang menggembala kerbau tidak boleh tidak harus pandai berenang di sungai. Tidak kecuali Paidi yang meski baru belajar berenang karena baru belajar menjadi gembala kerbau.

“Aku harus bisa berenang,” Paidi membatin. Ketika itulah tekadnya muncul untuk berenang bersama-sama kerbau gembalaannya. Paidi tidak mau menyerah, meski tenggelam terus berusaha muncul ke permukaan. Tokh ada gondhek yang punggungnya selalu menjadi tempat memanjat.

Meski masih tertatih-tatih, Paidi bisa berenang. Lama kelamaan akan bisa berenang dengan sendirinya. Ketika banjir datang menerjang sekalipun, Paidi dapat memandikan kerbau dan gondheknya.

Namun banjir kali ini, banjir yang baru datang dari hilir dapat menyeret siapa saja. Paidi tidak terkecuali, meski mulai pandai berenang. Badannya yang kurus kecil tidak akan sanggup melawan arus deras yang menggelegak. Kerbau dan gondheknya sekalipun tidak akan sanggup bertahan di derasnya air.

Kali ini Paidi benar-benar tenggelam, terseret arus air yang deras. Tidak ada batang pisang tempat menumpang. Tidak ada ranting yang dapat dipegang. Satu-satunya tempat bersandar tinggal gethek, rakit bambu yang dalam beberapa meter saja akan sampai.

Terakhir kali dan satu-satunya tempat yang dapat menyelamatkan Paidi dari deras banjir yang baru datang tinggal gethek. Harapannya tinggal di tempat itulah Paidi dapat menyelamatkan diri dari banjir yang menghantam.

“Aub… aub …. aub,” Paidi mulai banyak menelan air sungai yang keruh. Lemas, lelah dan lunglai menyertai sekujur tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Paidi tidak dapat berpikir panjang. Satu-satunya upaya untuk dapat mentas dari kedalaman air dan ganasnya arus.(bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *