Home / DWIDJO / Api Cinta (18): Paidi Terpelanting, namun tidak Jatuh

Api Cinta (18): Paidi Terpelanting, namun tidak Jatuh

Paidi terdiam, terpaku, tertegun. Menyaksikan gondhek lincah berlarian. Seperti tidak ada beban, tidak ada hambatan. Hanya bersenang-senang. Ketika kerbau lain merumput, ke kecil lincah hanya berlari-lari. Hanya sesekali si kecil mengampiri induknya. Menyusu beberapa kali serudukan dan sesudah itu berlarian kesana kemari.

Makin memperhatikan kelincahan si kecil. Paidi makin yakin akan kelincahan kerbau kecil dapat menjadi teman sepermainannya di ladang luas. Syukur kalau di kerbau kecil itu dapat membawa bermain di atas punggungnya.

Diam-diam Paidi mendekati si kecil, kerbau yang berlarian. Dalam benaknya terlintas, tokh badannya lebih kecil dibandingkan kerbau jantan atau kerbau betika yang tanduknya melintang menakutkan. Kalaupun lari juga tidak sekencang kerbau jantang mengejar si betina.

Paidi masih membayangkan berjalan-jalan bersama kerbau kecil. Berdendang di atas punggung gondhek. Membawa seruling yang terbuat dari damen, batang padi untuk menjadi alat permainan. Nikmat rasanya, indah membayangkan. Namun dalam benak Paidi kecut kalau sendirian.

Paidi mulai memberanikan diri mendekati gondhek kecil. Membelai dan mencoba nggelendhot. Bulu kasarnya terasa membangkitkan rasa ngeri. Ketika si gondhek membalikkan kepalanya. Paidi menjadi ciut.  Apalagi moncongnya dengan mata melotot dan air liur terus mengalir dari mulutnya yang terus mengunyah-ngunyah, memamah biak.

Jangan-jangan si kecil segera melarikan diri. Lincah menari-nari sambil terus ngginjali, seperti tengah berlatih untuk menghadapi balapan dengan sesamanya. Kerbau kecil itu tampaknya juga tidak jinak seperti dibayangkan.

“Gondhek meneng wae yo, aku mau nunggang  di punggungmu. Boleh ya,” Paidi berbisik kepada kerbau kecil di hadapannya. Ketika sudah dekat, Paidi memberanikan diri untuk mengelus, memegang telinga dan tanduknya yang mulai muncul.

“Boleh ya,” Paidi mengulangi.

Seperti tengah membujuk anak kecil teman sebayanya. Paidi masih belum juga menaiki punggung kerbau kecil. Paidi masih menimbang-nimbang akankah naik punggung kerbau sekarang. Atau sebaliknya menunda sebentar. Sampai keberaniannya benar-benar muncul.

Paiman pamannya langsung mengangkat badan Paidi yang kerus kecil ke atas punggung kerbau kecil. Paidi mengkerut, takut tapi terasa senang. Paidi masih terus berpegangan tangan sang paman. Gondhek kecil yang baru belajar berlari tersentak, berusaha melarikan diri. Beruntung Paidi masih berpegangan di tangan pamannya.

Paidi terpelanting, namun tidak terjatuh. Beruntung karena tertangkap tangan sang paman. Paidi masih memegang tangan pamannya. Paidi tidak menyurutkan keinginannya. Nunggang kerbau kecil, masih menjadi impian.

Dalam hati Paidi berjanji untuk kesempatan lain dapat mengendarai kerbau kecil. Layaknya joki yang tengah memacu kuda. Paidi tidak mau ketinggalan. Kalau sesama gembala saja berani menaiki kerbau. Hanya karena badannya kecil saja tidak dapat memanjat kerbau dewasa.

“Kerbau kecil juga tidak mengapa,” pikirnya.

“Kerbau berbadan besar menakutkan,” kalau lari pasti kencang. Susah turun dan kalau terjatuh pasti sakit luar biasa. Apalagi kalau dibawa lari kerbau, terjatuh di galengan dan terinjak rombongan kerbau. Sulit membayangkan bagaimana jadinya Paidi kecil. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *