Home / DWIDJO / Api Cinta (121): Maria Meyayangi Paidi dengan Bahasa Ungkapnya Sendiri

Api Cinta (121): Maria Meyayangi Paidi dengan Bahasa Ungkapnya Sendiri

Maria sesungguhnya meyayangi Paidi dengan bahasa ungkapnya. Sangat disayangkan kalau aktivis kampus, jamaah masjid dan pembela kaum dhuafa terjerumus dalam kehidupan malam di kompleks pelacuran. Itu saja yang menjadi pertimbangan Maria.

”Saya akan menjadi sukarelawanmu,”

“Membantu mewawancarai dengan Ciblek,”

“Mewawancarai perempuan di Sunan Kuning,”

“Saya akan membantu untuk menebus kekeliruan,”

“Sebelumnya saya sudah menuduh seperti yang lain,”

“Sekarang saatnya saya di belakangmu, mendukungmu,”

“Maafkan saya sebelumnya Paidi,”

Paidi, Kribo dan Maria sepakat berjalan bersama, mewawancarai Ciblek dan penghuni Sunan Kuning. Satu tantangan terselesaikan. Tinggal menentukan kapan wawancara berlangsung. Menentukan ketemu bertiga agak sulit, kalau ada kesempatan berdua saja juga cukup.

Paidi dan Kribo menemui Ciblek di Simpang Lima. Paidi dan Maria di kesempatan lain melakukan tugas di Sunan Kuning. Masing-masing memiliki tantangan tersendiri. Di Simpang Lima relatif lebih mudah, tidak ada curiga dan syak wasangka. Tinggal bagaimana mengatur strategi wawancara di Sunan Kuning.

Membutuhkan cara jitu agar dapat mengambil ikan tanpa memperkeruh suasana. Beruntung Maria menemani, setidaknya sesama perempuan akan ada dispensasi. Ada tanggapan positif dari narasumber.  Penolakan pasti ada, namun jalan keluar harus didapatkan.

Bagaimana pun caranya, hanya satu yang penting membawa pulang hasil wawancara eksklusif.  Syukur kalau memperoleh gambaran utuh dari seluruh warga yang tinggal di kompleks pelacuran Sunan Kuning.

Mereka bergerak cepat, dead line sudah menunggu.  Naskah segera diselesaikan, diserahkan dan diterbitkan. Tanpa harus menunggu lama, Paidi menyelesaikan penulisannya. Tidak sabar untuk segera memberikan jawaban, sekaligus melakukan kick balik atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.  Selama ini Paidi menjadi bulan-bulanan tanpa dapat melakukan perlawanan secukupnya.

Paidi, Kribo dan Maria sudah menyelesikan tugas bersama. Tiknggal menunggu waktu yang ditentukan terbit di Koran Kampus. Selesailah masalah yang selama ini menggelayuti pikiran dan perasaan.

Honor tulisan meskipun mereka membutuhkan, namun tidak menjadi hal penting lagi. Satu yang mereka butuhkan mengembalikan Paidi sebagai aktivis kampus, masjid dan pembela kaum dhuafa di sekitarnya.  Kalau hal itu dapat dicapai seperti mereka prediksikan sebelumnya, separo permasalahan sudah dapat diselesaikan. Tinggal menyusun jadwal baru, melakukan aktivitas seperti sedia kala.

Akhir pekan, suasana kampus sumringah. Mahasiswa baru mulai aktivitas, setelah masa perkenalan kampus. Mereka mulai perkuliahan, banyak yang menyisakan kenangan manis. Meskipun awalnya mereka harus berjibaku, menangis bahkan berdarah-darah hanya untuk memberi jawaban kepada senioritas. Mereka merasa bebas, tidak ada beban bahkan salah seorang menjadi pasangan baru usai masa perkenalan kampus. (bersambung)

About redaksi

Check Also

OCBC NISP Komitmen Berdayakan Kelompok Pengusaha Perempuan

Jakarta,Kabarno.com Bank OCBC NISP berkomitmen memberdayakan kelompok pengusaha perempuan agar dapat terus mengembangkan usaha dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *