ACI-36: Cintamu Tidak Mudah Dijamah, Sebaiknya Kita Pulang

oleh -106 Dilihat
oleh

Siang sudah mendekati ujung, saat Indrajit dan Hestirini masih bisu di pinggir jalan. Menjadi patung, melengkapi lalu-lalang jalanan yang mulai reda untuk kemudian lelap disergap senja yang datang seperti biasa: tenang, dalam diam, tapi memberi gelap yang senyap.

Seperti dua orang yang kebingungan memilih jalan pulang, Indrajit dan Hestirini masih beku. Hanya isi hati Hestirini yang bergolak, mendidih oleh pedih. Ia merasa harus segera beranjak jika ingin tetap waras, giras, dan selaras hidupnya.

Tidak ada yang bisa dilakukan Hestirini selain menyerah. Ia sudah mengatakan apa yang pernah dirasakan, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. Sebuah perasaan yang sulit dikuliti dengan silet paling tajam sekalipun. Tapi rasanya cukup sudah, terbelah-belah hatinya untuk perasaan yang hanya memberi nyeri.

Hestirini tidak ingin terjebak lagi dalam situasi tak menentu, meski  sangat berat untuk pergi, kini. Indrajit, datang kembali lewat cara sangat mengejutkan. Tiba-tiba, dengan segala pertanyaan yang sulit dijawab.

Empat tahun ia berusaha mempertahankan perasaannya sampai kemudian datang seseorang yang saat ini mengisi hari-harinya. Hestirini tidak berani mengatakan bahwa Indrajit datang hanya beberapa hari setelah ia tak sendiri. Ia takut terseret dilema yang sulit sehingga harus memilih, kembali kepada Indrajit dengan segala misterinya, atau tetap bersama seseorang yang memberi harapan hari-harinya menyenangkan.

“Cintamu tidak mudah dijamah, Indrajit. Sebaiknya kita pulang,” Hestirini akhirnya angkat suara setelah mereka hanya diam, risau dengan fikirannya sendiri-sendiri. Baginya, terlalu lama di dekat Indrajit, hanya membuat hatinya akan dicubit-cubit masa silam yang membuatnya tenggelam dalam bimbang.

“Terus piye?” Hestirini mulai tidak sabar dengan situasi yang serasa berjelaga, membuat hanyut dalam nglangut.

“La ya terus piye?” Indrajit menjawab dengan jawaban yang menunjukan ia sedang dalam tikaman putus asa.

“Nek ngene iki kudu dijiwit sik. Senengane menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Marahi mangkel,” dan dua anak muda yang sejak semua berkerut dengan segala keruwetan hati, tertawa. Hestirini benar-benar mencubit lengan Indrajit yang seperti dialiri perasaan lega, entah oleh karena apa.

Mereka, Indrajit dan Hestirni melangkah bersama, dengan perasaan yang lebih ringan. Terjadi kesepakatan, tanpa disepakati bahwa hubungan akan dibiarkan mengalir, menemukan bentuknya sendiri. Atau, dilepaskan seperti merpati yang bebas terbang, toh berapapun jarak sayap mengepak, pada akhirnya akan kembali.

“Titip buku iki,” Indrajit menyerahkan buku milik Hestirini,  sengaja dengan penekanan pada kata titip buku ini, sambil membuka lembar terakhir yang kemarin ia tulisi dengan kalimat yang membuat Hestirini tersentak. “Kamu boleh pergi, hari ini. Tapi kamu akan mencariku lagi. Sebab kamu tahu, hanya aku pemilik hatimu yang sesungguhnya. Sampai jumpa di sebuah hari…” (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.