Home / KANGBARNO / 4 Hari Lagi, Wahaye Nonton Ki Seno Nugroho

4 Hari Lagi, Wahaye Nonton Ki Seno Nugroho

Lapangan Nganjir di Dusun Nganjir, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo sudah bersih. Empat hari lagi, di lapangan itulah, Ki Seno Nugroho akan menggelar wayang kulit semalam suntuk pada 12 Juni 2019.

Wayangan di Nganjir adalah rangkaian Syawalan warga Nganjir sekaligus reuni SMPN 2 Wates angkatan tahun 84, reuni SMAN 1 Wates angkatan tahun 87. Juga, syukuran cetak ulang buku berjudul Nami Kulo Sumarjono.

Dalang kondang Ki Seno Nugroho dipilih untuk mayang, karena menurut Dukuh Nganjir, belum pernah pentas di dusunnya. “Ini baru pertama kalinya, Nganjir berkesampatan mengundang Ki Seno untuk wayangan,” ungkap Pak Dukuh sambil menambahkan bahwa pada pergelaran kali ini, lakon yang akan dimainkan adalah Parto Kromo.

Ki Seno Nugro memang dalang kawentar. Kondang sebagai dalang muda yang memiliki banyaka penggemar. Komunitas penggemarnya yang diwadahi dalam Penggemar Wayang Ki Seno (PWKS) setia meramaikan pementasaannya. PWKS juga tersebar di semua kota di Jawa dan luar Jawa.

Bakat Seno Nugro adalah warisan para orangtuanya. Merupakan salah seorang putra dalang gaya Jogja, Ki Suparman. Atau lengkapnya, Ki Suparman Cermo Wiyoto.  Ki Seno, lahir 23 Agustus 1972, termasuk dalang dengan sebutan dalang sejati, karena memang berasal dari trah dalang sejak leluhurnya.

Lihat saja urutan silsilahnya. Ki Suparman ialah trah Miliran atau trah Jayeng, karena merupakan putra Ki Cermo Bancak, yang populer sebagai dalang ternama sejak tahun 40an hingga menjelang 70an. Orangtua Ki Bancak juga seorang dalang kondang sekaligus abdi dalem Puro Pakualaman yang dikenal dengan sebutan Ki Jayeng.

Selain berputra Ki Suparman, dalang kondang Ki Cermo Bancak juga melahirkan Nyi Wasini yang menurunkan dalang-dalang top Jogjakarta, serta Ki Supardi. Menurut perkiraan (seperti umumnya orang zaman dulu, tanggal kelahirannya tidak tercatat dengan baik) Ki Suparman lahir di akhir tahun 1935.

Bagi pecinta wayang kulit, nama Ki Suparman sangat identik dengan pakeliran baru. Setidaknya, garapan gending terdengar sangat berbeda. Ia juga sangat berani memasukan unsur-unsur musik dari luar karawatian. Itu pula yang kemudian diwarisi oleh Ki Seno Nugroho sebagai dalang Jogja yang tidak sungkan memasukan unsur-unsur kesenian dari daerah lain.

Selain bakat warisan dan belajar dari orangtuanya, Ki Seno  juga belajar pedalangan saat sekolah di SMKI Jogja. Kini Seno Nugroho termasuk dalang laris  yang etiap bulan, lebih dari 15 kali pentas di berbagai daerah di pulau Jawa.

Seno pertama kali naik panggung, pada usia 16 tahun. Saat itu, tahun 1988, Seno menjadi dalang pada siang hari, sebelum malamnya ki Supardi manggung. Ki Supardi adalah adik kandung Ki Suparman yang juga menjadi dalang.

Saat itu, Ki Suparman yang sangat ingin menurunkan kemampuannya mendalang, sangat terharu melihat putranya memainkan wayang. Hari itu, ia menunda keberangkatan ke Pekalonan untuk ndalang, hanya karena ingin melihat Seno mayang.(kib)

About redaksi

Check Also

Ngayahi Kepedulian Sosial: Semogalah, Ini Lelah yang Membawa Berkah

Sepanjang hari kemarin, saya harus berkendara dalam satu hari penuh, plus setengah malam. Jadi, berangkat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *