Home / KANGBARNO / 31 Desember 2019: Kelingan Lamun Kelangan
Foto kenangan: saya bapak dan Mbah Mat di tahun 2018.

31 Desember 2019: Kelingan Lamun Kelangan

Hari ini, 31 Desember 2019. Hari terakhir di tahun 2019. Dari sebuah tempat yang jauh saya menuliskan kalimat ini, sekadar memberi tanda ada sesuatu yang saya kerjakan di penghujung tahun.

Akhir tahun, seperti yang sudah-sudah selama hampir setengah abad hidup saya, sesungguhnya tidak ada yang spesial. Tapi hari ini, saya ingin menulis hal yang tidak biasa: rasa kehilangan.

Sepanjang hidup, saya memang belum pernah meresapi rasa kehilangan yang sangat dalam. Alhamdulillah, selalu diberkati, meski pernah melewati fase-fase tak lunak. Tapi bukankah itu sudah lumrah dalam hidup?

Benar. Tapi tahun 2019, memberi hati, rasa perih yang tak tertanggungkan. Pedih yang bahkan tak mampu membuat saya menangis. Inilah kehilangan yang menusuk sangat dalam, langsung di ulu hati.

Tapi pada akhirnya, saya memang harus mupus. Bahwa kelingan lamun kelangan. Teringat jika sudah kehilangan. Kini, setiap saat saya teringat bapak-ibu yang awet menjalani hidup panjang dalam keprihatinan. Atau tepatnya memprihatinkan anak putu.

Hingga menjelang hari-hari terakhir ibu, saya melihat bagaimana bapak mendampingi ibu dengan cara yang begitu manis. Di saat-saat ibu sakit, bapak mencoba menawar. “Wes gek waras, ora lora-loro, ben iso nutukke le momong anak putu.” Kalimat itu, membuat saya membuang wajah, menjauh dari pemandangan paling dramatik itu.

Foto bapak dan ibu Lebaran tahun 2018.

Bapak memberi pelukan pada ibu yang terbaring di amben, tempat tidurnya yang membuat ibu tak bisa berajak, sebulan menjelang kepergiannya.

Saat itu, ibu memanggil bapak, minta dipinjit punggungnya. Dengan tangan renta, bapak sesungguhnya tidak benar-benar memberi pijitan, melainkan sekadar menyentuhkan kedua tangannya di sebelah pundak ibu.

Tidak lama. Karena setelah itu, bapak secara perlahan mendekatkan wajah, lalu memberi ciuman di ujung telinga, sebelum akhirnya memberi kalimat semangat. Saya berdiri, mengamati sambil meratapi diri, melihat pemandangan yang membuat trenyuh itu.

Selama ini, bapak memang meyayangi ibu dengan cara yang lembut. Berbeda dengan ibu yang mencintai bapak lewat kalimat-kalimat yang kadang membuat meradang. Berdua, keduanya menjalani hari-hari tua bersama-sama. Hanya berdua. Tidak ada anak putu yang diemong secara langsung.

Anak-putu baru mendampinginya setelah ibu sakit dan tak bisa melakukan apa-apa, selain terbaring di amben. Juga saya. Menunggu ibu, hingga detik-detik paling ujung dari hidupnya. Jadi di sanalah, sangat sering saya melihat kelembutan bapak memperlakukan ibu, yang yakinlah tidak hanya dilakukan di hari-hari terakhir perjalanan kehidupan mereka.

Lalu, hari itu tiba. Hari ketika ibu harus saya antar ke rumah sakit dalam kondisi sudah sangat lemas. Hanya beberapa jam, karena begitu sampai rumah sakit, saya harus membawanya kembali dalam kondisi yang sama sekali berbeda, sebab ibu sudah pergi untuk selamanya.

Bapak dan ibu sewaktu masih muda.

Saya melihat bapak menyambut dalam tatapan kosong. Bapak tidak menangis, seperti saya dan kami semua tidak menangis. Tapi rasa kehilangan tanpa tangisan, justru sangat menyiksa.

Hingga pemakaman, lalu tahlil pertama kedua dan ketiga, bapak masih tidak menangis. Baru sepekan kemudian, terlihat perih di hatinya diekspresikan lewat tangisan.

Ritual tahlil 40 hari ibu, datang. Saya pulang, melihat bapak dalam suasana yang berbeda. Tidak banyak berkata-kata seperti biasanya. Saya banyak mengamati gerakkannya yang mulai sangat lambat. Sepanjang tahlil, bapak duduk di teras, memakai jas kesayangannya, peci dan sarung warna hijau. Bapak menunggu tetamu dalam diam.

Esok harinya, kami ajak bapak ziarah ke pusara ibu. Masih tidak banyak kata-kata. Di Makam Kauman, bapak memimpin doa untuk ibu dalam suasana trenyuh. Kalimatnya yang kadang tak terdengar, berasal dari keharuan dan kerinduan pada wanita yang dicintainya.

Bapak memimpin doa pada ziarah hari ke-40 meninggalnya ibu.

Itulah yang terjadi. Lalu, hari ini, 31 Desember 2019, adalah hari ke-114 ibu menuju keabadian. Serta hari ke-61 bapak munyusul ibu. Mereka, orangtua kami yang  memberi rasa kehilangan nyaris tanpa jeda.

Bapak yang usianya  hampir 90 tahun, adalah penjaga utama ibu, karena tak bisa mengandalkan anak-anaknya untuk menjaga ibu yang memang lebih ringkih akibat (barangkali) kebanyakan melahirkan.

Ugh…Kesedihan yang saya resapi, barangkali, bisa dituliskan sangat panjang. Mendayu, membuat ragu melanjutkan hidup. Tapi saya akan mengakhirinya dengan kenangan paling manis. Kenangan bersama bapak, empat hari sebelum pergi:  pelukan terakhir yang indah.

Saat itu, saya pamit kembali ke rumah, setelah menitipkan bapak dijaga mbakyu. Saya duduk di beranda rumah, di resban buatannya. Posisi saya di sampingnya, memangku sejumlah keris pusaka yang akan saya rawati.

Saya memangku bungkusan keris dan pamit pulang ke perantauan.

Sak niki kalih mbakyu njih, mbejang kulo pethuk,” kalimat itu yang saya ucapkan agak mendekat di telinganya, karena bapak memang sudah berkurang pendengarannya. Setelah mengerti yang saya maksud, bapak hanya tertawa. Lalu, gerakan berikutnya yang sangat manis: bapak memberi pelukan kepada saya.

Itulah yang membuat saya selalu teringat detik-detik sebelum bapak kondur ke haribaan Tuhan. Sebab, setelah itu, empat hari kemudian saya pulang lagi, menemui bapak yang sudah tidak bisa diajak komunikasi. Sebuah momentum kelingan lamun kelangan. Teringat setelah kehilangan.  (*)

About redaksi

Check Also

Ke Kopi Thiwul 87 Mencari Obat Rindu

Malam mulai menjauh dari petang. Saya bergerak ke sisi timur kota Wates, Kulon Progo. Ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *