Home / KANGBARNO / 3 Tahun Kabarno & para Simbok
Album kenangan saat nom-noman Jombokarto era 90an, naik gunung.

3 Tahun Kabarno & para Simbok

Hari ini, 22 Desember 2019. Itu artinya 750 hari lalu sejak Kabarno dot com pertama kali menghampiri poro kadhang semua. Saya ingin menuliskan ini. Mungkin sebagai refleksi, tapi saya lebih senang menyebutnya sekadar ngudoroso.

Banyak yang sudah dilewati sepanjang 750 hari. Atau jika mau dipersingkat penyebutannya, 25 bulan. Atau lebih mudah lagi, 2 tahun satu bulan. Tapi saya yakin, kalau Densus akan ngotot menyebutnya 3 tahun, karena kelahirannya tetap dihitung pada tahun 2017.

Tahun lalu, peringatan ulangtahun Kabarno dot com agak spesial karena dibarengkan (jan e lebih tepat numpang) di acara Nyewu. Nyewu Mbok Tadjuk, ibunda Pak Sumarjono, priyayi Nganjir Hargorejo Kokap yang sukses menjadi tokoh nasional. Jadi setahun lalu, HUT Kabarno ikut mewah dirayakan dengan seribu tumpeng.

Hari ini, saya membuat bancakan. Tidak ada tumpeng, melainkan sego golong kecil-kecil plus woh-wohan, serta doa-doa. Nyenyuwun kepada Gusti Kang Morbeng Damadi, semoga tiga tahun yang telah dilewati, menjadi catatan kebaikan untuk sesama.

Tiga tahun lalu, saat menggagas Kabarno dot com, niatnya memang menjadi tempat menyebar kebaikan. Juga untuk belajar bersama. Sinau bebarengan tentang banyak hal. Sinau nulis, sinau jurnalistik, sinau srawung, lan liyo-liyane.

Nama Kabarno juga kami temukan lewat sinau bareng. Awalnya, sepanjang bulan Desember 2017 itu, diskusi dengan Densus serasa penuh peluh. Mencari nama yang pas. Mencari ide-ide besar, yang gagah ngedabyah. Ide memberi nama yang megah dan wah. Inginnya memakai nama yang jos seperti umumnya media yang memakai nama-nama mentereng. Tapi pada akhirnya, sebagai wong ndeso, kami sadar: tidak wangun kalau memakai nama kota yang terlalu bagus atau nama nyeniman yang kelewat nyleneh.

Ini Kang Barno, sosok inspiratif bagi kami semua.

Lalu, saya ingat Kang Marno. Dia sahabat kami. Kami semua cah Jombokan, atau dalam bahasa kami Jombokarto. Kalau dari usia, Kang Marno, senior. Dulu, jaman senang naik Gunung Jeruk di Kokap atau jalan kaki ke Suroloyo, Kang Marno inilah yang menjadi leader. Di komunitas kami pangilannya bukan Kang Marno tapi Kang Barno.

Lewat semedi, kontemplasi, bolak-balik manekung di Pesarean Mbanaran dan Kauman, saya menimbang. Kepada Eyang Sorokusumo, pepunden kami di Mbanaran. Kepada Eyang Pakujati dan Eyang Surowilodo di Kauman, saya berdialog. Dialog batin agar diberi kekuatan spiritual untuk menentukan langkah.

Setelah diendapkan. Mendekati pertengahan Desember, saya mengambil keputusan. Namanya meminjam nama panggilan Kang Barno. Tapi diplesetkan menjadi Kabarno. Rasanya, nama ini lebih cocok. Ndeso, tidak terlalu provokatif, tapi memiliki makna yang mendalam. Selain memberi penghormatan tertinggi kepada Kang Barno, Kabarno memiliki arti sebarkan, wartakan, beritakan. Ajakan untuk menyebar-luaskan kebaikan. Kabarno kang becik, ojo sing olo.

Densus setuju-setuju saja dengan nama ndeso ini. Jadilah, tanggal 22 Desember 2019, dipilih untuk melahirkan Kabarno. Saya senang dengan tanggal 22 Desember, karena ini tanggal baik. Bisa juga disebut tanggal keramat. Kalau secara nasional, 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu, karena ingin mengabadikan momentum Kongres Perempuan Pertama di Jogjakarta, 22 Desember 1928.

Kelahiran Kabarno dot com, rasa-rasanya juga baik kalau didedikasikan kepada para ibu. Pada tanggal itu, tanggal 22 Desember 2017, saat pertama kali Kabarno.com mengudara, saya juga menuliskan hal itu.

Dan, hari ini, saya menuliskan kembali, terutama untuk simbok saya, ibu saya yang sudah kembali ke sisi Illahi, empat bulan sebelum Hari Ibu. Juga bapak saya yang menyusul 40 hari kemudian. Kepada bapak-simbok, doa terbaik dari anak-anakmu.

Berikut, saya tampilkan kembali, tulisan yang menyertai kelahiran Kabarno dot com tanggal 22 Desember 2017, sebagai anak bagi semua simbok di Jombokarto.

 

***

Kepada Ibu Bumi…

Hari ini, 22 Desember 2017.  Saya ingin mengenang simbok di Jombokan. Ibu yang sudah sangat sepuh, renta, dengan cara jalan seperti waktu saya sedang belajar jalan. Dia, ibu yang terlalu lama saya tinggal.

Kalau dihitung-hitung, hari ini, atau tahun ini, menjelang setengah abad usia saya, sudah lebih seperepat abad saya meninggalkan ibu. Itu artinya, saya tidak punya waktu lama berdekatan dengannya. Sebab, saat mengaku sudah dewasa di usia 17, saya meninggalkannya, untuk mencari penghidupan sendiri.

Benar. Baru hari ini saya paham, sepanjang berjauhan, selama lebih 25 tahun saya meninggalkannya, hanya sedikit yang bisa saya berikan. Saya abai kepadanya. Tapi waktu tidak bisa diputar ulang, untuk memperbaiki semua yang sudah saya lupa kerjakan untuknya.

Alamarhum bapak dan Almarhumah ibu saat masih sugeng.

Itu, yang membuat hari ini saya ingin mendedikasikan Kabarno.com untuk ibu. Bukan hanya ibu saya, simbok saya di Jombok. Tapi untuk ibu-ibu lain yang mengalami situasi serupa: ditinggalkan anak-anaknya, setelah mengasuh dan membesarkan dengan penuh rasa legawa.

Kabarno.com, bukan tanpa maksud mengawali kelahirannya pada 22 Desember 2017.  Atau, dalam penanggalan Jawa, 3 Bakdo Mulud 1951. Secara angkawi, hitung-hitungan kuno, primbon, dan ilmu pawukon, hari ini memiliki arti terpuji:  Jemuah Legi, Windu Sengara, Warso Dal, Wuku Marakeh, Mongso Kapitu utawi Palguno.

Dalam ilmu Pawukon, Jemuah itu memiliki sifat sangat elok. Karena mengandung unsur yang baik. Semua yang serba baik di hari Jumat, semakin lengkap dengan hari pasaran Legi. Semua paham, pasaran Legi memiliki arti yang serba menyenangkan. Manis.

Jika ingin dicondro lebih luas, Legi itu bersifat penuh kemurahan. Juga dalam soal bergaul. Hidup dijalani dengan ringan-riang, santai. Tapi penuh tanggungjawab. Tidak pernah susah meski kadang berurusan dengan orang yang senang memfitnah. Legi pun mengajarkan untuk berhati-hati. Kuat prihatinnya karena senang berjaga di malam hari.

Berada di bawah lindungan Dewi Bumi Bethara Surenggana, hari ini adalah semua kebaikan yang diberikan Tuhan, Gusti Ingkang Moho Mawiti: cepat sukses karena umbul-umbulnya terbalik dan memiliki daya ingat kuat sebab Marekah damar agung marapit.

Maka begitulah. Kepada ibu yang telah melahirkan saya, kepada ibu-ibu lainnya yang telah melahirkan generasi terbaik dusun Jombokan, serta kepada bumi Jombokan yang  telah memberi kami ibu-ibu terbaik, terimalah persembahan ini: Kabarno.com.(*)

About redaksi

Check Also

Pak Lurah Banaran, Menutup Bhaksos 3 Hari Berturut-turut dengan Ucapan Terimakasih

Rangkaian santunan bertajuk Ngayahi Kepedulian Sosial, telah selesai dilaksanakan. Bhakti sosial yang dimulai pada 1 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *