Sepuh Dilat: Jamasan Besi Membara

oleh -804 Dilihat
oleh

Dalam acara Sidikara Pusaka pengetan Ambalwarsa Brajabumi Ke 9. ada salah satu cara menyepuh Pusaka dengan cara dijilat.

Sang Empu pembuat pusaka, menyepuh keris dengan lidahnya, menjilat beberapa kali Bilahan keris pusaka yang masih merah membara. Sambil mengucar mantra mantra kawisesan, keselamatan, dan kejayaan.

Kemudian bilah keris dimasukkan ke tempayan berisi air kembang setaman dari beberapa sumber mata air sakral. Berdoa memohon kepada hyang maha Agung agar yoni atau angsar pusaka tersebut menjadi pusaka yang mahanani.

Di dunia perkerisan, sejak jaman kuna makuna, ada beberapa teknik yang dilakukan empu pembuat pusaka dalam menyepuh kerisnya, agar kuat, tajam, tidak mudah melengkung atau patah

Diantaranya adalah Sepuh biasa, Sepuh racun, Sepuh upas,  Sepuh Dilat menggunakan wesi aji membara, Sepuh akep (kekeb) menyepuh bakalan keris pusaka yang masih merah membara dengan cara mengulumnya menggunakan bibir atas dan bibir bawah sang Empu. Ini merupakan teknik penyepuhan non konvesional pada tahap akhir pembuatan keris pusaka.

Bahkan menurut cerita tutur yang menyebar dimasyarakat perkerisan khususnya di jawa, Empu wanita Ni Mbok sombro, mempunyai cara yang khas dalam menyepuh keris keris buatannya.

Konon bila keris telah selesai dibuat, dalam menyepuhnya, beliau akan membakar keris tersebut hingga merah membara, kemudia bilah tersebut dijepit diantara kemaluannya. Cara ini disebut sepuh wewadi, menyepuh dengan cara dikempit menggunakan rahsya ( alat kelaminnya)

Sebagai tosan aji pusaka, keris meliputi beberapa cakupan obyek pemajuan kebudayaan. Keris keris sebagai pengetahuan maupun teknologi tradisional dari masa lalu mencakup seni tempa metalurgi, keindahan garap pamor, seni kriya maupun rancang bangunnya yang estetik, keris sebagai bagian dari ritus dan spiritualitas manusia Jawa dengan keunikan, kesakralan, teknologi spiritual metafisika, dan nilai nilai luhurnya.

Rahayu