Home / DWIDJO / Semua yang Diberikan adalah Triman Urip

Semua yang Diberikan adalah Triman Urip

Api Cinta di Kaki Menoreh (4)
Oleh: Kangtomo Surosetiko

Meski kehidupan beranjak menjadi modern. Madsani tidak berubah. Pandangannya tetap sama. Kehidupan berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Kehidupan berjalan turun temurun. Semua sudah berjalan di rel yang sudah ditentukan. Menyalahi kodrat manakala melakukan perubahan.

Dalam banyak hal Madsani dan penduduk Jamsaren berkeyakinan. Hari ini sama dengan hari kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Tidak ada perubahan, juga tidak ada pergerakan berarti. Masyarakat menerimanya, bahkan dengan senang hati. Tanpa ada beban dan keterpaksan menjalani semuanya.

Semua berjalan apa adanya. Semua berjalan semestinya. Berlalu di jalan yang sudah sangat ditentukan adanya. Perubahan sedikit saja akan sama halnya dengan penyimpangan dari darah leluhur. Masyarakat akan memberikan cap oragenah, tidak berbudaya.

Madsani seperti simbok dan simbahnya, menjalani kehidupan ini seperti apa adanya. Tidak banyak melakukan perubahan, apalagi improvisasi, semua yang sudah terjadi merupakan bagian penting kehidupannya. Pengulangan demi pengulangan terjadi dan terjadi lagi. Tidak perlu ada yang disesali, tidak perlu ada yang mempermasalahkan. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana keniscayaan hidup, siapa hidup dan lahir di mana dan dari siapa simbok-bapaknya.

Sama halnya dengan kehidupan ini, kematian juga biarlah berjalan. Menghapiri dan terjadi, kapan dan di mana tidak satupun orang akan tahu. Apalagi Madsani, tidak akan pernah tahu apapun yang bakal terjadi di hari depan, bahkan hari esok.

Semua berjalan apa adanya, sejak zaman yang lalu dan akan terjadi lagi dan lagi. Justru perubahan sedikit saja akan mendatangkan pertanyaan bagi diri dan lingkungannya. Masyarakat akan berujar beramai-ramai seperti sepakat mengatakan.  “Ora ilok,” meski tidak merasa perlu mencari tahu apa yang ilok, mana yang ilok sehingga mengetahui ora ilok sebagai bagian dari kesepakatan bersama.

“Negoro lagi kontrang-kantringan,” Madsani seperti memberitahukan kepada dirinya sendiri. Masyarakat dan para kawulo harus ikut merasakan suasana kraton yang tengah menghadapi berbagai permasalahan. Tidak layak ketika kraton membutuhkan dukungan, bantuan dan keberpihakan justru masyarakatnya berdiam diri.

“Manunggaling kawulo lan gusti itu membutuhkan tindakan nyata,” Madsani menirukan biyung yang sinambi rengeng-rengeng bercerita betapa para leluhurnya sosok-sosok ksatria. Para abdi dalem yang setia kepada setiap perintah raja sehingga apa yang menjadi titah dilaksanakan. Apa yang diharapkan dilaksanakan tanpa perlu bertanya.

Masyarakat perlu menyatu dengan kraton sebagai bagian tak terpisahkan. Adapun wujud nyatanya dengan memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan kraton dan para sentono dalem.  Tidak ketinggalan ketika kraton membutuhkan dukungan, bahkan kalau kraton menghendaki seluruh rakyat menjadi prajurit yang akan dikirimkan ke medan peperangan.

“Triman itu,” Madsani menirukan biyung yang tetap leyeh-leyeh sambil rengeng-rengeng. Semua yang diberikan kraton sebagai triman. Harus diterima karena hadiah raja tidak dapat ditolak, meski tidak dapat memintanya.

Apapun yang berasal dari raja, apakah itu perintah atau penghargaan harus diterima secara lapang dada.  Kala itu penghargaan diterima dengan rasa syukur,  termasuk kalau itu berupa perintah harus dilaksanakan meskipun membutuhkan taggung jawab yang berat.

Madsani masih memiliki darah dan pewaris sah kraton. Sekecil apapun memiliki hak yang disandang sebagai sentono ndalem. Meski hal itu tidak mutlak, namun Madsani tidak hendak memakainya. Nama dan kedudukannya bahkan sengaja disimpan agar masyarakat tidak menghalangi perjalanan kehidupannya di masyarakat.(BERSAMBUNG)

About redaksi

Check Also

Sugeng Tindhak Bopo MT  MT Arifin

Rabu, 9 September 2020, menjadi hari berduga bagi para penggiat budaya. Sebab hari itu, budayawan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *