Home / Uncategorized / Seminggu Meneh Cureng nang Nyadaranan

Seminggu Meneh Cureng nang Nyadaranan

Seminggu lagi, nyadranan digelar masyarakat Jombokarto (nama sebutan kami untuk dusun Jombokan di sosial media). Hajat tahunan di bulan Ruwah ini, selalu ditunggu, terutama anak-anak yang menjadikannya hari penuh kegembiraan.  

Seperti yang sudah-sudah, sepanjang bertahun-tahun, Nyadranan dimulai di depan Makam Kiai Sorokusumo, Mbanaran. Ini sekaligus menandai bahwa makam yang sering disebut sebagaia pemakaman Eyang Singosari ini, diakui yang paling tua dan keramat.

Setelah di depan Makam Eyang Sorokusumo tanggal 7 Mei, nyadarn hari keduadigelar 8 Mei 2018  di Pesarean Kauman, serta tanggal 9 Mei 2019 di Makam Bujidan. Tiga pemakaman inilah, biasanya masyarakat Jombokan, Kopok Kulon, Bujidan, Soronanggan, Siluwok Lor, Siluwok Kidul, berkumpul membawa pengaron dan tenong isi makanan yang akan dibagi bersama.

Dalam naungan wukul Warigagung di tahun Dal, nyadaran di Jombokan dimulai dari Makam Mbanaran, tempat Eyang Singosari atau Eyang Sorokusumo dipusarakan. Masyarakat Jombokan, Bujidan, sebagian Soronanggan, Silowok Lor-Kidul, atau Kopok Kulon, bersiap mengikuti ritual  tahunan itu.

Dikomando para pinisepuh, rangkaian Nyadran diwiwiti bersih-bersih makam. Pusara para leluhur yang biasanya agak telantar, pada bulan Ruwah, dibuat bersih. Rerumputan dibabat, nisan yang kusam digosok, pagar makam dicat ulang. Reresik pajimatan poro leluhur itu dilakukan gotong-royong dalam suasana guyup.

“Ya ini kan mau Puasa, sudah tradisi dari jaman dulu, kita diajarkan berziarah ke makam leluhur. Kalau di dusun Jombokan, reresik makam dimulai sebelum Nyadranan,” kata Mbah Kemat, salah seorang sesepuh desa yang paling giat melestarikan tradisi Nyadran.

Dulu, di era 80an, Nyadran adalah kegembiraan yang ditunggu anak-anak. Mereka menyebutnya Cureng, kependekan dari kacu dijereng. Nama itu muncul dari para nom-noman kala itu, karena semua orang yang ikut kenduri Nyadran, membawa kacu besar atau sapu tangan ukuran besar. Kacu itulah yang dijereng alias dibentangkan untuk membawa besek, tempa nasi dan ubo rampe lainnya, dibawa pulang.

Bagi para perantau, tradisi Nyadran juga membawa kebahagiaan yang nostalgi. Mereka akan pulang kampung untuk ikut ngumpul, kenduri di depan pemakaman. Biasanya, Nyadran adalah upacara tradisi yang sangat diperloke, diperlukan, diprioritaskan, terutama buat mereka yang pada hari raya Idul Fitri tidak bisa mudik.

“Suasananya gayeng dan bisa sambil mengenang jaman kecil. Biasane nek Lebaran tidak bisa pulang, pasti merloke pulang pas Nyadaranan,” kata Maswin, seorang perantau super sibuk yang tidak pernah ketinggalan ikut Nyadranan di makam Mbujidan.

Benar. Mbujidan adalah makam ketiga yang menggelar tradisi Nyadran. Sejak dulu, entah dimulai dari kapan, Nyadran memang selalu dimulai dari Makam Mbanaran, lalu, Makam Kauman, dan ketiga di Makam Mbujidan.

Nyadranan, bagi masyarakat Jombokan dan sekitarnya, tentulah bukan sekadar genduren. Ada makna yang jauh lebih dalam. Apalagi, beberapa hari setelah bulan Ruwah berakhir, umat Islam memasuki Ramadhan yang merupakan bulan suci  yang semestinya dijalani dengan serba bersih.

Tapi andaipun tidak ingin repot ngudari arti Nyadran, inilah perayaan kecil masyarakat Jombokan, yang lestari hingga kini. Semua akan berkumpul, memikul pengaron yang berisi makanan lengkap dengan ingkung dan ubo rampenya. Buat yang tidak sempat membawa pengaron, cukup membuat apem, lalu dibawa dengan nampan blek kembang-kembang.

“Dulu, yang legendaris apem dumbo. Gedi-gedi tur nyamleng rasane,” kata Kang J, generasi 70an yang kini menjadi salah seorang pelestari tradisi Nyadranan.(mg)

About redaksi

Check Also

Wayahe nang Perpustakaan Nasional, Ini Aturane

Perpustakaan Nasional, kembali dibuka. Tradisi kenormalan baru di tengah pandemik, mulai berlaku. Inilah usaha bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *