Home / KANGBARNO / Sejak Bapak-ibu Beriringan Kondur Ayonaning Gusti

Sejak Bapak-ibu Beriringan Kondur Ayonaning Gusti

Malam ini, malam ke-40 bapak dipundut kondur ayonaning Gusti. Ada tahlil yang khusuk di rumah tabon. Alhamdulillah, meski sejak sore tlatah Jombokarto disiram hujan lebat, selepas Isya’, terang. Poro kadhang yang diundang untuk ikut bertahlil, mulai datang, satu-satu.

Mbah Kemat menjadi tuan rumah, mewakili putro-wayah-buyut Mbah Rusdi dan Mbah Rusdi putri. Lalu, Pak Dukuh sepuh mengacarani tahlil, seperti biasa dengan suara yang merdu, penuh keramahan. Setelah itu, Pak Kaum, memimpin doa-doa.

Tahlil mengalir menembus hujan yang masih menyisakan rinai. Semoga, langsung membumbung, menuju langit, menjadi doa yang meringankan bapak-ibuk yang sudah berada dalam keabadian. Saya ikut membatinkan setiap lafal tahlil dari ruang belakang.

Saya memang sengaja tidak ikut duduk di depan, oleh karena perasaan yang masih tak menentu. Bukan sedih yang biasa-biasa saja, karena hati terasa kosong, sejak bapak menyusul ibu, 40 hari lalu. Rasanya begitu  cepat, simbah-simbah itu beriringan menghadap Tuhan. Sedang saya, atau kami anak-anaknya, belum memberi bakti yang tertinggi.

Masih terekam sangat lekat di hati saya, pada malam paling genting, ketika saya tidak tidur karena menunggu ibu yang gelisah. Nyaris setiap satu jam, dalam kondisi yang terus gelisah, ibu buang air. Itu terus terjadi hingga pagi, ketika saya putuskan untuk membawa ke rumah sakit. Tapi Tuhan berkehendak lain, sebab, begitu sampai di UGD, ibu dijemput takdirnya.

Kesedihan segera datang berdentang. Tapi belum juga kesedihan itu terhapuskan, tiba-tiba, bapak ambruk. Lalu, menyususul ibu dalam waktu sangat pendek. Apa yang bisa saya katakan mendapati dua kedukaan sekaligus serupa itu? Tidak ada selain deleg-deleg, shock, kaget dalam kadar sangat hebat.

Saya tidak bisa ngapa-ngapain. Kesedihan pun seperti sulit diekspresikan, bahkan lewat kalimat-kalimat pendek sekalipun. Biasanya saya bisa menulis sangat panjang hati yang sedang dipanggang duka, tapi kali ini tidak.

Berhari-hari,  sejak bapak menyusul ibu, tidak ada tulisan yang saya bisa hasilkan. Dan, malam ini, di halam 40 hari bapak, saya paksakan menuliskan sesuatu. Tapi tetap tidak ada yang bisa saya tuliskan, selain ini. Semogalah, tahlil malam ini, mampu meringankan beban bapak dan ibu sowan Tuhan. Aamiin.(kib)

About redaksi

Check Also

Keprihatinan Pak Sudadi, Maha Menteri Keraton Agung Sejagad dari Plumbon Kulon Progo

Gonjang-ganjing munculnya Keraton Agung Sejagat (KAS), masih menjadi polemik. Bersama itu, satu demi satu, jatuh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *