Home / KANGBARNO / Saat Usia Saya Lebih Muda 4 Jam di Kuwait

Saat Usia Saya Lebih Muda 4 Jam di Kuwait

Ini event tiga tahunan. Dan kali ini adalah 19th international conference of social security actuaries, statisticians, and investmen specialists dari tanggal 6-8 November 2018. Atau terkenalnya dengan Actuarial Conference disingkat ACT 2018 karena cikal bakalnya adalah conference-nya para aktuaris jaminan sosial.

Ini menjadi kali pertama bagi Kuwait utk menyelenggarakan ACT Conference. Tapi, tulisan ini tidak akan membahas tentang konferensinya tapi sisi lain dari ACT2018. Penyelenggaraan konferensi dilakukan di Hotel Marina, Kuwait City, Kuwait. Saya sengaja menginap di hotel yang sama agar tidak perlu ada ongkos transport tambahan disamping penasaran dengan pemandangan pantai yang ditawarkan.

Berangkat dari Jakarta tanggal 5 Nov 2018 dini hari dengan terlebih dahulu mampir di Doha dan sampai di bandara internasional Kuwait sekitar 11.30 WK (Waktu Kuwait). Panitia konferensi ACT2018 sudah menunggu di bandara lalu kami diminta duduk di lounge yang nyaman sementara visa dan urusan keimigrasian serta bagasi diurusi oleh panitia yang mengurusi kami sampai di hotel. Sangat nyaman, ramah bahkan kami diabadikan dalam frame dengan background foto Raja Kuwait di lounge yang sejuk.

Beda waktu antara Kuwait dan Kulon Progo empat jam. Waktu Kuwait adalah lebih lambat dari waktu Kulon Progo. Ini hal penting yang harus disampaikan agar pembaca tahu bahwa saya menjadi lebih muda 4 jam di banding saat di Indonesia. Hahaha….bagaimana bisa?

Sebagai umat Islam sangat penting untuk mengetahui arah kiblat dan jadwal waktu sholat di negara yang kita kunjungi. Di awal bulan November ini, siang hari lebih pendek dari pada malam hari. Matahari terbit pukul 6.08 pagi sementara magrib pukul 17.00 waktu setempat.

Setelah istirahat sejenak di hotel, kami coba untuk eksplorasi lingkungan hotel, mencari lokasi dilaksanakannya konferensi dan tentunya juga mencari informasi tempat yang wajib dikunjungi serta cara mencapainya. Di sela-sela konferensi mungkin bisa mengunjungi tempat yang wajib tersebut. Walau kadang hal ini sulit untuk diwujudkan.

Di malam pertama, terjadi juga yang saya kawatirkan, susah tidur mungkin karena waktu yang bergeser saya alami terutama di awal kedatangan di negara yang beda jam dengan negara kita. Tapi minimal seorang teman mengatakan lebih baik susah tidur dari pada susah bangun. Saya nggak tahu maknanya, dia mengatakan hal itu.

Bangun tidur dan sholat subuh lalu menunggu sedikit matahari mengintip bumi untuk jalan pagi. Jalan pagi selalu saya nikmati sambil mencari tahu apa yang lain dari yang ada di Kulonprogo dan Indonesia pada umumnya. Menginap di Marina Hotel pas banget karena joging track-nya ada di sepanjang pantai nyambung dengan tempat publik lain.

Taman. Taman yang luas menyatu antara properti milik hotel dengan fasilitas yang saya duga untuk publik yang disiapkan oleh pemerintah. Jalan yang nyaman, taman yang luas, serta parkiran yang bisa diakses siapapun tanpa perlu membayar.

Burung. Mengapa menarik? Banyak sekali burung di area dekat hotel. Burung merpati, burung perkutut, dan burung kutilang secara dominan terlihat baik di taman, di pantai, ataupun terbang dari pohon ke pohon. Sepertinya burung-burung itu jinak, tapi saat didekati mereka terbang. Yang menarik, burung-burung ini juga benar-benar di bibir laut.

Entah mereka minum (sepertinya tidak, karena asin dan disiapkan juga air untuk minum), atau mengais makanan yang terdorong oleh ombak kecil dari laut. Juga makan dari sisa makanan para pelancong atau yang sengaja memberikan makanan untuk burung.

Ribuan burung bebas terbang dan juga menikmati taman yang luas serta indahnya pantai yang ombaknya tidak pernah besar. Tidak terlihat ada orang yang mengganggu kehidupan burung-burung tersebut. Paling-paling hanya anak-anak yang menghalau burung supaya terbang tanpa keinginan untuk menangkap baik untuk dipelihara ataupun untuk disantap.

 

Selain burung, kalau banyak kotoran burung itu sudah biasa, tapi di taman ini tidak terlihat hal itu. Tapi justru banyak kucing, mungkin kita akan bertanya, kenapa? Nyatanya demikian. Banyak kucing yang bermukim di bawah bebatuan di pinggir pantai. Bebatuan yang disusun rapi dipinggir laut sebagai penahan ombak ternyata rumah yang nyaman bagi kucing-kucing tersebut. Kucing-kucing tersebut tampak sehat dengan bulu yang bagus.

Terlihat beberapa kucing ini mengincar burung yang relatif banyak di sekitar taman dan sebanjang pantai. Entah apakah disediakan oleh pemerintah atau dibelikan oleh yang peduli terhadap kucing-kucing tersebut, ternyata ada makanan khusus kucing dan jugq minuman di atas bebatuan pemecah ombak tersebut. Terlihat juga ada dua gadis yang membelai-belai kucing yang berbulu lebat dan lucu itu.

Akhirnya, mungkin kita bisa contoh apa yang ada di Kuwait ini sehingga tersedia ruang untuk berolah raga, berkumpul bersama keluarga, makan bersama di taman, menikmati hangatnya sinar matahari, dan juga mengurangi anak muda bermain gadget tapi berinteraksi dengan rekan-rekan sebayanya.(*)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *