Home / KANGBARNO / Saat Akhirnya Saya jadi Dalang

Saat Akhirnya Saya jadi Dalang

Sabtu, hari keduabelas di tahun 2019. Akhir pekan yang mendebarkan, karena saya mendapat undangan yang tak biasa. Undangan dari seorang profesional di bidang jasa keuangan yang  sekaligus penggiat seni. Dalam posisi yang tinggi di sebuah institusi, kepeduliaanya pada Budaya leluhur juga tinggi.
Dan, di sinilah, di sanggar Mahening Budi milik Bu Anggar (yang dibangun dan dikelola bersama kawan-kawannya) saya untuk pertama kalinya pegang wayang kulit di tempat duduk Ki Dalang memainkan wayang. Rasanya deg-degan, karena tokoh wayang yang saya coba mainkan bukan tokoh sembarangan: Gatutkaca, satria otot kawat tulang besi, putra Bima yang digdaya.

Tapi tentulah saya tidak boleh berlama-lama pura-pura menjadi pak dalang, karena kasihan Bu Anggar yang acaranya akan rusak oleh dalang gadungan. Apalagi beliau ini sangat serius memikirkan bagaimana melestarikan budaya kekayaan bangsa. Beliau tidak rela jika justru yang jago ndalang, yang jago nyinden, yang jago memainkan alat musik gamelan adalah orang asing. Kita dan anak cucu harus bisa mocopat, ndalang, ngetoprak, nyinden, dsb karena ini kekayaan kita.

Bersama beberapa teman SMA (Pak Heru, Bu Dita, dan Bu Ati), Bu Anggar membuat sanggar lengkap dengan peralatan kesenian. Lalu, daerah yang dipilih untuk menghidupkan sanggar adalah kawasan yang agak sulit dijangkau: Gunung Kuncir di punggung Menoreh di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ini adalah wilayah subur, dingin, dan memiliki kemewahan penting karena masih bisa melihat kerlipan bintang di langit. Sesuatu yang tak pernah lagi nampak ketika beliau menjalani hari-hari di gemerlapnya ibu kota. Tempat ini tepat pula untuk menanam secara organik.

Bu Anggar memang bukan orang Kulon Progo tapi sudah menganggap Samigaluh  sebagai kampung halaman kedua yang mesti atau bahkan akan lebih sering dikunjungi dari pada daerah asalnya di sebuah kota di Jawa Tengah.

Jadinya, sebagai orang yang terlahir di Kulon Progo, undangan Bu Anggar sangat menarik. Harus diakui, saya belum pernah ke daerah Samigaluh. Nama Gunung Kuncir juga sedikit menyeramkan karena gunung saja pasti sudah tinggi apalagi harus ke kuncirannya.

Untuk menuju Gunung Kuncir, apabila kita dari Yogyakarta, bisa melewati Godean daerah tempat kelahiran presiden kedua kita. Memasuki Nanggulan, segala yang indah terlihat nyata eloknya. Bentangan sawah yang berundak di kaki bukit, yakinlah sangat nenggoda untuk swafoto lalu mendulang like di Sosmed.

Bukit yang terlihat semakin terjal itu bagian dari Menoreh yang membuat Kulon Progo berhias panorama alam menawan.

Di sebuah lembah yang indah, kami berhenti. Ada masakan iwak kalen di tengah sawah yang cocok menjadi penawar rindu suasana Dusun, sambil menanti rekan yang paham daerah Gunung Kuncir, Samigaluh. Ada tiga sahabat SMA yang akan sama-sama melihat peresmian sanggar dan menyaksikan wayang kulit dengan empat dalang yang siap bergantian mbabar cerita secara estafet.

Dua dari sahabat itu adalah Sugeng Riyanto dan Heru Basuki yang sangat hobi melihat wayang. Sementara satu sahabat lagi, sangat memahami lokasi acara bahkan Samigaluh secara utuh. Sebab sahabat ini adalah “yang punya wilayah” pengemban amanah sebagai orang nomor satu di Kecamatan Samigaluh:  Camat Triyanto Raharjo.

Selepas sholat magrib, perjalanan sesungguhnya baru terasa. Dalam kondisi jalan gelap, berliku, nanjak dengan kemiringan yang ekstrem, dan sempit, Pak Camat Samigaluh mengemudikan mobilnya sendiri dengan lincahnya melewati satu demi satu kelokan. Kami mengikuti dalam jarak yang tidak terlalu dekat karena takut mobil tidak kuat nanjak atau papasan dengan mobil lain. Kami juga melewati jalan yang belum lama longsor yang menyebabkan ada korban jiwa.

Sampai puncak Gunung Kuncir keramahan luar biasa menyambut. Rasa berdebar saat melintasi track yang membuat adrenalin naik, tiba-tiba lenyap terusap kehangatan masyarakat desa lengkap dengan hangat dan lezatnya sukun goreng.

Selamat atas peresmian sanggar Mahening Budi. Mahening yang berasal dari kata Maha dan ening dibuatkan untuk mewujudkan arti ketentraman lahir dan batin. Melalui sanggar ini, saya yakin para penggagas ingin mewujudkan ketentraman bathin sekaligus dengan melestarikan budaya luhur negeri. Sukses untuk sanggar Mahening Budi.

Terimakasih untuk tiga sahabat yang mengantar dan menemani menikmati indahnya Gunung Kuncir, merdunya suluk sang dalang, walau kita tak sempat melihat kerlipnya bintang karena mendung menutupnya.(*)

About redaksi

Check Also

Menuju 16 Tahun Bakor PKP, Inilah Sejarah Ikabarata

Inilah Ikatan Keluarga Banaran Bantarjo (Ikabarata).  Salah satu paguyuban Kulon Progo yang memiliki anggota cukup …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *