Home / DENPUR / Pesona Jiwa Narasoma

Pesona Jiwa Narasoma

Prabu Salya menatap Baratayuda. Ia harus kembali dalam perenungan panjang, sebelum akhirnya masuk palagan sebagai senapati Kurawa, berperang melawan Pandawa. Ia bukan sedang cemas, dilema, atau takut kalah. Ia hanya sedang menguatkan pilihannya.

Bersama itu, ingatannya pada masa lampau timbul-tenggelam, menggoda perasaan. Ingatan tentang Begawan Bagaspati, mertuanya, ingatan kepada Dewi Madrim adik yang melahirkan Nakula-Sahadewa, dua bungsu Pandawa.

Salya ya Narasoma juga teringat saat Nakula dan Sadewa menangis di depannya. Menangis karena tidak mungkin melawan uwaknya sendiri di palagan Kurukasetra. Tapi kepada kedua keponakanya itu, ia telah merelakan kematiannya.

“Ngger anakku, jawab dengan tegas, bukankah poro kadang Pandawa ingin berjaya dalam Baratayuda?” Mendengar pertanyaan itu, Nakula dan Sadewa malah semakin tersedu dengan kepala menunduk sangat dalam.

“Kaluhuran dawuh dalem Uwa Prabu.” Sadewa yang menjawab dengan kalimat terpatah-patah oleh haru yang mendalam. Ia menjawab dengan suara yang sangat pelan, seperti tidak percaya pada kalimatnya.

“Kalau begitu, ikuti ucapanku,” Salya ikut menurunkan suaranya. Ada keharuan yang tiba-tiba menyentuh perasaannya. Di depan Nakula-Sadewa, anak Dewi Madrim yang adiknya itu, ia semakin yakin dengan keputusannya.

Lalu, Prabu Salya segera mengucapkan kalimat yang ditirukan Nakula-Sadewa, “Uwa Prabu, bila nanti uwa Prabu maju di medan Kurusetra, kami para Pandawa minta Uwa Prabu merelakan kemaenangan untuk kami.”

Setelah menirukan kalimat itu, tangisan pecah. Tidak hanya tangisan Nakula-Sadewa tapi juga tangisan Salya. Ia terbaru. Ia telah mengambil keputusan terbesar dalam hidup, menyerahkan kemenangannya sendiri kepada para Pandawa. Kemenangan yang mustahil bisa didapat Pandawa andai ia tidak merelakan diri.

Maka begitulah. Demi kebenaran. Demi Rakyat Astina yang sudah terbelah oleh Baratayuda, Prabu Salya menyerahkan nyawanya untuk menjadi tumbal perang. Ia juga telah mengambil keputusan besar lain: turun tahta, menyerahkan Negeri Mandaraka kepada Nakula-Sadewa.(*)

About redaksi

Check Also

Hari-hari Menanti Parikesit  

Baratayuda mendekat. Panas menjelang detik-detik terakhir sebelum perang besar itu usai.  Satu demi satu senapati …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *