Home / KEMAT / Pertapaan Kembang Lampir-8:

Pertapaan Kembang Lampir-8:

Ki Giring merinding. Terpana dalam diam. Ia tak menyangka, kepergiannya ke ladang, adalah cara Tuhan agar air kelapa yang berisi wahyu keraton itu, diminum oleh sahabatnya sendiri.

Sahabat sekaligus kerabatnya, Ki Ageng Pemanahan, yang memang lebih gentur tapane, lebih kuat bertirakat, sehingga dipilih sebagai peminum air kelapa tempat berdiam Gagak Emprit.

Ki Ageng Giring yang tak kunjung bangun dari melamun, teringat perintah Kanjeng Sunan Kalijaga. Perintah yang telah ia abaikan. Perintah  yang semestinya segera dilakukan yakni, meminum air degan tersebut. Ia memilih ke ladang, agar tubuhya lelah kemudian kehausan, sehingga mampu meneguk degan sak endekan.

Sesepuh masyarakat Sodo yang sesungguhnya juga sakti ini, tidak menyangka telah mengabaikan tanda-tanda alam. Ia masih sangat ingat, kelapa itu adalah buah dari pohon yang tumbuh secara ajaib. Saat itu, Njeng Sunan memberi kulit kelapa kering, yang oleh masyarakat setempat sering disebut sepet. Kanjeng Sunan Kali memintanya, menanam kulit kelapa mengering itu.

Benar-benar ajaib. Dari kulit kelapa tumbuh pohon kelapa. Dari kulit kelapa yang sudah kering, tumbuh pohon yang memberi buah keramat tempat bersemayam wahyu keraton. Tanda-tanda itulah yang luput dibaca. Juga, ketika kelapa ajaib itu sudah memberi buah, Ki Ageng Giring masih menunda untuk meminumnya.

Sunan Kalijaga hanya tersenyum melihat Ki Ageng Giring, tercengang, menyadari kesempatannya menjadi penurun raja-raja Jawa, telah sirna. Sebagai wali sakti, Kalijaga paham, muridnya dari Giring itu, memang bukan dipilih oleh takdir. Wahyu Gagak Emprit telah memilih muridnya dari Pajang; Pemanahan.

Terpaku dalam diam, Ki Ageng Giring segera menemukan ide. Ia ingin menawar kepada sehabatnya, agar anak cucunya bisa bergantian menjadi raja. Permintaan itu, tentu tidak masuk logika Pemanahan. Tapi dalam logika Giring, ia pantas ikut menikmati anugerah sebagai penurut wiji ratu, karena dialah yang menanam pohon kelapa itu. Dialah yang memetik kelapa yang tumbuh di tanahnya itu. Dialah yang juga diberi tahu Kanjeng Sunan Kalijaga bahwa di dalam air kelapa muda itu, bersarang Gagak Emprit. Hanya karena kalah berkah, ia gagal meminumnya.

Perdebatan panjang terjadi antara Giring dan Pemanahan. Tidak ketemu dalam kesesuaian. Juga saat Ki Ageng Giring menawar, minimal, ada keturunannya yang kelak, menyela menjadi raja. Mungkin pada generasi ke enam setelah mereka. Mendengar itu, Kanjeng Sunan Kalijaga mengangguk menyetujui. Hanya saja, Ki Ageng Pemanahan hanya mengulas senyuman kecil. “Kita lihat saja nanti Kakang Giring. Biarlah sejarah yang menentukan,” Ki Ageng Pemanahan pamit, kembali ke Menthaok.

Mulanya memang dari situ. Dari Kembang Lampir. Benar. Semua bermula dari Pertapaan Bang Lampir yang keramat. Di tempat inilah, Ki Ageng Pemanahan mendapatkan keberkahan yang amat besar, untuk menjadi penurun wiji ratu.

Masuk wilayah Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Kembang Lampir masyur sebagai pertapaan yang memancarkan pesona gaib. Sejak dulu hingga kini, ketika modernitas seolah menjadi segala-galanya.(*)

About redaksi

Check Also

Mengenal Dalang Kebumen-15:Ki Bambang Cahyono, Dalang yang Budayawan

Keberadaan dalang di wilayah Kabupaten Kebumen tersebar merata dan nyaris di setiap kecamatan ada.  Seakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *