Kabarno

Malam  bergerak, ketika Jogjakarta sedang diterangi lampu-lampu jalanan.  Dari pusat keramaian Malioboro, kaki dibawa ‘turun’, bahasa para penghuni jalanan legendaris itu, untuk

Oleh: Ki Bawang Dandangulo  dalang tanpa wayang Menjelang petang, saya baru terbangun, setelah tidur sangat terlambat. Tadi malam, saya memang lek-lekan, mendengar

Mlaku-mlaku nang  alun-alun Wates, jian renes. Sudaha sejak menjelang petang, penjaja mobil-mobilan warna warni, lampu yang mulai menerangi kota, terasa hidup. Juga,

Isuk-isuk wes rame. Sudah sejak sangat pagi, orang berdatangan. Yang laki-laki naik motor dengan dagangan munjung. Yang ibu-ibu muda, naik motor melenggang.