Home / KANGBARNO / Nderek Sungkowo awit Kondhuripun Ki Seno…

Nderek Sungkowo awit Kondhuripun Ki Seno…

Lapangan Nganjir di Dusun Nganjir, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo menjadi jejak panjang popularitas Ki Seno Nugroho. Saat itulah, ribuan pecinta wayang, menegaskan kekagumannya pada dalang kelahiran 23 Agustus 1972 ini.

Hari itu, tanggal 12 Juni 2019. Ki Seno diaturi rawuh ing Nganjir, oleh masyarakat pedukuhan Nganjir, untuk memeriahkan syawalan. Juga pahargyan cetak ulang buku Nami Kulo Sumarjono, biografi tokoh Nganjir yang menjabat sebagai Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan.

Lakon yang dimainkan adalah Parto Kromo, karena dua pekan sebelumnya, Pak Jono juga baru merayakan 25 tahun pernikahan.

Ki Seno Nugro memang dalang kawentar. Kondang sebagai dalang muda yang memiliki banyak  penggemar. Komunitas pecinta wayangannya yang diwadahi dalam Penggemar Wayang Ki Seno (PWKS) setia meramaikan pementasaannya. PWKS juga tersebar di semua kota di Jawa dan luar Jawa.

Bakat Seno Nugro adalah warisan para orangtuanya. Ia merupakan salah seorang putra dalang gaya Jogja, Ki Suparman. Atau lengkapnya, Ki Suparman Cermo Wiyoto. Sebagai trah dalang, Ki Seno bisa disebut dalang sejati, karena memang berasal leluhur para dalang.

Lihat saja urutan silsilahnya. Ki Suparman ialah trah Miliran atau trah Jayeng, karena merupakan putra Ki Cermo Bancak, yang populer sebagai dalang ternama sejak tahun 40an hingga menjelang 70an. Orangtua Ki Bancak juga seorang dalang kondang sekaligus abdi dalem Puro Pakualaman yang dikenal dengan sebutan Ki Jayeng.

Selain berputra Ki Suparman, dalang kondang Ki Cermo Bancak juga melahirkan Nyi Wasini yang menurunkan dalang-dalang top Jogjakarta, serta Ki Supardi. Menurut perkiraan (seperti umumnya orang zaman dulu, tanggal kelahirannya tidak tercatat dengan baik) Ki Suparman lahir di akhir tahun 1935.

Bagi pecinta wayang kulit, nama Ki Suparman sangat identik dengan pakeliran baru. Setidaknya, garapan gendingnya terdengar sangat berbeda. Ia juga sangat berani memasukan unsur-unsur musik dari luar karawatian. Itu pula yang kemudian diwarisi oleh Ki Seno Nugroho yang kemudian dikenal sebagai dalang Jogja yang tidak sungkan memasukan unsur-unsur kesenian dari daerah lain.

Selain bakat warisan dan belajar dari orangtuanya, Ki Seno  juga belajar pedalangan saat sekolah di SMKI Jogja. Dengan bekal garis darah serta gemblengan saat sekolah formal, pantas jika K Seno Nugroho tampil sebagai dalang laris. Sebelum pandemi, nyaris setiap malam, ia pentas. Jadwal manggungnya dalam satu bulan, selalu terisi penuh.

Seno pertama kali naik panggung, pada usia 16 tahun. Saat itu, tahun 1988, Seno menjadi dalang pada siang hari, sebelum malamnya Ki Supardi manggung. Ki Supardi adalah adik kandung Ki Suparman yang juga seorang dalang.

Saat itu, Ki Suparman yang sangat ingin menurunkan kemampuannya mendalang, sangat terharu melihat putranya memainkan wayang. Hari itu, ia menunda keberangkatan ke Pekalonan untuk ndalang, hanya karena ingin melihat Seno mayang.

Tapi begitulah. Di puncak popularitasnya sebagai dalang yang dicintai jutaan penggemar wayang, Ki Seno, tiba-tiba ditimbali sowan ayonaning Gusti. Tadi malam, 3 November 2020, dalang dengan segala talenta itu, menghembuskan nafas terakhir di usia 48 tahun. Sugeng Tindhak, nderek sungkowo awit kodhuripun Pak Seno.(kib)

About redaksi

Check Also

Enaknya Nonton Badminton Sahabat Ngopi II di Rumah Sambil Ngemil Gebleg

Hari Sabtu dan Minggu nanti, perantau Kulon Progo punya hajat. Turnamen bulutangkis Sahabat Ngopi II. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *