Home / KANGBARNO / Ndalu Meniko, Ki Seno Nugroho Mbabar Wahyu Kamulyan  

Ndalu Meniko, Ki Seno Nugroho Mbabar Wahyu Kamulyan  

Malem Ahad Wage, 13 April 2019, Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ngawontenaken wayangan sedalu natas. Mapan wonten ing Anjungan Jogja Taman Mini Indonesia Indah, dalang kondang Ki Seno Nugroho bade mbabar lakon Wahyu Kamulyan.

Ini adalah pementasan rutin yang digelar kantor Bandan Penghubung Daerah, setiap bulan dengan menampilkan seniman-seniman dari Jogjakarta. Akhir pekan lalu, di tempat yang sama, Pemprov DIY juga mengadakan pementasan kesenian daerah yang diikuti empat kabupaten dan satu kotamadya di lingkungan Pemprov DIY.

Dan, malam ini, Ki Seno Nugro yang dikenal sebagai dalang muda dengan penggemar melimpah, mendapat giliran tampil. Ki Seno merupakan idola baru bagi penggemar wayang kulit gagrah Ngayogyokarto. Namun demikian, di kalangan dalang, putra dari Ki Suparman itu,  memiliki kemampuan mendalang dengan gaya Jogja dan Solo secara baik.

Ki Seno, lahir 23 Agustus 1972, salah seorang putra almarhum Ki Suparman Cermo Wiyoto yang dikenal sebagai dalang sepuh dari tlatah Bantul. Secara trah, Ki Seno adalah dalang sejati. Itu bisa dirunut dari urut-urutan nasab Ki Suparman yang memang trah dalang.

Sebagai Trah Miliran atau trah Jayeng, Ki Suparrman merupakan putra Ki Cermo Bancak, yang populer sebagai dalang ternama sejak tahun 40an hingga menjelang 70an. Orangtua Ki Bancak juga seorang dalang kondang sekaligus abdi dalem Puro Pakualaman yang dikenal dengan sebutan Ki Jayeng.

Selain berputra Ki Suparman, dalang kondang Ki Cermo Bancak juga melahirkan Nyi Wasini yang menurunkan dalang-dalang top Jogjakarta, serta Ki Supardi. Menurut perkiraan (seperti umumnya orang zaman dulu, tanggal kelahirannya tidak tercatat dengan baik) Ki Suparman lahir di akhir tahun 1935.

Bagi pecinta wayang kulit, nama Ki Suparman sangat identik dengan pakeliran baru. Setidaknya, garapan gending terdengar sangat berbeda. Ia juga sangat berani memasukan unsur-unsur musik dari luar karawatian. Itu pula yang kemudian diwarisi oleh Ki Seno Nugroho sebagai dalang Jogja yang tidak sungkan memasukan unsur-unsur kesenian dari daerah lain.

Ki Seno merupakan salah seorang putra Ki Suparman yang tampil sebagai dalang kondang. Lulusan SMKI Jogja ini, kini menjadi dalang yang laris merima tanggapan. Setiap bulan, lebih dari 15 kali, ia pentas di berbagai daerah di pulau Jawa.

Seno pertama kali naik panggung, pada usia 16 tahun. Saat itu, tahun 1988, Seno menjadi dalang pada siang hari, sebelum malamnya ki Supardi manggung. Ki Supardi adalah adik kandung Ki Suparman yang juga menjadi dalang.

Saat itu, Ki Suparman yang sangat ingin menurunkan kemampuannya mendalang, sangat terharu melihat putranya memainkan wayang. Hari itu, ia menunda keberangkatan ke Pekalonan untuk ndalang, hanya karena ingin melihat Seno mayang.(kib)

About redaksi

Check Also

KPDJ Ikut Pelatihan & Pemberdayaan UMKM Banhubda DIY

Sebanyak 100an warga Jogja di Jabodetabek, dari pagi hingga siang ini, dikumpulkan di Anjungan Daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *