Home / KANGBARNO / Naliko Jago-jago Tuwo Kulon Progo Turun Gunung

Naliko Jago-jago Tuwo Kulon Progo Turun Gunung

Kathah jago-jago tuwo Kulon Progo turun gunung. Para pemain bulutangkis kelas kabupaten yang meski sudah veteran, tetap tampil memukau. Mereka seperti berparade, ujuk aksi dalam turnamen terbatas Sahabat Ngopi. Dan, inilah aksi ngedap-edapi naliko jago-jago tuwo Kulon Progo turun gunung.

Perhelatan Sahabat Ngopi-NKS Open 2020, yang digelar Minggu-Senin 16-17 Agustus 2020, memang menjadi momentum paling menyenangkan bagi warga perantau Kulon Progo di Jabodetabek dan Banten. Inilah turnamen bulutangkis dengan perlakuan berbeda, karena sangat ketat menerapkan protocol Kesehatan.

“Memang tidak seperti biasanya. Jadi hanya seperti latihan rutin saja, tanpa penonton. Padahal yang mau ikut melihat laga-laga keras antar pemain, sangat banyak. Tapi kita larang. Pemain juga tidak boleh membawa supporter,” kata Mbah Alimonso, Penggagas Sahabat Ngopi-NKS Open 2020.

Benar. Banyak laga panas terjadi. Sangat menarik sebagai tontonan, karena banyak veteran bulutangkis Kulon Progo yang ikut turun ke lapangan. Dan, merekalah yang merajai pertandingan, meski juara pertama tetap diambil oleh pemain muda: Ade Rasban yang berpasangan dengan Chipit Priyoatmojo.

Selain pasangan ini, juara dua, tiga dan empat, menjadi milik pemain veteran. Atau setidaknya, generasi yang jauh lebih senior di banding Ade-Chipit. Juara kedua misalnya, Arie Pras adalah pemain Tangguh yang banyak pengalaman di masa muda. Ia berpasangan dengan Teguh Antarikso yang untungnya lebih muda jadi mampu mengimbangi Ade-Chipit yang memiliki stamina sangat kuat.

Juara ketiga, pasangan Daryo dan Sutopo, rasanya adalah pasangan yang paling senior. Mereka hanya kalah stamina, karena usia tua. Subarno dan Indi Astono yang lebih muda, bahkan masih mampu mereka kalahkan sehingga harus puas di posisi keempat.

Pemain-pemain veteran Kulon Progo yang lain, masih cukup banyak. Mereka tersingkir lebih dahulu, bukan karena kemampuannya yang tidak bagus atau stamina yang jauh melorot. Para pemain tangguh di masa muda itu, kalah hanya karena pasangannya yang benar-benar tidak mampu memberi kontribusi pada permainan.

Ada Sudalyono, Indiarto, Catur, atau Izharmudin. Mereka bukan hanya pecinta bulutangkis, tapi masih rutin berlatih, sehingga kemampuannya tetap teruji. Teknik permainan juga sangat bagus, walau berguguran pada babak pertama dan kedua.

Sementara itu, ada partai yang menyita perhatian pada babak pertama yang menampilkan empat pemain yang luar biasa. Mereka adalah Sumarjono, Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan yang berpasangan dengan Sutarto Adi Sumardjo yang merupakan seorang banker.

Pasangan ini, melawan ketangguhan Mbah Busro dan Mbah Yatno Alimonsa. Keduanya tokoh-tokoh senior KPDJ. Mbah Busro yang menjadi Ketua Panitia Sahabat Ngopi-NKS Open 2020, adalah menjadi pemain paling senior.

Meski sangat senior, Mbah Busro merupakan atlet yang pilih tanding. Tidak mudah dikalahkan dengan teknik permainan yang juga berkelas. Berpasangan dengan Mbah Alimonsa, permainan Mbah Busro seperti sangat hidup. Ngedap-edapi.

Mbah Ali yang setiap akhir pekan biasa ikut konco-konco KPDJ latihan rutin, juga bukan pemain sembarangan. Selain memiliki pukulan kuat, agitasi di lapangan juga tinggi. Kelemahan Mbah Ali, seperti umumnya pemain veteran, adalah stamina yang berkurang. Mudah ngos walau tetap jos.

Sebuah foto sangat ikonik hasil jepretan Heri Rudi Atmoko, menunjukan trengginasnya Mbah Alimonsa saat melakukan smes keras. Meski usia sudah mendekati setengah abad, lonjatannya masih sangat tinggi. Dalam foto tersebut, Mbah Ali bagai terbang, melayang menyambut shuttlecock, lalu mengempaskannya dengan pukulan mematikan.

Sumarjono dan Sutarto rupanya juga bukan lawan biasa-biasa saja. Berkali-kali smes bertubi-tubi Mbah Ali, masih mampu dikembalikan.

Selain mampu mengimbangi permainan cantik Mbah Busro dan Mbah Ali, pasangan ini jauh lebih kompak. Pak Jono, walau sudah tidak muda lagi, tapi adalah olahragawan. Setiap akhir pekan adalah jaddwal berolahraga. Pada hari Sabtu, diisi dengan pingpong, sedang hari Ahad, jadwalnya berlatih bulutangkis.

“Lawannya tanggguh. Mbah Busro dan Mbah Ali memang biasa latihan. Walaupun kami menang, tapi beliau-beliau bukan lawan ringan,” kata Pak Jono usai mengandaskan perlawanan Mbah Ali dan Mbah Busro.

Sahabat Ngopi-NKS Open 2020, adalah event olahraga pertama yang digelar oleh Komunitas Sahabat Ngopi. Inilah forum diskusi warga Kulon Progo yang memiliki potensi mengumpulkan perantau yang selama ini, banyak tak tertampung dalam paguyuban.

Berawal dari ikhtiar menyatukan perantau yang terbelah, Sahabat Ngopi diinisiasi oleh tujuh wong Kulon Progo yang kemudian menyebut dirinya Waongpitu. Mereka adalah Mbah Yatno Alimonsa, Sutrisno Yulianto, Nursamsir, Irwan, Sutomo, Mad Rais, serta Heri Rudi Atmoko yang merupakan Wakil Bupati KPDJ.

Sahabat Ngopi-NKS 2020 adalah event pertama yang digelar dengan sangat hati-hati, karena masih berada di tengah pandemic Corona. Perhelatan ini bekerjasama dengan Sedulur NKS yang merupakan komunitas pembaca buku yang disatukan oleh buku Nami Kulo Sumarjono (NKS), biografi Sumarjono yang asli Nganjir, Hargorejo, Kokap, Kulon Progo.

Setelah gelaran ini, masih banyak agenda olahraga yang disiapkan oleh Sahabat Ngopi. “Dalam waktu dekat, kita gelar turnamen yang skalanya lebih luas, dengan kelas professional. Jadi bisa menjaring pemain-pemain bagus dari Kulon Progo,” tutur Mbah Ali yang memang senang olahraga.

Selain Sahabat Ngopi-NKS Open 2020, agenda yang sudah disiapkan sangat banyak karena mereka yang tergabung dalam komunitas ini, merupakan para kreator Kulon Progo. Setiap akhir pekan, sudah sejak bulan lalu, Sahabat Ngopi juga menggelar diskusi virtual bertajuk Ngopi, Ngobrolin Inspirasi.

Forum ini, menghadirkan tokoh-tokoh Kulon Progo yang memiliki komptensi di bidangnya masing-masing. Ada tokoh perantau, ada pula tokoh lokal Kulon Progo. (*)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *