Home / KANGBARNO / MENTIET…

MENTIET…

Barangkali pernah mendengar istilah Ketoprak Ringkes, Wayang Ringkes atau Campursari Ringkes? Walau beda jenis tampilan namun sebetulnya Pentas Seni Ringkes di Kebumen sudah ada sejak dulu kala.

Pandemi Covid 19 memang banyak berpengaruh terhadap perilkau kegiatan seni di bumi Nusantara ini. Tidak terkecuali di Kebumen.

Inovasi dan kreasi baru dimunculkan, untuk memenuhi tantangan jaman dan keadaan yang serba terbatas.

 

Maka munculah banyak kegiatan seni dan pertunjukan yang disederhanakan dan akhir akhir ini viral dengan sebutan Ringkes.

MENTIET atau biasa disebut Jemblung adalah bentuk pertunjukan sejenis sandiwara yang dibawakan dengan Ringkes, bahkan saking ringkesnya hingga tidak diperlukan alat musik apapun, cukup musik pengiring jalannya cerita menggunakan mulut masing-masing pemain.

Menthiet dimainkan oleh 3 atau 4 orang dan salah satunya pemain wanita yang berperan ganda selain sebagai pemeran juga sebagai waranggana (sinden).

Diakukan dengan cara duduk saling berhadapan dengan menghadapkan berbagai sajian makanan dan minuman yang ada kalanya berfungsi sebagai pendukung jalannya cerita.

Dalam pementasannya Menthiet memiliki alur cerita (lakon) yang dimainkan dalam jeda waktu sekitar 5 sampai 6 Jam. Adapun cerita yang disuguhkan bisa diambil dari lakon ketoprak, lakon wayang, lakon Panji, babad, hikayat atau cerita rakyat yang berkembang.

Menthiet merupakan jenis kesenian yang sangat merakyat dan dapat masuk ke berbagai golongan. Cara penampilannya pun sangat sederhana. Ketika dialog mereka akan memerankan tokoh yang diperankan dengan baik. Dan pada saat adegan jalan atau perang atau nyanyian mereka secara kompak akan memainkan suara gamelan dari mulutnya. Kelucuan akan timbul saat terjadi kesalahan musik yang tidak disengaja. Tapi semua dapat dinikmati dan membuat hati gembira penontonya.

Adapun kata Jemblung adalah istilah yang diberian oleh bangsa Compeni Belanda pada saat itu, yang menyebut menthiet sebagai seni Gemblung ( berbicara dan dijawab bersautan sendiri). Namun karena ejaan huruf Belanda G dibaca J, kata Gemblung menjadi Jemblung.

Menthiet di Kebumen pada saat era sekarang ini masih ada namun sudah sangat terbatas. Semoga dalam kesepannya Pemerintah Kabupaten Kebumen dapat menghidupkan kembali jenis kesenian ini, karena Menthiet adalah asli jenis kesenian di wilayah kabupaten Kebumen.

Kebumen, 13 September 2021

About redaksi

Check Also

Haryanta, SH: Calon Lurah Banaran yang Berpengalaman & Didukung Trah Berpengaruh

Pemilihan Lurah Banaran, segera digelar. Akan berlangsung pada Minggu, 24 Oktober 2021, Pemilihan Lurah (Pilur) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *