Home / KANGBARNO / Meniko Tulodo Gesang Mbah Mernik, Simbah-simbah Saking Banyunganti Jatimulyo

Meniko Tulodo Gesang Mbah Mernik, Simbah-simbah Saking Banyunganti Jatimulyo

Meniko lho Mbah Mernik. Sampun sepuh sanget. Lha wong yoswanipun sampun langkung saking ongko 85 tahun. Ananing, simbah tapsih prigel tur trengginas. Saben nditen tapsih mlampah udokoro 2 kilo saking dalemipun.

Mbah Mernik yang berusia lebih dari 85 tahun adalah Warga Banyunganti, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Meski sudah renta, simbah masih lincah. Benar. Setiap hari jalan kaki dua kilo dari rumah ke pekarangan meniti hidup dengan memungut daun cengkeh yang sudah jatuh atau kering.

“Lhah kesupen Mas,” jawab simbah sewaktu ditanya Kabarno.com tentang umurnya. Ia memang sudah lupa dengan usianya sendiri. Sebab, hidup dijalani tanpa pernah menghitung apapun, termasuk menghitung usia panjang yang diberikan Tuhan.

“Kulo onten perang Londo pun ngerti, kulo njih namung krungu nek jedar-jedor, kepireng suwantene bedhil. Ndilalah wekdal semanten kulo njih namung onten griyo  mawon mboten dhong  pereng nuku menopo, ” cerita Mbah Mernik perihal masa lalu.

Mbah Mernik adalah ibu dengan dua anak. Ia kini adalah enam cucu serta mbah buyut bagi enam cicitnya. Tapi soal hidup, ia tidak ingin bergantung kepada anak-cucu-cicit. Ia tetap ingin bekerja meski pekerjaannya hanya memungut kleyang atau daun cengkeh yang sudah jatuh.

Dan pagi-pagi, Mbah Mernik berangkat ke pekarangan yang jaraknya kurang lebih dua kilo. Dengan kondisi jalan bertebing dan naik turun, ia mencapai pekarangannya di pedukuhan Gunung Kelir setelah agak siang. Tanpa beristirahat, Mbah Mernik langsung berkarya: ngejumi kleyang.

Pekerjaan ngejumi kleyang itu, sudah dilakoni Mbah Mernik sejak puluhan tahun lalu. Setiap hari kleyang dikumpulkan, kalau sudah terkumpul beberapa karung, terus dijual. Kleyang adalah bahan baku lengo cengkeh.

Dalam satu minggu, Mbah Mernik bisa menjual rata-rata dua hingga empat kantong yang beratnya kurang lebih 50 Kg. Dengan jumlah itu, setiap kilo simbah mendapat Rp. 2.000 atau kadang-kadang kalau harga sedang bagus, Rp. 3000.

Satu bulan Mbah Mernik dapat menabung dan uang kalau sudah terkumpul dibagi bagikan ke anak cucu hingga cicit. “Wong niku sik penting usaha mas, rejeki sik maringi sik kuoso,” tutur Mbah Mernik sambil menawarkan air putih kepada Kabarno.com di hutan bawah Gunung Kelir. (yad)

About redaksi

Check Also

Sugeng Tindhak Bopo MT  MT Arifin

Rabu, 9 September 2020, menjadi hari berduga bagi para penggiat budaya. Sebab hari itu, budayawan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *